Pelabuhan Penang, Malaya, 1941
Irwansyah mencari-cari seseorang yang akan menjemputnya di antara deretan mobil yang terparkir di luar kawasan pelabuhan yang tidak banyak aktivitas.
Tadinya dia berpikir akan berhadapan dengan tentara Jepang yang menodongkan senjata. Ternyata di sini belum begitu menakutkan seperti perkiraannya.
Di tengah kesunyian itu, matanya menangkap selembar kertas bertuliskan:
Irwansyah – Langkat
Seorang pria keturunan India berdiri sambil memegang kertas tersebut. Irwansyah segera menghampirinya.
"Saye Irwansyah," ujar Irwansyah.
Pria itu memperhatikannya sebentar. "Do you have proof, Sir?" tanyanya.
Irwansyah segera mengeluarkan surat jalan dari dalam tas. Pria itu memeriksanya dengan teliti, lalu mengembalikannya sambil tersenyum dan menjabat tangan Irwansyah.
"Ow, selamat datang! My name Anand. Tuan Tun Zaenal punye Driver. Beliau dari Kesultanan Penang dan menjalankan tugas dari British Government. Biar Anand bawakan Tuan punye bag."
"Biar saye bawe sendiri. Terima kasih, Anand."
"Kalau begitu mari kite berangkat. Anand punye Vehicle parkir agak jauh supaye mudah keluar. Come, Sir."
Irwansyah mengikuti langkah Anand menuju mobil.
Setelah duduk di kursi depan, kendaraan itu mulai bergerak meninggalkan pelabuhan.
"Ow, Tuan orang Langkat rupanye," ujar Anand dengan cepat. "Anand sering pergi ke Borneo, tapi sayangnye belum pernah ke Pulau Percha, Tuan punye tempat. Never! Anand belum pernah, ayah Anand belum pernah, bahkan ayah dari Anand punye ayah pun belum pernah."
Irwansyah hanya tersenyum mendengar logat bicara Anand yang unik dan cepat.
"Apakah orang-orang Langkat kenal dengan orang-orang Deli?" tanya Anand.
"Kesultanan Deli dan Langkat bertetangge dekat. Jadi kemungkinan besar banyak yang saling mengenal."
"Ow, begitu. Orang Deli dan Langkat juge sering datang ke kesultanan-kesultanan di Malaye. Begitu pule sebaliknya. Tuan Tun Zaenal punye sahabat dari Kesultanan Deli. Namanye Tengku Rasyid. Apakah Tuan mengenal beliau?"
Irwansyah langsung menoleh. "Tengku Rasyid? Beliau ayah angkat saye."
Mata Anand membesar.
"Really, Sir? Sebelum beliau meninggal, Anand beberape kali bertemu dengan Tuan Tengku Rasyid dan istrinye. Anand bahkan pernah membawe anak, menantu, dan cucu beliau. Tapi bagaimane mungkin Anand baru bertemu Tuan sekarang?"
"Saye baru kembali setelah lame bepergian jauh. Selame itu saye terpisah dari keluarge, sehingge belum pernah datang ke Semenanjung Malaye."
"Oh, I see. Jadi ini first time Tuan datang." Anand tersenyum lebar. "Kalau begitu, Tuan harus cerita sedikit tentang history."
"Saye bisa mencobe, tetapi tidak banyak yang saye tahu."
Anand melihat keluar jendela.
"Kadang Anand berpikir, aneh juga. Banyak bangse yang wajah serupe, bahase serupe, budaya serupe yang seharusnye bersame, tapi memilih berpisah karene ingin di bawah penjajah berbede. Malaye dan Temasek dengan Great Britain, Pulau Percha dengan Dutch, Borneo bahkan dengan keduanye."
"Luas juge pengetahuan Anand.” Irwansyah tersenyum.
“Bukan kami yang memilih berpisah, awalnye kami terpisah karena kekuasaan kerajaan. Sekarang bangsa-bangsa Eropa datang membawe kepentingannya sendiri, lalu membagi wilayah seperti membagi kepingan kue."
Ia berhenti sejenak.
"Akibatnye, bangse serumpun yang dahulu dekat berkembang dengan jalan berbede. Padahal hubungan darah dan budaye tetap ade. Seperti hubungan Kesultanan Perak dengan Siak, atau Negeri Sembilan dengan orang-orang Minangkabau."
Anand menoleh sambil tersenyum. "Ape Anand dan Tuan juga bersaudare?"
Irwansyah menatap wajah Anand. Ia berusaha mencari hubungan persaudaraan.
"Anand dan bangsawan Deli bise dikatakan masih memiliki hubungan persaudaraan."
Anand tertawa kecil. "Ah, Anand cuma bergurau. Jelas Anand tidak punya saudare di tempat Tuan."
"Punye."
"Tak punye!"
"Ade."
"Tak ade!"
"Yakin?"
"Tak yakin!"
"Nah, Anand sendiri mengaku tidak yakin." Irwansyah tertawa. “Berarti Anand punye saudare.”
"Tuan pandai bermain kata."
Anand menggeleng sambil tertawa.
“Seumur hidup Anand belum pernah ke Pulau Percha, begitu pule orang tua Anand, begitu pule orang tue dari Anand punya orang tue, begitu pule orang tua dari…kenapa jadi sulit menjelaskannya?”
Irwansyah tertawa. "Anand tahu siapa pendiri Kesultanan Deli?"
Anand berpikir lama. "Hmm... no idea."
"Pendiri Kesultanan Deli adalah Tuanku Panglima Gocah Pahlawan. Beliau berasal dari India."
"Wah, luar biasa! Lalu?"
"Lalu?"
"Lalu ape hubungannye?"
Irwansyah memandang wajah Anand. "Apakah Anand bukan keturunan India?"
Anand menunjuk dirinya sendiri. "Look carefully, Sir. Lihat wajah Anand. Dengarkan care Anand bicare. Apakah ade yang seperti orang Indie?"
Irwansyah tersenyum heran.
Anand tersenyum bangga. "Anand sangat Melayu!"
Irwansyah mengalah. "Baiklah, Anand memang sangat Melayu."
"Nah, tambah satu lagi orang yang salah menebak. Anand memang keturunan India." Anand tertawa keras.
Irwansyah ikut tertawa.
Sepanjang perjalanan, Irwansyah menikmati suasana Penang yang perlahan mengobati kerinduannya terhadap tanah kelahiran.
Anand yang ramah, banyak bicara, dan selalu menyelipkan candaan membuat perjalanan terasa singkat. Dari percakapan mereka, Irwansyah mulai mengenal negeri yang baru pertama kali ia singgahi.
Malaya terasa begitu dekat dengan Sumatra. Bahasanya serupa. Budayanya serupa. Hamparan perkebunan luas di sepanjang perjalanan bahkan mengingatkannya pada tanah Langkat.
Perbedaannya hanya terlihat pada wajah kekuasaan yang tertinggal di sana: bangunan pemerintahan bergaya arsitektur Inggris berdiri menggantikan gaya kolonial Belanda yang selama ini ia kenal.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mengembara, Irwansyah merasa tidak sedang berada di negeri asing. Ia hanya sedang menginjak sisi lain dari tanah Melayu yang sama.
***
Tanjung Pura, Kesultanan Langkat
Farisya menuntun sepedanya di tepi jalan. Ban belakang yang kempis membuatnya harus berjalan kaki menuju rumah.
Sebuah mobil melintas dari arah belakang, lalu berhenti tepat di sampingnya. Kendaraan itu membuat langkahnya terhenti. Seorang pemuda berjas putih dengan topi fedoranya keluar dari dalam mobil.
“Kenapa sepedamu? Bocor bannya?” tanya pemuda itu.
“Iya, Bang,” jawab Farisya singkat.
Pemuda itu terdiam sejenak. Pandangannya tanpa sengaja tertahan pada wajah Farisya yang anggun.
“Kalau begitu, biar sepeda itu saya ikat di belakang mobil. Saya antar kamu pulang,” ujarnya.
“Tak usah, Bang. Terima kasih,” tolak Farisya halus.
“Jangan sungkan, Dek. Walaupun saya datang jauh dari Batavia, hati saya tetap dekat dengan orang-orang Langkat.” Pemuda itu tersenyum sambil mengulurkan tangan. “Nama saya Syam. Kamu?”
Farisya tidak menyambut uluran tangan itu. Ia hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada sebagai salam sopan.
“Nama saya Farisya.”
“Farisya...” ulang Syam. “Nama yang indah, seindah wajah pemiliknya.”
Mendengar pujian dari orang yang baru dikenalnya, Farisya justru tampak tidak nyaman. Ia mengalihkan pandangan ke arah sepedanya.
“Kebetulan saya memang sering bertugas di Langkat. Banyak orang di sini yang sudah mengenal saya,” lanjut Syam. “Rasanya tidak pantas kalau saya membiarkan saudara sendiri kesulitan di jalan.”
“Sekali lagi terima kasih, Bang. Rumah saya tidak jauh dari sini,” jawab Farisya, tetap menolak.
Belum sempat Syam menjawab, sebuah sepeda lain muncul dari kejauhan dan berhenti di dekat mereka.
“Oh, mobil Bang Syam rupenye,” sapa pengendara sepeda itu. Kemudian ia menoleh kepada Farisya. “Ade ape, Kak Farisya? Sepedenye kempis?”
Farisya mengangguk.
Syam segera membuka bagasi mobil dan mengambil seutas tali.
“Tolong bantu angkat sepeda Farisya dan ikat di belakang mobil Bang Syam,” katanya kepada lelaki itu.
Tanpa menunggu persetujuan Farisya, lelaki tersebut segera mengangkat sepeda itu.
“Daripade mendorong sampai rumah, lebih baik ikut bersame Bang Syam, Kak. Jangan risau. Beliau pejabat tinggi pemerintah Belande yang sudah lame kami kenal.”
Farisya hanya diam. Sepedanya sudah terikat di belakang mobil, sementara ia sendiri tidak punya alasan kuat untuk menolak lagi.
“Oh iya, Bang Syam,” ujar lelaki itu tiba-tiba. “Kak Farisya ni anak Wak Tengku Rasyid, bangsawan Langkat.”
Syam tampak terkejut.
“Oh, puteri bangsawan?” katanya. “Maafkan kelancangan saya. Tetapi itu justru membuat saya semakin berkewajiban membantu. Mari, saya antar pulang.”
***
Di dalam mobil, Farisya duduk diam. Wajahnya menunjukkan kegelisahan yang sulit disembunyikan.
“Dari mana tadi Dek Farisya bersepeda?” tanya Syam membuka percakapan.
“Dari Istana Darussalam. Saya mencari kabar tentang calon suami saya,” jawab Farisya.
Ia sengaja menyebut hal itu agar Syam memahami bahwa dirinya bukan seseorang yang mudah didekati.
“Siapa nama calon suami Adek? Barangkali Abang bisa ikut membantu mencari kabarnya.”
“Irwansyah,” jawab Farisya.
Nama itu membuat Syam terdiam.
Irwansyah.
Seketika ingatannya kembali pada sebuah peristiwa beberapa tahun lalu, ketika ia dipermalukan dan diusir dari pertemuan pemuda Langkat.
“Irwansyah?” ulang Syam. “Apakah dia penasihat Sultan yang sedang belajar di Belanda?”
“Betul. Rupanya Bang Syam mengenalnya?” tanya Farisya.
“Pernah bertemu sekali,” jawab Syam. “Waktu itu kami masih sama-sama muda. Ada sedikit kesalahpahaman di antara kami.” Ia tersenyum tipis. “Abang sebenarnya ingin meminta maaf kepadanya. Jadi, dia masih belum pulang dari Belanda?”
“Belum, Bang. Itu sebabnya saya ingin memastikan kabarnya.”
“Abang akan mencari tahu. Sebisa mungkin.”
Mobil terus melaju melewati jalanan Tanjung Pura.
“Bang, berhenti di simpang tiga itu saja,” kata Farisya. “Rumah saya masuk ke jalan kecil yang belum beraspal.”
“Jalan itu masih bisa dilalui mobil,” jawab Syam. “Biar Abang antar sampai depan rumah. Sekalian berkenalan dengan orang tua Adek. Bukankah kalau Abang sudah mengetahui kabar Irwansyah, Abang harus tahu ke mana harus menyampaikan kabarnya?”
Farisya tidak menjawab.
Ia hanya menatap keluar jendela, sementara perasaan tidak nyaman yang sejak tadi muncul semakin kuat.
***
Penang, Malaya, 1941
Anand mengurangi kecepatan mobil ketika melihat beberapa jip militer Inggris melintang di tengah jalan hutan. Karung-karung pasir dan gulungan kawat berduri menutup hampir seluruh badan jalan.
Seorang serdadu memberi isyarat agar mereka menepi.
“Tak biasanye banyak tentare Britain begini. Macam ade perang saje,” gumam Anand.
Tentara lain berteriak memerintahkan seluruh penumpang turun dan bergabung dengan warga sipil yang sedang digiring menuju sebuah bangunan tua di tepi jalan.
Irwansyah turun sambil mengambil tasnya. Matanya menyapu barikade darurat yang baru dibangun.
Wajahnya menegang.
“Tampaknya yang kutakutkan benar-benar terjadi,” katanya lirih. “Nippon sudah mendarat.”
“Nippon?” Anand menoleh bingung. “Siape mereke? Orang jahat kah?”
“Jepang. Mereke datang untuk merebut Malaye dari Inggris.” Irwansyah memandang ke arah hutan. “Gelombang Perang Dunie sudah sampai ke Asie Tenggare.”
“Hah... perang, Tuan?”
Nada suara Anand berubah gemetar. Ia terus berjalan mengikuti Irwansyah, sesekali berpindah ke kanan dan kiri seolah mencari perlindungan.
“Markas tentara Inggris jauh dari sini?” tanya Irwansyah.
“Dekat betul. Kalau tadi tak dihentikan, beberape minit lagi sudah sampai.”
Irwansyah mengangguk pelan.
“Berarti mereke sedang berusahe menahan pasukan Jepang sebelum mencapai markas.”
Di belakang mereka, para serdadu Inggris terus menghalau setiap kendaraan dan pejalan kaki agar segera memasuki bangunan perlindungan.
***
Tak lama kemudian, suara letusan senjata mulai bersahut-sahutan. Disusul ledakan.
Kepanikan langsung menyelimuti isi bangunan. Sebagian orang berlari ke jendela untuk melihat keadaan di luar. Yang lain bersembunyi di bawah meja atau memeluk anak-anak mereka sambil menangis.
“Semuanye tiarap! Jauhi jendele!” teriak Irwansyah seraya menarik kepala Anand hingga berlindung di balik sebuah meja.
Namun tidak semua orang menghiraukannya. Beberapa masih nekat mengintip ke luar.
Melalui celah jendela, Irwansyah melihat pasukan Inggris mulai terdesak. Jumlah tentara Jepang jauh lebih banyak. Rentetan tembakan terus memaksa mereka mundur. Satu demi satu serdadu Inggris roboh.
Tak lama kemudian, beberapa prajurit Jepang bergerak mendekati bangunan.
Mereka menghujani jendela dengan tembakan.
Sesaat kemudian, sebuah granat meluncur masuk melalui kaca yang telah pecah.
DUAAR!
Ledakannya mengguncang seluruh ruangan.
Telinga Irwansyah berdenging. Debu memenuhi udara. Ia tetap berlindung bersama Anand sambil memandang tubuh-tubuh yang beberapa detik sebelumnya masih berdiri di dekat jendela.
Jeritan memenuhi ruangan. Orang-orang berlarian tanpa arah, saling bertabrakan mencari jalan keluar.
“Kau tetap di sini!” kata Irwansyah kepada Anand.
Dengan tubuh setengah membungkuk, ia bergerak menyusuri ruangan, mendorong orang-orang yang masih berdiri.
“Tiarap! Semue tiarap!”
Di tengah ruangan, seorang pria masih kebingungan mencari anaknya yang menangis entah dari mana.
“Tiarap!” teriak Irwansyah sekali lagi.
Pria itu tetap berdiri. Rentetan peluru menembus tubuhnya.
Irwansyah mengepalkan rahang.
Tanpa membuang waktu, ia melepas kemeja putihnya. Kain itu diikatkan pada gagang sapu hingga menyerupai bendera.
Dengan sangat hati-hati ia merangkak mendekati jendela yang hancur, lalu mengangkat bendera putih itu keluar.
“Uchinaide! Watashitachi wa shimin desu!” teriaknya berulang kali.
Jangan menembak! Kami warga sipil!
Suara tembakan mendadak berhenti.
Beberapa prajurit Jepang saling berpandangan. Mereka tampak heran mendengar seseorang berbicara bahasa Jepang dari dalam bangunan.
“Tunjukkan dirimu!” terdengar suara seorang komandan.
Irwansyah perlahan berdiri dengan kedua tangan terangkat.
“Di sini tidak ada tentara,” serunya dalam bahasa Jepang. “Hanya warga sipil... orang tua, perempuan, dan anak-anak!”
Komandan itu memberi isyarat kepada beberapa anak buahnya.
Mereka segera memasuki bangunan dengan senapan teracung, memeriksa setiap sudut ruangan.
Salah seorang prajurit menghampiri Irwansyah lalu menarik lengannya.
“Suruh mereka berkumpul di sini. Jongkok, tangan di atas kepala!”
Irwansyah menerjemahkan perintah itu ke dalam bahasa Melayu. Tak seorang pun berani membantah.
Beberapa menit kemudian, suara tembakan di luar benar-benar mereda. Pertempuran telah usai. Pasukan Inggris yang tersisa menyerah.
Komandan Jepang melangkah masuk ke dalam bangunan. Pandangannya berhenti pada Irwansyah.
“Bawa orang ini.”
Dua prajurit segera menggiring Irwansyah keluar.
***
Markas Militer Jepang, Penang
Saat malam di bekas markas tentara Inggris yang kini dikuasai Jepang, Irwansyah duduk di sebuah ruangan sempit dengan kedua tangan terikat di belakang kursi. Wajahnya lebam. Sudut bibirnya pecah, sementara darah yang mengering masih menempel di pipinya.
Dua prajurit berdiri mengelilinginya.
“Hei, mata-mata Inggris!” bentak salah seorang. “Sebutkan nama orang-orang Malaya lain yang bekerja sepertimu!”
Irwansyah tetap diam.
Buk!
Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Kepalanya terlempar ke samping. Lehernya terasa nyaris tak sanggup lagi menopang beban kepala.
Prajurit itu mencengkeram rambutnya dan memaksa wajahnya kembali tegak. Saat tinju berikutnya hendak dilepaskan, suara tegas menghentikannya.
“Cukup!”
Seorang perwira Jepang melangkah masuk.