Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #10

Bab 10. Di Bawah Lindungan Musuh

Fort De Kock, 1942

Jip-jip militer berbendera Matahari Terbit melintasi kawasan perbukitan yang terdapat rumah-rumah penduduk. Pepohonan tinggi yang menaungi hutan di kiri-kanan jalan menjulang rapat, sementara jalan berkelok membelah lereng yang hijau.

Suara tonggeret, kicau burung, dan pekikan monyet dari rimba seakan berpadu dengan sorak-sorai penduduk yang berjejer di sepanjang jalan menyambut iring-iringan tentara Jepang.

"Banzai! Merdeka! Hidup Nippon! Hidup Yano Kenzo!" teriak mereka bersahut-sahutan.

Yano Kenzo membalas lambaian tangan rakyat dengan senyum ramah.

Irwansyah hanya mengamati dalam diam. Baru beberapa bulan Jepang berkuasa, tetapi mereka telah berhasil merebut simpati rakyat. Seolah-olah merekalah pahlawan yang mengusir Belanda dan akan menghadiahkan kemerdekaan.

Sebagai pengemudi jip Yano Kenzo, Irwansyah tak punya pilihan selain sesekali ikut melambaikan tangan sambil memasang senyum yang terasa asing di wajahnya.

"Irwansyah, apa nama kota ini sebelum diubah oleh Pemerintah Hindia Belanda?" tanya Yano Kenzo.

"Bukittinggi, Tuan Yano Kenzo."

"Kenapa Belanda mengganti nama yang sudah sebagus itu?"

Irwansyah hanya tersenyum kecil sambil menggeleng.

"Batavia sudah kami ubah menjadi Jakarta. Aku juga ingin mengusulkan agar Fort de Kock kembali memakai nama Bukittinggi."

"Saya rasa itu akan membuat rakyat semakin menyukai Tuan."

Jip terus melaju melewati kerumunan penduduk. Di antara mereka berdiri sekelompok gadis yang melambaikan tangan dengan riang.

"Uda Irwansyah! Uda Irwansyah!"

Irwansyah berpura-pura tidak mendengar. Ia malah malu karena gadis-gadis itu mengenali namanya. Tanpa sadar, wajahnya memerah.

Yano Kenzo tertawa.

"Kau sombong sekali. Kenapa tidak kau balas sapaan mereka?" Ia menepuk bahu Irwansyah. "Lihat, mereka cantik-cantik. Pilih saja salah satu untuk menjadi istrimu."

Irwansyah tersenyum tipis. "Saya sudah memiliki calon istri di Langkat."

"Oh, ya?" Yano Kenzo terkekeh pelan. "Kasihan gadis-gadis tadi. Kau sudah mengecewakan mereka."

"Nanti, kalau pekerjaanmu sudah tidak sesibuk sekarang, akan kuizinkan kau pulang untuk melamarnya."

Mata Irwansyah berbinar. "Benarkah, Tuan?"

"Tentu. Tapi setelah menikah, kau harus membawanya ke sini. Kau harus tetap menjadi ajudanku."

"Saya senang bekerja untuk orang sebaik Tuan."

"Irwansyah! Ba'a kaba!"

Teriakan panggilan seorang laki-laki berbahasa Minang dari pinggir jalan membuat Irwansyah refleks menoleh.

Lee?

Di antara kerumunan penduduk, Jack Lee mengangkat caping yang dikenakannya lalu melambaikannya tinggi-tinggi. Wajah masih mudah dikenali, tetapi pakaian lusuh dan penampilannya yang menyerupai petani membuatnya nyaris menyatu dengan rakyat setempat.

Irwansyah segera melirik ke arah Yano Kenzo. Ia terpaksa berpura-pura tidak mengenal Lee.

Di sebelah Lee, seorang gadis dengan bunga mawar yang terselip di telinga bertanya, “Uda Ali kenal jo Uda Irwansyah?”

“Tantu se lah… inyo kawan lamo den, Dek Mawar.”

“Uda Irwansyah urang Minang?”

“Indak. Inyo urang Melayu, dari Sumatra Timur.”

“Ooo…” 

***


Markas besar Angkatan Darat ke-25, Fort De Kock

Di halaman markas yang luas, para prajurit bersenjata berdiri tegak dalam barisan rapi menghadap bangunan utama. Di depan mereka terparkir sebuah sedan hitam, tepat di belakang sebuah jip militer.

Irwansyah berdiri bersama para ajudan lain di depan pintu masuk markas. Dari tempatnya, ia masih dapat menangkap samar-samar percakapan para pejabat pemerintahan Jepang di dalam ruangan. Ia menduga ada tamu penting yang akan diantar menggunakan sedan hitam itu.

Suara seorang pria di dalam terdengar berbicara dalam bahasa Inggris.

"Awalnya Belanda mengasingkanku ke Bengkulu. Ketika tahu Nippon datang, mereka membawaku pergi dari tempat pengasingan itu. Namun, pada akhirnya mereka meninggalkanku begitu saja di tengah hutan, di tempat yang bahkan tidak kuketahui."

Seorang penerjemah segera menyampaikan ucapannya dalam bahasa Jepang.

Tak lama kemudian, seorang perwira Jepang menjawab.

"Nippon tidak akan membiarkan Anda, pemimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia, berada di tempat yang tidak semestinya. Anda akan kami antar berangkat ke Batavia."

Penerjemah itu kembali menyampaikan ucapan sang perwira dalam bahasa Inggris.

Setelah percakapan usai, terdengar derap langkah kaki mendekati pintu. Dua prajurit yang berjaga segera membukakan daun pintu markas.

Sesaat kemudian, tampak Kolonel Fujiyama keluar bersama seorang tokoh karismatik yang wajahnya begitu akrab di mata Irwansyah. Potretnya berkali-kali ia lihat, baik di rumah Tengku Amir Hamzah maupun di surat kabar.

Bung Karno.

Berbeda dengan para ajudan lain yang tetap menatap lurus ke depan, pandangan Irwansyah tak lepas mengikuti setiap langkah Bung Karno.

Yano Kenzo bersama beberapa perwira mengantar Bung Karno hingga memasuki sedan hitam. Mesin mobil pun menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman markas.

Pikiran Irwansyah melayang jauh.

Aku yakin Bung Karno memahami situasi ini lebih baik daripada siapa pun.

Dulu Belanda mengasingkannya, kini Jepang membebaskannya, tetapi akan memanfaatkannya untuk menjalankan propaganda mereka. 

Pada akhirnya, nasib kami tak jauh berbeda. Kita sama-sama tawanan, Bung.

***


Kantor Shūchōkan Sumatera Timur, Medan, Kesultanan Deli, 1942

Syam duduk berhadapan dengan Gunseikan Sumatra Timur, Nakashima, di ruang kerjanya. Keduanya berbicara dalam bahasa Inggris.

"Saya berterima kasih karena Anda telah menunjukkan berbagai aset berharga yang dahulu dikuasai Belanda di Sumatera Timur," ujar Nakashima. "Saya akan menyampaikannya kepada panglima militer dan pejabat sipil di Bukittinggi."

"Maaf, Tuan Nakashima.”

Ia sedikit membungkukkan badan. 

“Bolehkah saya menyampaikan sebuah pendapat demi mendukung kemenangan Jepang di Asia?"

"Silakan."

"Belanda menjadi bangsa yang makmur dari kekayaan alam negeri ini. Kebetulan di wilayah kekuasaan Tuan, Sumatera Timur memiliki berbagai sumber daya alam yang nilainya terlalu besar untuk dibiarkan begitu saja, 

Syam menatap lurus Nakashima.

“Terutama… cadangan minyak."

Ia berhenti sejenak, memastikan lawan bicaranya memperhatikan.

"Jangan sampai Inggris dan Sekutunya—terutama Amerika Serikat—bersorak karena Jepang terlambat memanfaatkan potensi itu."

Nakashima mengembuskan napas pelan. 

"Pendapat Anda masuk akal, tapi saya tidak dapat mengambil keputusan sendiri. Semua kebijakan strategis harus mendapat persetujuan pemerintah militer di Bukittinggi."

"Jika pandangan Tuan tidak mendapat dukungan di Bukittinggi, adakah cara lain agar usulan ini tetap dipertimbangkan?" 

Nakashima bangkit dari kursinya. "Pertanyaan Anda sudah melampaui batas."

Syam segera menundukkan kepala. "Maafkan saya, Tuan Nakashima."

Nakashima menatapnya beberapa saat tanpa berkata-kata. Kemudian, senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

"Saya menyukai orang yang berbicara terus terang. Justru ambisi anda menunjukkan bahwa memang ada potensi besar yang harus menjadi prioritas Jepang.”

“Betul, Tuan. Sayangnya ada kendala besar.”

 Nakashima mengangkat alis.

"Maaf, Tuan. Saya membaca di surat kabar bahwa Jepang berusaha menghindari konfrontasi, baik dengan para pejuang kemerdekaan, begitu pula dengan kalangan bangsawan."

“Benar, lalu?”

“Saya tahu persis, pejuang kemerdekaan belum punya kepentingan, sementara kesultanan yang pernah menikmati konsesi dari Belanda, akan menuntut hal yang sama pada Jepang.”

Nakashima mengembuskan napas. “Apa saranmu?” 

Syam menatap lurus ke mata Nakashima lagi. 

“Hapus konsesi dan berikan tindakan tegas kepada siapa pun di Sumatera Timur yang tidak mendukung kemenangan Jepang dalam perang dunia.”

Nakashima tersenyum sambil duduk kembali. “Membangkitkan konflik?”

“Kesultanan di Sumatera Timur tidak punya catatan perlawanan terhadap Belanda.” 

“Kalau pun begitu, siapa yang nanti mengurusi sumber daya alam tadi?”

“Saya punya pengalaman mengurusi sumber daya alam.”

Nakashima mengambil sebuah cerutu dari kotak kayu di atas meja, lalu menyodorkannya kepada Syam.

"Itu berarti saya telah menemukan seseorang yang benar-benar mengenal Sumatera Timur sekaligus memiliki kepentingan yang sejalan dengan kemenangan Jepang. " Nakashima tersenyum. “Kurasa Kolonel Fujiyama tidak punya alasan untuk menolak gagasan ini.”

***


Rumah Yano Kenzo, Fort De Kock, 1943

Malam yang dingin diselimuti kabut yang perlahan merambat menutupi lereng-lereng bukit.

Irwansyah duduk di pelataran rumah kecil yang menjadi asrama para ajudan Yano Kenzō. Sebuah koran terbentang di tangannya ketika seorang anak laki-laki bertelanjang kaki datang menghampiri sambil memanggul baskom dagangan.

"Uda urang nan banamo Irwansyah? ?" tanyanya pelan.

(Apa abang orang yang bernama Irwansyah?) 

Irwansyah menurunkan korannya.

Anak-anak yang berkeliling menjajakan makanan bukanlah pemandangan asing di Bukittinggi. Namun, baru kali ini ada yang lebih dulu memastikan namanya.

"Batua, ambo Irwansyah. Dek a sanak batanyo?"

(Betul, saya Irwansyah. Kenapa kau bertanya?) 

Anak itu melirik ke kanan dan kiri. Tak jauh dari sana, seorang ajudan Jepang berdiri di bawah pohon pisang sambil mengisap rokok yang sudah pendek.

"Ado urang nan nio basuo jo Uda. Katonyo, jan sampai ado urang lain nan tau." 

(Ada seseorang yang ingin bertemu Uda. Katanya, jangan sampai ada orang lain yang tahu.)

Irwansyah mengangguk lalu menoleh kepada ajudan Jepang lain yang tampak kehabisan rokok. Ia meremas kotak rokok kosongnya.

Irwansyah berkata dalam bahasa Jepang.

"Kau tidak ingin membeli jajanan?"

Ajudan itu menggeleng. "Malas mengambil dompet di dalam."

"Biar aku yang bayar."

Ajudan itu mematikan puntung rokoknya lalu menghampiri.

Irwansyah membuka kain penutup baskom.

"Aku berharap ada ubi rebus. Sayangnya, hari ini hanya pisang goreng."

"Kalau begitu, datangi saja warungnya. Anak-anak ini biasanya mengambil dagangan dari sana." Ajudan itu mengambil beberapa potong pisang goreng. "Kalau kau ke sana, aku titip rokok."

Irwansyah menggeleng. "Jauh, lagi pula bagaimana kalau Tuan Yano mencariku?"

"Beliau kalau sedang sibuk mengetik pasti lupa segalanya. Lagi pula, ajudannya bukan hanya kau."

Irwansyah tersenyum. "Baiklah. Terima kasih."

"Jangan lupa, belikan aku rokok."

“Tenang saja, tapi aku tak mau terburu-buru.”

"Tak masalah. Aku masih bisa minta pada yang lain."

Lihat selengkapnya