Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #11

Bab 11. Kembalinya Sang Pejuang

Bukittinggi - Medan, 1943

"Eh, Lae. Mana rupanya motor yang ke Medan?" tanya Lee kepada seorang pria brewok yang sedang mengatur kendaraan di pasar perkulakan.

"Untuk berapa orang, Bang Ali?" tanyanya balik.

"Ah, berdualah. Memang kau tengok kami ada berapa?" Lee menunjuk dirinya dan Irwansyah.

Pria brewok itu tertawa, lalu menyapu pandangan ke sekeliling.

"Ah, itu. Motor bak yang muat sayur. Tapi..."

"Kenapa rupanya?"

"Kelen harus duduk di belakang. Opung Saragih mau numpang juga sampai Siantar."

"Ah, tak soal itu, Lae. Yang penting kami sampai."

Lee menyodorkan beberapa lembar uang.

Pria brewok itu melirik nominalnya, lalu terkekeh.

"Bah! Kalau segini, kelen cuma sampai Tarutung lah. Ongkos minyak naik, Bang Ali."

Lee menghela napas tipis, lalu menambahkan beberapa lembar uang lagi.

"Tiap kali aku perlu, ongkos minyak selalu naik, kau bilang."

Pria brewok itu kembali tertawa. Ia menoleh ke arah sopir yang sedang berdiri di samping mobil bak.

Dua jarinya diselipkan ke bibir.

Suit!

Sopir yang semula sedang mengusap perut langsung menoleh.

"Libas sekarang, Lae!"

Sopir itu mengangkat jempol sebagai jawaban.

***


"Lee... Bang Ali." Irwansyah menggeleng sambil tersenyum. "Mirip sekali."

Lee terkekeh. "Senada. Lumayan pintar, bukan?"

"Bahkan gaya bicaramu tadi..." Irwansyah menatapnya beberapa saat. "Kau telah membuatku lupa pada sosok wartawan Jack Lee yang kukenal di Belanda."

Keduanya tertawa.

Tubuh mereka bergoyang mengikuti hentakan mobil bak yang terus melaju, sesekali berguncang saat menyalip kendaraan lain di jalan lintas.

"Irwansyah. Sebetulnya, kau juga berbakat menjadi mata-mata."

Lee mencabut sebatang kacang panjang dari tumpukan sayuran yang menjadi alas duduk mereka. Ia menggigit ujungnya.

"Di Eropa kau bisa meniru berbagai aksen bahasa dengan sangat meyakinkan. Kalau saja wajah dan warna kulitmu tidak berbeda, tak seorang pun akan menyangka kau berasal dari Asia."

Lee mengunyah pelan sambil tersenyum, lalu melanjutkan.

"Edward juga pernah bilang begitu. Katanya kita berdua sebetulnya cocok jadi aktor waktu menirukan tokoh-tokoh terkenal di depannya."

“Lee. Aku tahu kemana tujuan pembicaraanmu.” Irwansyah menggeleng. "Sudahlah. Aku sudah tidak tertarik meneruskan pekerjaan sebagai mata-mata Inggris."

Lee tertawa kecil. "Sayang sekali."

Mobil mendadak mengerem tipis sebelum memepet sebuah truk besar yang enggan memberi jalan. Tubuh mereka terdorong ke depan.

"Padahal kau hebat," lanjut Lee sambil mempertahankan keseimbangan, "kau berhasil masuk ke pusat militer Jepang di Sumatra."

Mobil akhirnya menemukan celah sempit dan menyalip. Tubuh mereka bergeser ke samping.

"Bagaimana mungkin Jepang melatihmu dan percaya memberimu seragam tentaranya— Hei!"

Belum selesai kalimatnya, sopir kembali menginjak pedal gas. Tubuh mereka tersentak ke belakang.

Lee menoleh ke depan, lalu menggeleng heran.

"Kenapa Opung Saragih sama sekali tidak terganggu dengan cara sopir ini menyetir?"

Irwansyah ikut melirik ke depan. Lelaki tua bermarga Saragih itu tetap duduk tenang, seolah guncangan jalan hanyalah ayunan kursi.

"Orang Batak, mobil dan jalanan itu seperti Edward, buku dan kelas," jawab Irwansyah sambil tersenyum. "Bersama orang yang menguasai bidangnya, siapa pun tak perlu khawatir. Filosofi mereka sederhana, biar cepat, asal selamat."

Lee tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.

"Ayolah, jangan menyia-nyiakan bakatmu."

"Lee..." Irwansyah memandang hamparan jalan yang membentang di belakang. "Aku ingin hidup tenang seperti Edward. Bukan seperti kau, yang senang menari-nari menghindari peluru dan dentuman bom

Lee tersenyum tipis.

“Aku yakin kau akan memilih menjalani hidup sepertiku, meski bukan untuk Inggris."

Irwansyah menggelengkan kepala. “

Lee mengeluarkan arloji rolex dari jaketnya. "Berani bertaruh?"

“Kenapa tidak?” Irwansyah mengeluarkan buku langka pemberian Edward.

“Tapi cuma ini barang paling berhargaku. Yakin mau menukarnya?”

***


Restoran Tsim Sha Tsui, Medan, Kesultanan Deli

Sesampainya di Kota Medan, Irwansyah dan Lee turun di sebuah restoran besar milik keluarga Tionghoa. Pemilik restoran sempat berbincang singkat dengan Lee dalam bahasa Mandarin sebelum akhirnya mempersilakan mereka masuk.

"Itu pamanku," ujar Lee.

Irwansyah terkekeh. "Mendadak kau punya paman di Medan?"

Lee mengangkat sebelah alis. "Memangnya kau tidak melihat kemiripan wajah kami?"

"Terserah sajalah."

"Tunggu di sini. Aku harus menemui bibiku sebentar."

Lee baru melangkah dua langkah ketika ia berbalik lagi.

"Kau boleh pesan makanan apa saja. Gratis."

Irwansyah menyeringai tipis sambil duduk. "Apa selama di Leiden kau pernah melihatku makan itu?" Ia menunjuk kepala babi yang tergantung.

Lee tertawa. "Kalau begitu, pesan kopi saja."

Lee memanggil seorang pelayan, lalu menghilang ke bagian belakang restoran.

Setelah melewati ruang makan yang dipenuhi pelanggan, ia memasuki dapur yang pengap oleh asap masakan. Para koki sibuk mengaduk wajan dan mengangkat panci, membuat Lee harus berkelit di antara mereka.

Di ujung dapur terbentang sebuah koridor sempit dengan beberapa pintu kusam. Lee mengetuk salah satunya menggunakan pola tertentu.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Seorang pria Tionghoa mempersilahkannya masuk, lalu segera mengunci pintu kembali.

Ruangan itu tampak seperti kantor administrasi restoran. Meja besar dipenuhi buku pembukuan, kuitansi, kalkulator, serta berbagai alat tulis.

"Tuan Charles ada di sini?" tanya Lee.

"Dia sudah lama menunggumu."

Pria itu berjalan menuju lemari besi besar di sudut ruangan. Dengan tenaga penuh ia menggesernya hingga memperlihatkan sebuah pintu rahasia di belakangnya.

"Silakan, Lee."

"Terima kasih, Chen."

Lee membuka pintu dan masuk ke ruangan kecil yang gelap. Setelah menyalakan lampu, ia menggulung karpet yang menutupi sebuah pintu di lantai.

Ia membuka pintu itu dan menuruni tangga sempit menuju ruang bawah tanah.

Di dasar tangga, seorang pria bersenjata senapan telah menunggunya. Tanpa sepatah kata pun, pria itu mengantar Lee memasuki sebuah ruangan yang lebih menyerupai markas militer daripada ruang persembunyian.

Di salah satu dinding terbentang peta besar Sumatra dan Sumatra Timur yang dipenuhi paku-paku penanda. Dinding lainnya dipenuhi foto para pejabat pemerintahan Jepang, pejuang kemerdekaan, bangsawan, serta tokoh agama dan adat dari Hindia Belanda.

Di sudut ruangan, suara siaran BBC terdengar dari radio yang berdampingan dengan sebuah telegraf.

Beberapa pria Inggris, masing-masing dengan pistol terselip di pinggang, menoleh menyambut kedatangan Lee.

"Dia ada di restoran?" tanya Charles.

"Ya."

"Dia tidak mau menjadi bagian dari kita?"

"Begitulah, makanya tidak kuajak ke bawah. Tapi menurutku dia masih bisa menjadi sekutu yang berharga."

"Aku juga berpikiran begitu."

Charles meletakkan sebuah foto di atas meja. "Syam."

Lee mengamatinya beberapa saat.

Charles kemudian mengeluarkan foto lain. "Nakashima."

"Oh, jadi seperti itu wajahnya." Lee mengangguk pelan. "Orang yang mengira sedang memanfaatkan Syam, padahal justru sebaliknya."

Lee tersenyum tipis sambil mengambil foto Syam. 

"Kau ingin temanku menendang pantat dia, bukan?" Lee meletakkan foto dari tangannya. “Lalu apa selanjutnya?"

"Dukung apa pun yang dia perlukan."

Lee mengangguk. “Baiklah. Aku harus kembali sebelum dia curiga."

Ia bergegas kembali ke restoran.

Namun, sesampainya di ruang makan, kursi tempat Irwansyah duduk sudah kosong.

"Ke mana dia?" tanyanya kepada pemilik restoran.

"Sudah pergi tanpa menunggu kopi." Pria itu menyerahkan secarik kertas. "Dia meninggalkan ini untukmu."

Lee membuka lipatan kertas itu. Senyum tipis segera terukir di wajahnya ketika membaca tulisan tangan berbahasa Belanda.

Aku baru saja berhasil keluar dari kandang Jepang. Yang kubutuhkan hanyalah informasi dari seorang sahabat, bukan masuk kandang yang lain.

— Dari teman yang lebih senang berbincang sambil menikmati secangkir kopi di kedai kopi yang sesungguhnya.

Lee melipat kembali surat itu perlahan.

"Dasar keras kepala," gumamnya sambil tersenyum.

***


Rumah Sani, Medan, Kesultanan Deli

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.”

Pak Cik Bujang yang baru saja membuka pintu mendadak terpaku.

“Masya Allah...”

Beberapa saat ia hanya menatap sosok di hadapannya. Kemudian, dengan suara bergetar, ia berteriak ke dalam rumah.

“Sani! Irwansyah pulang!”

Mendengar teriakan itu, Tengku Sani bergegas keluar. 

Begitu melihat Irwansyah, ia langsung memeluk saudara angkatnya itu. Pak Cik Bujang ikut merangkul mereka. Isak tangis pecah, menghapus rindu yang bertahun-tahun tertahan.

Setelah puas bercengkerama melepas rindu, Irwansyah bersama keluarga kecil Sani pergi berziarah ke makam orang tua Sani yang berada di samping Masjid Raya Al Mashun.

Di hadapan pusara Tengku Rasyid dan istrinya, Irwansyah menundukkan kepala. Dengan suara lirih ia mengungkapkan penyesalannya karena tak sempat berada di sisi mereka pada saat-saat terakhir. Setelah menabur bunga dan memanjatkan doa, mereka pun kembali ke rumah.

*****


Rumah Tengku Hasyim, Tanjung Pura, Kesultanan Langkat

Malam itu, mobil Sani yang dipinjam Irwansyah hampir memasuki halaman rumah Farisya. Namun, begitu melihat sebuah sedan lain terparkir di samping mobil milik Tengku Hasyim, ia segera menghentikan kendaraannya. Mobil itu mundur beberapa meter hingga tersembunyi dalam gelap.

Irwansyah memandang rumah yang terang benderang di tengah pekarangan luas, dikelilingi pepohonan yang menjulang tinggi.

Farisya sudah lama tidak mendapat kabar dariku.

Ia mematikan mesin sekaligus lampu mobil.

Bagaimana kalau ternyata dia sudah menikah?

Pandangannya beralih ke sedan hitam yang bentuknya lazim digunakan para pejabat tinggi pemerintah Hindia Belanda.

Atau... mungkin itu hanya mobil tamu.

Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Irwansyah spontan merundukkan tubuh, menyembunyikan wajahnya di balik pilar pintu mobil sambil mengintip dari kejauhan.

Itu Emak... Farisya...

Keningnya mengerut.

Hmm... siapa laki-laki yang mereka antar keluar?

Lihat selengkapnya