Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #6

Bab 6. Merantau ke Negeri Orang

Leiden, Netherlands, 1939

Setahun telah berlalu sejak Irwansyah menginjakkan kaki di Leiden. Selama itu pula ia menyewa sebuah kamar di rumah milik keluarga Belanda yang telah lama menjadi tempat tinggal para mahasiswa asal Hindia Belanda.

Rumah-rumah di sana berjajar rapat dan hampir seragam. rata-rata dibuat tiga lantai, memiliki dinding bata cokelat tua, jendela-jendela tinggi dengan tirai tipis, dan dinaungi atap pelana yang curam. Tidak ada halaman dan pagar, posisinya langsung menghadap kanal. 

Cara tercepat Irwansyah mengenali rumah indekosnya, justru dengan menghafal deretan sepeda yang berjejal di depan pintu.

Saat malam tiba, cahaya lampu mengalir keluar dari jendela-jendela besar. Bagi Irwansyah, rumah-rumah di Belanda seolah tak keberatan membiarkan dunia mengintip kehidupan di dalamnya.

Menjelang malam, aroma kentang rebus dan sup kacang memenuhi rumah. Dari ruang makan terdengar suara kursi bergeser, gelas beradu, lalu perdebatan panjang yang hampir selalu berakhir larut malam. Kadang mereka memperdebatkan sosialisme, kadang kapitalisme, kadang kemerdekaan Indonesia, dan belakangan semakin sering tentang kemungkinan perang besar di Eropa.

Di rumah indekosnya, Irwansyah lebih sering mengurung diri di kamar. Malam-malaminya dihabiskan bersama pena, mesin ketik, serta buku-buku yang berserakan di atas ranjang dan lantai. Dia memilih menjaga jarak. Tekadnya sederhana: menyelesaikan kuliah secepat mungkin, lalu pulang ke tanah air.

Karena jarang bergaul, orang-orang yang benar-benar dekat dengannya dapat dihitung dengan jari.

Yang pertama adalah Edward, seorang dosen filsafat berkebangsaan Inggris. Bersamanya, Irwansyah menghabiskan banyak waktu menjelajahi perpustakaan Universiteit Leiden, salah satu perpustakaan akademik paling kaya di Eropa.

Teman dekat berikutnya adalah Jack Lee, seorang wartawan berdarah Tionghoa yang bekerja untuk The New York Times. Dari Lee, Irwansyah mengikuti perkembangan dunia yang berubah semakin cepat. 

Lee menguasai berbagai bahasa asing dan dengan sabar mengajarinya dasar-dasar bahasa Jerman, serta Jepang. Menurut Lee, bahasa adalah pintu untuk memahami cara berpikir suatu bangsa. 

Selain mereka, Amin dan Salim—dua penghuni indekos asal Hindia Belanda—perlahan menjadi teman yang paling sering mengetuk pintu kamar Irwansyah hanya untuk mengobrol hingga larut malam. 

Sore itu, jauh sebelum matahari tenggelam, setelah kegiatan belajar di kampusnya selesai, Irwansyah sengaja memperlambat langkah untuk menikmati segala hal yang selama ini luput dari perhatiannya.

Dalam khayalnya, lorong-lorong itu seolah kembali dipenuhi orang-orang dari abad-abad silam yang berjalan dengan mantel panjang dan topi tinggi. 

Di sinilah, pikir Irwansyah, begitu banyak gagasan besar pernah dilahirkan. Lorong-lorong kampus ini pernah dilalui René Descartes, Christiaan Huygens, Hugo Grotius, dan banyak pemikir besar lainnya.

Irwansyah telah berada di luar kampus, tetapi dia masih memandangi bangunan tua yang berdiri anggun dan senada dengan gaya arsitektur Leiden. Bangunan-bangunan tua itu berdiri tenang, seakan tak terusik oleh pergantian zaman.

Biasanya, selepas kuliah Irwansyah langsung pulang ke rumah indekosnya. Namun, Sabtu itu terasa berbeda. Ia membiarkan langkahnya mengikuti arah angin menyusuri jalan-jalan yang tersusun dari batu-batu.

Irwansyah baru menyadari bahwa atmosfer dari kampus terasa begitu kuat mempengaruhi suasana kota hingga Leiden tampak seperti kota universitas. Seorang profesor tua mengayuh sepeda sambil menjepit setumpuk buku di rak belakang sudah jadi hal biasa, begitu pula percakapan akademis di kedai-kedai kopi. Suasana di sini pun sangat tenang, bukan kota yang penuh hiruk-pikuk kendaraan bermesin.

Tiba-tiba nama-nama tokoh-tokoh besar muncul lagi di benak Irwansyah.

Jauh sebelum dirinya tiba, sejumlah tokoh pergerakan Indonesia pernah menimba ilmu di sini, di antaranya Sutan Sjahrir, Ali Sastroamidjojo, dan Soepomo.

Tak heran jika nama Perhimpunan Indonesia begitu sering disebut di kalangan mahasiswa Hindia Belanda. Bagi mereka, Leiden bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan juga tempat belajar mencintai tanah air dari kejauhan. Kini ia merasa Leiden lebih dari kota universitas, yaitu tempat berbagai gagasan saling bertemu.

Astaga… Keinginanku agar cepat pulang membuatku melewatkan begitu saja pengalaman yang belum tentu bisa terulang, sesalnya.

Ia duduk di sebuah bangku kayu menghadap kanal. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan pena dan beberapa lembar kertas, lalu menulis.

Leiden,

Musim gugur telah mengubah Leiden menjadi lukisan yang hidup. Daun-daun mapel dan kastanye berguguran, mewarnai jalan dengan semburat jingga, merah tua, dan kuning keemasan. Sesekali embusan angin menerbangkannya hingga berputar-putar di udara sebelum jatuh perlahan ke permukaan kanal.

Dentang lonceng gereja terdengar dari kejauhan. Suara itu berpadu dengan dering sepeda yang melintas di jalan-jalan sempit, desir air kanal yang tenang, serta langkah kaki para pejalan yang menikmati sore tanpa tergesa.

Di sepanjang kanal, rumah-rumah tua berdiri rapat dengan fasad sempit dan jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya matahari senja. Perahu-perahu kecil bergerak perlahan di bawah lengkungan jembatan batu yang telah bertahan melewati berabad-abad musim. Leiden terasa seperti kota yang menolak menjadi tua.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di negeri yang jauh ini, tulisannya bukan tentang laporan, catatan kuliah, ataupun pemikiran politik.

Irwansyah sempat mengunjungi daerah-daerah lain di Belanda. Ia menyaksikan negeri yang berhasil merebut daratan dari laut. Kanal-kanal panjang membelah kota dan desa. Bendungan-bendungan raksasa menjaga air agar tetap pada tempatnya. Di kejauhan, kincir-kincir angin berputar perlahan seolah menjadi penjaga negeri yang tak pernah lelah.

Ia juga melihat padang rumput hijau tanpa batas, sapi-sapi Friesian yang merumput tenang, desa-desa kecil dengan rumah beratap curam, bunga-bunga yang terbentang bagai hamparan permadani warna-warni, hingga ladang tulip yang membentang sejauh mata memandang di bawah langit kelabu Belanda yang terasa jauh lebih rendah.

Namun sore itu, hal sederhana yang biasa mengisi kesehariannya malah membuatnya ingin menulis tentang suatu kota dan mengirimnya ke Farisya.

Kuharap surat kali ini bisa membuatnya seolah sedang besamaku di sini.

***


Tok! Tok! Tok!

“Masuk saja, Lim, Min!” sahut Irwansyah tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya. Ia masih setengah berbaring di atas ranjang.

Salim mendorong pintu hingga terbuka.

“Dari mana kau tahu ini kami?”

Ia dan Amin masuk sambil menyeringai.

“Siapa lagi yang rajin mengganggu orang selarut ini selain kalian?” jawab Irwansyah datar.

Salim hanya terkekeh. Ia melepas jas, menggantungkannya di balik pintu, lalu berdiri di depan cermin. Jemarinya sibuk merapikan rambut yang licin mengilap oleh pomade.

“Heran aku sama kau, Bung.” Ia melirik Irwansyah melalui pantulan cermin. “Betah benar mengurung diri di kamar. Padahal di pesta tadi ada beberapa gadis Belanda yang mencarimu.”

“Syukurlah kau tidak datang, Wan,” sela Amin sambil menjatuhkan tubuhnya ke kursi kayu. “Buat apa ikut pesta dansa kaum borjuis? Senyum ke sana, angkat gelas ke sini. Semua cuma basa-basi demi mencari pasangan atau kenalan yang menguntungkan.” Amin mengembuskan napas. “Buktinya kami malah datang ke kamarmu.”

Salim tertawa kecil.

“Memang kami gagal membawa pulang gadis mabuk.” Ia mengangkat bahu, lalu melemparkan sebuah kartu nama ke atas meja. “Tapi aku pulang membawa calon rekan bisnis. Seorang pengusaha sangat kaya dari Inggris menawarkan kerja sama. Namanya, Arthur Blackwood.”

Ia menoleh kepada Irwansyah.

“Kalau kau sesekali mau datang ke acara seperti itu, Bung Irwan, kau juga bisa berkenalan dengan anak-anak orang berpengaruh di Belanda.”

Irwansyah hanya melirik kartu nama itu sekilas sebelum kembali tenggelam dalam bukunya.

Amin mengeluarkan sebatang cerutu dari saku jas. “Kau sedang mengajari ikan berenang, Lim.” Ia memotong ujung cerutu dengan tenang. “Irwan justru sering didatangi anak-anak orang berpengaruh tanpa perlu ikut berdansa seperti kau.”

Salim mengeluarkan korek api dan menyulut cerutu di bibir Amin. “Ya, memang begitu.” Ia tersenyum. “Kutu buku biasanya mencari sesama kutu buku.”

Ia kemudian mengambil buku dari tangan Irwansyah.

Alisnya terangkat. “Karl Marx?” Ia membalik sampulnya sambil terkekeh. “Oh... jadi Bung Irwan sudah mulai bergeser ke kiri?”

Buku itu berpindah ke tangan Amin.

Ia membaca judulnya pelan. “Differenz der demokritischen und epikureischen Naturphilosophie...” Bibirnya membentuk senyum puas. “Sudah kuduga. Orang-orang yang benar-benar berpikir akhirnya akan bertemu juga dengan gagasan yang membela kaum tertindas.”

Salim mendengus. “Atau bertemu alasan baru untuk marah kepada semua orang?” Ia tertawa kecil. “Lihat saja ISDV. Gara-gara mereka bikin keributan, ruang gerak kaum pergerakan di Hindia malah makin dipersempit Belanda.”

“Itu namanya revolusi, Bung.” Amin mengembuskan asap cerutu tipis-tipis. “Memangnya kau? Kulitmu gelap, tapi dandananmu sudah seperti orang Eropa. Ingin dianggap bagian dari kaum kapitalis?”

Salim kembali mematut diri di depan cermin. “Ah, kulitku tak segelap itu.” Ia tersenyum sambil menggeser kursi Amin mendekati cermin. “Sekarang kau yang berkaca.”

Amin menurut sambil mengernyit.

“Lihat wajahmu.” Salim menahan tawa. “Masam terus. Mirip orang Eropa Timur yang baru kehilangan negara.”

“Biar dibilang bagian dari kaum komunis?” balas Salim.

“Tepat sekali,” sahut Amin.

Ketiganya pun pecah dalam tawa yang memenuhi kamar indekos kecil itu.

“Nah, begitu.” Salim tersenyum puas sambil berputar kecil mengikuti irama lagu yang hanya terdengar di kepalanya sendiri. “Sering-seringlah tertawa, Min. Tunjukkan sifat asli bangsa kita. Ramah kepada siapa saja, tanpa perlu curiga duluan.”

Ia menghentikan langkah dansanya.

“Kalau aku, senang bergaul saja. Tidak mau terikat ideologi apa pun, apalagi yang menurutku tidak produktif.” Ia mengangkat bahu. “Memangnya apa untungnya?”

“Nah, itu dia.” Amin menjentikkan abu cerutunya ke asbak. “Selalu saja soal untung dan rugi.”

Ia menyolek lengan Irwansyah yang sejak tadi hanya menjadi penonton sambil sesekali tersenyum.

“Salim ini tidak perlu membaca Adam Smith untuk jadi kapitalis. Dari lahir memang sudah begitu.”

“Kurasa bukan.” Untuk pertama kalinya Irwansyah menutup bukunya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Lebih tepat disebut... Salimis.”

Kamar itu kembali dipenuhi tawa.

“Tuh, dengar sendiri.” Salim menunjuk Irwansyah dengan bangga. “Bung Irwan saja mengakui aku bukan tipe orang yang gampang ikut-ikutan.” Ia lalu duduk di sisi ranjang. “Kalau begitu, kenapa kau malah membaca buku-buku yang sama dengan Bung Amin?” tanyanya sambil mengangkat buku Karl Marx.

“Karena dia mahasiswa paling pintar di antara kita, sosialisme adalah pilihan orang pintar,” sela Amin cepat.

Irwansyah bangkit dari ranjang. Ia mengencangkan sarungnya, lalu mengumpulkan beberapa buku yang berserakan sebelum menyusunnya di atas meja.

“Membaca bukan berarti menyetujui.”

Ia mengangkat sebuah buku.

“Mein Kampf. Aku ingin tahu bagaimana seorang Hitler memandang dunia.”

Buku itu berganti.

“The Wealth of Nations. Siapa tahu suatu hari aku harus berbincang dengan teman-teman bisnis Salim.”

Salim mengangguk puas.

Irwansyah mengambil buku lain.

“Al-Qanun fi al-Tibb. Selain menambah sedikit pengetahuan tentang dunia kedokteran dan melatih bahasa Arab...” Ia tersenyum kecil. “...aku juga ingin sekali pamer kepada sepupuku yang sedang kuliah di Al-Azhar.”

Mereka kembali tertawa.

“Apa lagi, ya?” Irwansyah memandangi tumpukan buku di meja.

Salim lebih dulu mengambil sebuah buku tebal.

“The History of the Decline and Fall of the Roman Empire.” Ia mengangkat sebelah alis. “Yang ini pasti demi mendekati Monica, gadis cantik berdarah Italia itu.”

Amin langsung tergelak. “Bisa saja kau.”

“Hanya ada satu buku,” kata Irwansyah sambil tersenyum, “yang benar-benar kujadikan pedoman hidup.”

“Nah!” Amin langsung mencondongkan badan. “Akhirnya kita tahu juga Bung Irwan berpihak ke kiri atau ke kanan.”

Irwansyah meraih sebuah mushaf Al-Qur'an dari rak kecil di samping tempat tidur. “Yang ini.”

Salim tertawa. “Hati-hati, Bung Irwan. Walaupun Amin cucu seorang guru mengaji, sekarang dia sudah banyak bergaul dengan orang-orang kiri.”

“Eh, jangan sembarangan.” Amin menggeleng. “Tidak semua orang kiri itu ateis.”

“Oho...” Salim mengangguk pura-pura serius. “Berarti kau masih kiri setengah hati. Stalin mungkin belum mau mengakuimu bila tidak kiri kaffah.”

“Sudahlah. Jangan bawa agama ke mana-mana.” Amin mengembuskan asap cerutunya pelan, lalu menoleh kepada Irwansyah. “Wan, kau sudah membaca macam-macam pemikiran. Menurutmu, mana yang lebih baik: kapitalisme atau sosialisme?”

“Nanti dulu.” Salim mendahului. Ia menyilangkan kaki. “Anggap saja aku seorang kapitalis. Sekarang katakan, Min... apa yang paling kau banggakan dari sosialisme?”

“Aku bangga masih punya hati nurani.” Amin menyandarkan punggung ke kursi. “Setidaknya kami berdiri di pihak kaum proletar yang terus ditekan keserakahan kaum borjuis.”

“Verdomme!” Salim mendengus. “Sejak kapan orang-orang kiri benar-benar membela kaum proletar? Yang kulihat, kalian lebih sering marah-marah dan menyebar kebencian. Sementara para pemilik modal yang kalian caci, merekalah yang membuka usaha dan memberi orang pekerjaan.”

“Pekerjaan?” Amin terkekeh sinis. “Maksudmu memaksa orang bekerja dengan upah yang bahkan tidak cukup untuk hidup layak? Tenaga buruh diperas habis-habisan, sementara keuntungan terus mengalir ke kantong pemilik modal.”

Salim menurunkan kaki. “Jadi menurutmu semua keuntungan harus dibagi rata?”

Amin menggeleng. “Bukan itu. Kami menuntut keadilan. Buruh menciptakan nilai, tetapi yang menikmati sebagian besar hasilnya justru para pemilik modal. Selama keserakahan itu dipelihara, jurang antara kaya dan miskin tidak akan pernah hilang.”

Salim tersenyum tipis.

“Baiklah. Tapi setidaknya para pemilik modal masih membangun pabrik, membuka usaha, dan membayar pekerja. Lalu kalian? Selain menuntut, apa yang sudah kalian bangun?”

Amin terdiam sejenak. “Memberi itu tidak harus berbentuk fisik.”

“Nah, itu dia.” Salim mendekat sambil menepuk bahu Amin. “Menurutku, dari komunis, sosialis, sampai Aminis...” Ia menahan tawa. “...semuanya jago mengkritik. Giliran diminta membangun, langsung cari alasan.”

Ia mengambil kartu nama yang tadi dilemparkannya ke meja.

“Lihat ini. Orang-orang macam Amin tak akan sanggup mendirikan pabrik seperti orang yang dituduh kapitalis ini?” 

“Kenapa kau seyakin itu?” tanya Irwansyah.

“Mereka tidak pernah merasakan susahnya mengumpulkan modal dan dia pikir hasilnya pasti selalu untung.” 

Salim memutar kartu nama di antara jemarinya. 

“Pemodal itu, Min, harus tahu cara mencari, memanfaatkan dan mengembangkan modalnya, termasuk membayar hutang. Kau juga harus siap menerima resiko saat menanggung rugi.”

Salim membanting kartu nama ke atas meja. 

“Anggap bisa Amin dapat modal dari langit, lalu suruh jalankan perusahaan sesuai teorinya. Bagikan rata seluruh keuntungan untuk buruh.” Ia mengangkat bahu. “Apa perusahaannya bisa bertahan lama?”

Irwansyah mengangguk pelan.

“Nah.” Salim menunjuknya sambil tersenyum puas. “Dari anggukanmu saja aku sudah tahu kau lebih condong ke pihakku.”

Irwansyah tidak langsung menjawab.

Ia meraih mushaf Al-Qur'an yang terletak di rak kecil di samping tempat tidurnya.

“Kakekku pernah berkata,” ucapnya pelan, “kalau merasa berada dalam gelap, carilah cahaya yang bisa menunjukkan jalan.”

Salim tertawa kecil.

“Hati-hati, Bung Irwan. Nanti Amin protes lagi kalau kau membawa-bawa agama.”

“Justru sebaliknya.” Irwansyah membuka mushaf itu perlahan. “Kalau sejak awal kita menjadikan agama sebagai pijakan, mungkin kalian tidak perlu berdebat sepanjang ini.”

Ia memandang Amin.

“Orang miskin tidak dibenarkan bermalas-malasan. Dalilnya, Manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya.”

Lalu ia menoleh kepada Salim.

“Dan orang kaya tidak dibenarkan hidup dalam keserakahan. Dalilnya. Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." 

Kamar itu mendadak sunyi.

“Kalau perlu,” lanjut Irwansyah sambil mengangkat mushafnya sedikit, “aku bisa carikan letak ayatnya dan membacakan bunyinya.”

Salim menoleh kepada Amin. “Bagaimana, Min? Masih mau lanjut?”

Amin mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum sambil menggeleng. “Tidak.”

Irwansyah menutup mushafnya. “Kalau begitu... selesai?”

Keduanya mengangguk.

Perdebatan pun berakhir, sementara malam di luar jendela terus berjalan dalam keheningannya.

***


Madrasah Jam'iyah Mahmudiyah, Tanjung Pura, Kesultanan Langkat, 1940

Tengku Farisya telah menjadi guru di madrasah tempat ia dahulu menimba ilmu. Siang itu, ketika sedang memeriksa lembar jawaban murid-muridnya di ruang guru, seorang penyapu sekolah menghampirinya.

“Cik Farisya, ade surat dari tukang pos.”

Ia mengulurkan sebuah amplop.

“Kiriman Bang Irwan?” tanya Farisya sambil meletakkan penanya.

“Siape lagi?”

“Mungkin dari Ratu Belande?” Farisya mengangkat sebelah alis, lalu tersenyum. “Ah, lupe. Tak kenal die pade awak.”

Tawa kecil langsung mengisi ruang guru.

“Terime kasih, Wak.”

Begitu penyapu sekolah berlalu, Farisya segera membuka amplop. Senyumnya perlahan mengembang seiring matanya menelusuri setiap baris tulisan tangan Irwansyah.

Seorang guru yang mengenakan kerudung merah muda saling berpandangan dengan guru-guru lain, lalu mengedipkan sebelah mata.

Guru berkerudung merah muda mendekat setelah Farisya selesai membaca. “Berape lame surat dari Belande sampai ke sini?” tanyanya 

Farisya membalik amplop dan memperhatikan cap posnya. “Tak tentu. Kadang sebulan, kadang lebih. Yang ni... sebulan lebih due hari.”

Lihat selengkapnya