Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #5

Bab 5. Jumpa Untuk Berpisah

Stabat, Kesultanan Langkat, 1938

Irwansyah mengayuh sepedanya menyusuri jalan tanah yang sempit menuju rumah Mbok Yem.

Rumah-rumah kecil berdiri rapat di kiri-kanan jalan. Sebagian besar penghuninya merupakan keluarga buruh perkebunan yang telah turun-temurun menetap di sana. Kebanyakan berasal dari Pulau Jawa, sementara sebagian lainnya keturunan Tionghoa dan India.

Rumah-rumah kecil berdiri rapat di kiri-kanan jalan. Dindingnya terbuat dari anyaman serutan kayu yang mulai renggang di beberapa bagian. Atap pelepah rumbia tampak menghitam dimakan usia, sementara lantai tanah di halaman berubah becek setiap kali hujan turun. 

"Wan, ora mampir?" teriak seorang ibu yang sedang mencari kutu di rambut tetangganya di balai depan rumah.

"Nanti! Aku kudu neng Mbok Yem sek!" sahut Irwansyah tanpa menghentikan kayuhannya.

"Janji, ya! Sebelum pulang ambil rempeyek kacang!"

"Insya Allah. Nuwun sewu, Mbok!"

Irwansyah terus melaju.

Begitu melewati sebuah jembatan batang kayu, beberapa bocah bertelanjang dada yang sedang bermain di parit segera berlarian mengejar sepedanya.

"Ati-ati! Ojo ngikuti Abang. Nanti kalian jatuh!" serunya sambil memperlambat laju sepeda.

Namun, peringatannya justru disambut gelak tawa. Anak-anak itu terus berlari di belakangnya.

"Heh! Pulang! Pulang!" Seorang lelaki tua yang berjalan terpincang-pincang sambil memikul cangkul di bahunya menghardik mereka.

"Mbah pincang! Mbah pincang!" teriak para bocah usil.

"Hus! Ndak sopan!" tegur Irwansyah sambil menghentikan sepedanya.

Lelaki tua itu pura-pura membungkuk hendak mengambil batu.

Anak-anak pun menjerit lalu berhamburan kabur, tetapi tetap sempat melemparkan ejekan sambil tertawa.

Irwansyah dan lelaki tua itu ikut tertawa.

Ia menyandarkan sepedanya di tepi jalan.

"Waduh, sayang sekali. Di boncengan ada beras buat Mbok Yem. Kalau kosong, Si Mbah bisa ikut kubonceng."

"Halah... rumahku ora jauh," jawab lelaki tua itu sambil menurunkan cangkulnya.

Irwansyah meraih tangan keriput itu lalu menciumnya.

"Piye kabare, Mbah?"

"Apik, Wan. Kowe piye?"

"Alhamdulillah sehat. Dapur Si Mbah wis ngebul?"

Lelaki tua itu mengeluarkan selembar kulit jagung dari saku celana gombrongnya. Dengan cekatan ia melintingnya menjadi rokok, lalu menyalakannya menggunakan geretan.

Setelah mengembuskan asap tipis, ia terkekeh.

"Bukan cuma ngebul. Asepé wis kaya gunung meletus."

Mereka kembali tertawa bersama.

"Alhamdulillah. Tanah yang kamu belikan buat Si Mbah sekarang rajin berbuah. Mau Si Mbah bawain apa? Rambutan, pisang, nangka, sayuran, singkong? Biar Si Mbah masukin ke karung."

Irwansyah menggeleng sambil tersenyum. "Ndak usah, Mbah. Aku malah jadi sungkan. Tiap ke sini selalu saja semua orang ingin memberiku oleh-oleh."

"Halah." Lelaki tua itu kembali mengisap rokoknya. "Kamunya memang baik. Ndak sombong, ndak galak macam orang-orang kita yang kerja di kantor Londo. Wajar kalau semua orang sayang sama kamu."

Irwansyah hanya tersenyum kecil.

"Yo wis, Mbah. Aku ndak tenang kalau belum mampir ke Mbok Yem."

"Padahal Si Mbah masih kangen. Sudah lama kamu ndak ke sini." Lelaki tua itu menepuk bahu Irwansyah. "Ya sudah, sana."

Irwansyah kembali mencium tangan lelaki tua itu sebelum menaiki sepedanya dan melanjutkan perjalanan.

***


Saat tiba di depan rumah Mbok Yem, Ragil tampak sedang menyapu halaman.

“Eh, Bang Irwan!” sapa Ragil, anak bungsu Mbok Yem.

“Assalamualaikum. Mbok Yem ono neng omah, Gil?” tanya Irwansyah sambil menurunkan karung beras dari boncengan sepedanya.

“Waalaikumsalam.” Ragil mencium tangan Irwansyah.

“Ono kok, Bang. Ayo masuk. Mbok! Bang Irwan teko!”

Irwansyah memikul karung beras itu, lalu melangkah masuk.

“Oalah, panjang umur.” Mbok Yem tersenyum lebar. “Barusan Mbok lagi ngomongin kamu ke Ragil. Lha kok yo, Abangmu belum mampir sebelum berangkat ke negarane wong Londo. Kepiye kabare keluargane Tuan Rasyid? Apik?”

Irwansyah meletakkan karung beras, lalu mencium tangan dan pipi Mbok Yem.

“Alhamdulillah, Entu sekeluarga sehat. O, ya, Mbok, seperti biasa aku nitip duit buat Si Mbok dan warga kampung kene.”

Ia menyerahkan sebuah amplop.

“Barep sama Budi neng endi?”

“Wis berangkat nguli di kebun.” Mbok Yem menerima amplop itu dengan kedua tangan. “Matur nuwun yo, Wan. Titip salam buat keluargane Tuan Rasyid.”

“Njih, Mbok.”

Ragil menghampiri. “Bang Irwan mau minum apa?”

“Ojo ditanya, Gil.” Mbok Yem tertawa kecil. “Abangmu doyane ngopi. Eh, Wan, mangan nang kene, yo. Mbok masak sayur asem, ikan asin jambal, karo sambal terasi.”

“Wih... uenak tenan iki.”

Irwansyah mengangkat tudung saji, menghirup aromanya sejenak, lalu duduk di meja makan.

Mbok Yem menyendokkan nasi dari bakul ke piring Irwansyah sebelum ikut duduk di sampingnya.

“Mangan sing akeh, Wan.”

“Njih, Mbok.”

Sementara air untuk kopi dipanaskan, Ragil duduk sambil memperhatikan wajah Irwansyah.

“Bang Irwan ini sebenarnya saudara kita yang bagaimana, sih, Mbok?”

“Lha, kamu ora ngerti tho?”

“Ndak. Wong ndak mirip.”

Mbok Yem tertawa. “Bapa'e Bang Irwan orang Melayu asli. Mbok'e Bang Irwan itu sepupuku, yo pasti wong Jowo.”

“Lha kok hidunge mancung? Kulite juga ora ireng?”

“Halah, lupa. Mbok'e Bang Irwan juga campuran, ndak kaya kita, Jowo tulen. Bapaknya dari pihak Mbok'e memang orang Jawa, tapi ibunya masih ada turunan Cino sama Arab. Mungkin hidungnya ngambil sedikit Arab, kulitnya ngambil sedikit Cino.”

“Mumet aku.”

Lihat selengkapnya