Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #15

Bab 15. Titian Patah

Restoran Tsim Sha Tsui, Glodok, Jakarta, 1944

“Cepat bangun!”

Irwansyah menendang kaki Lee.

Lee yang tertidur di lantai tiga restoran sontak meraih pistol. Ia menghampiri Irwansyah dan mengintip melalui celah jendela kayu. Pagi belum benar-benar terang.

Di depan restoran, para kempetai bersenjata telah mengepung bangunan. Seorang di antaranya mendobrak pintu dan masuk. Di tengah barisan itu tampak Nurdin, menatap ke arah lantai paling atas.

“Kita tak mungkin menerobos mereka. Ayo keluar lewat belakang,” bisik Lee.

Di lantai bawah, para kempetai mengacungkan senjata kepada para pekerja restoran Tionghoa yang baru terbangun. Tak seorang pun melawan.

“Di mana kalian sembunyikan Irwansyah?” bentak seorang kempetai dalam bahasa Jepang.

Orang-orang yang ditanyai menjawab dalam bahasa Tionghoa. Karena tak saling memahami, kempetai itu langsung menghantam mereka.

Beberapa kempetai bergegas menaiki tangga.

Sementara itu, Lee dan Irwansyah telah keluar melalui jendela. Dengan tubuh menempel pada dinding, mereka merayap perlahan di bibir beton selebar dua telapak tangan di lantai tiga, berusaha mencapai genteng bangunan di sebelah.

Namun sebelum berhasil mencapainya, Nurdin sudah tiba di gang belakang. Dengan pistol di tangan, ia mendongak memandangi keduanya.

“Widih! Dua tokek lagi merayap,” ejeknya.

Lee membalasnya dengan senyum tipis.

Keduanya sempat melirik pistol yang terselip di pinggang masing-masing. Sayangnya, kedua tangan mereka harus terus menempel pada dinding demi menjaga keseimbangan. Mustahil meraihnya.

Nurdin terkekeh. “Ayo, lompat.”

Ia menyelipkan pistol, lalu menyalakan rokok.

“Tenang aje. Ntar gue panggilin dukun patah tulang.”

Tiba-tiba jendela tempat mereka keluar terbuka. Seorang kempetai muncul dan langsung memergoki mereka. Lee menoleh, lalu membalas tatapan kempetai itu dengan senyum santai.

Nurdin mengambil sebongkah batu dan iseng melemparkannya. 

Duk!

“Hehehe.”

Lemparannya meleset, tetapi ia tetap tertawa menikmati ketidakberdayaan kedua buruannya.

Dor! Dor! Dor!

Mendadak rentetan tembakan meledak dari dalam gedung.

Nurdin buru-buru membuang rokoknya dan mencabut pistol.

Dor!

Kempeitai di dekat jendela roboh, ditembak seseorang dari dalam gedung, lalu terjun bebas ke gang.

Bug!

Nurdin menatap tubuh itu. Sebuah lubang menganga di punggung sang kempetai, sementara kedua kakinya tertekuk ke arah yang tak wajar.

“Buset!”

Irwansyah telah berhasil mencapai genteng bangunan sebelah. Sementara itu, Lee masih bergelantungan pada bibir beton yang tadi dipijaknya.

Nurdin melepaskan tembakan ke arah Lee.

Dor!

“Hap!”

Lee sudah lebih dulu menjatuhkan diri. Kedua tangannya berhasil mencengkeram beton lantai satu.

Dor! Dor! Dor!

Sebelum Nurdin menembak Lee lagi, Irwansyah telah membalas menembak ke arah Nurdin. 

Ia sengaja tidak membidik tubuh lawannya, hanya memecah konsentrasinya agar Lee sempat turun.

“Hap!” Lee menjatuhkan diri hingga kedua kakinya menyentuh tanah.

Bug!

Dalam satu putaran cepat, ia menendang tangan Nurdin hingga pistolnya terlepas, lalu menghantam wajahnya dengan pukulan keras. 

“Arrghh.”

Nurdin tersungkur tak berdaya.

“Cepat! Lompat sebelum ada kempetai yang datang!” seru Lee.

Irwansyah kini bergelantungan di ujung genteng. Ia melongok ke bawah.

“Masih terlalu tinggi.”

“Itu ada tumpukan kantong sampah di bawahmu. Cepat!”

Irwansyah menatap lagi ke bawah, lalu menggeleng.

Dor! Dor! Dor!

Lee menembaki bagian kayu tempat Irwansyah bergantung.

Krak!

Kayu itu patah.

Bug!

“Ah!”

Irwansyah jatuh menghantam tumpukan kantong-kantong sampah.

Beberapa kempetai bermunculan. 

Dor! Dor! Dor!

Lee segera menghujani mereka dengan tembakan.

Dari jendela lantai dua dan tiga, beberapa pria berwajah Eropa ikut melepaskan tembakan ke arah para kempetai. Baku tembak pun pecah dari dua arah.

“Lee!” teriak Irwansyah.

Lee menoleh. Irwansyah menunjuk deretan sepeda yang terparkir tak jauh dari sana. Lee mengangguk. Sambil terus berlindung dan membalas tembakan, ia berlari menghampiri deretan sepeda itu.

Seorang kempetai maju hendak menembaknya.

Dor!

Irwansyah lebih dulu menarik pelatuk. Pelurunya menembus paha kempetai itu.

Sesaat kemudian, Lee dan Irwansyah telah menguasai dua sepeda dan mengayuh secepat mungkin meninggalkan gang yang masih dipenuhi suara tembakan.

Lee menyusul hingga sejajar dengan Irwansyah.

“Akhirnya kau membunuh orang.”

“Aku hanya mengincar kakinya.”

“Pelurumu menembus dadanya.”

“Yang kulihat cuma mengenai pahanya.”

“Posisiku lebih dekat dengan orang yang kau bunuh.”

“Tapi kau salah lihat. Lukanya kecil. Tinggal diobati.”

Lee tersenyum tipis.

“Apa perlu kita kembali untuk memeriksa mayatnya?”

Irwansyah mendengus.

“Sudahlah. Jangan bujuk aku terus jadi mata-mata Inggris. Aku tak bisa melompat indah dari tempat tinggi sepertimu.”

Dalam perjalanan melarikan diri, mereka melihat foto Irwansyah terpampang di beberapa dinding. Kempeitai telah menyebarkan wajahnya sebagai buronan teroris yang dituduh mengebom rumah Bung Karno.

Sejak pagi itu, Irwansyah sadar misinya tak mungkin lagi dilanjutkan. Kini, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha menyelamatkan nyawanya sendiri.

*** 


Rumah Tengku Sani, Rawa Belong, Jakarta, 1945

Farisya duduk bersama Asril dan Sani.

“Bile Irwansyah atau Mamat tak bise menjumpai Bung Karno kerana dicegah Jepang, bukankah awak yang bukan siape-siape tak akan mendapat halangan?”

Asril terdiam sejenak.

“Aku akan mengusahakannye. Memangnye ape yang Adek ingin sampaikan?”

“Aku hanya ingin menceritakan ape yang sedang diperjuangkan suamiku, dan betape besarnye usaha yang sudah die lakukan.”

“Awak rase itu memang penting didengar beliau,” sahut Sani.

“Baiklah. Nanti awak kabari bile beliau berkenan.”

“Terime kasih, Bang. Ade satu lagi yang ingin awak sampaikan.”

“Ape itu?”

“Abang pernah bilang, Irwansyah akan jauh lebih sulit kite temukan. Kalaupun berhasil bertemu, die tak mungkin lagi tinggal bersame kami.”

“Betul.”

“Irwansyahlah yang akan kuminta menemui kite. Tapi die tak boleh bertemu langsung.”

Asril memijat pelipisnya.

“Menemui, tapi tak boleh bertemu...”

“Hanye lewat surat.”

“Oh, begitu. Lalu siape yang jadi penghubungnye?” tanya Sani.

“Hitler betul, Irwansyah pasti akan mencari anak-anak. Aku telah meminta beberapa anak tetap tinggal di rumah Cempaka Putih, sementara yang lain menyebar ke tempat-tempat yang dulu menjadi lokasi mereka mengedarkan Tjoretan Pejoeang. Dengan begitu, Irwansyah akan lebih mudah menemukan mereka.”

Ternyata Farisya benar. Irwansyah menemui salah seorang anak asuhannya di salah satu lokasi yang biasa digunakan untuk meletakkan Tjoretan Pejoeang. 

Beberapa hari kemudian, Hitler datang membawa sepucuk surat singkat berbahasa Belanda untuk Farisya.

Aku senang kau sudah berada di sini dan menemukan cara agar kita dapat saling berkabar. Salam untuk tokoh yang akan kau temui.

Dari seseorang yang mencintaimu.

Setelah menyerahkan surat itu, Hitler bercerita tentang keadaan Irwansyah yang terus berpindah-pindah, berlindung dari satu masjid ke masjid lainnya.

*** 


Menteng, Jakarta, 1945

Rumah bercat putih di kawasan Menteng itu tampak sederhana dibanding kediaman para pejabat Hindia Belanda. Halamannya tak luas, hanya dinaungi beberapa pohon peneduh yang membuat suasana pagi terasa teduh. 

Di teras, beberapa kursi rotan tertata rapi. Dari rumah itulah Bung Karno menerima tamu-tamu yang datang membawa harapan, kegelisahan, sekaligus kabar tentang perjuangan bangsanya.

Pagi itu, Farisya, Asril, dan Adam Malik datang menghadap Bung Karno. Mereka beruntung karena Bung Hatta juga sedang berada di sana.

Bung Karno dan Bung Hatta mendengarkan dengan saksama penuturan Farisya tentang perjuangan Irwansyah serta berbagai kesulitan yang dihadapinya.

“Tapi, maaf, Tuan. Sayangnya saya tidak membawa dokumen itu. Suami saya tidak berani menitipkannya.”

“Aku paham.” Bung Karno mengangguk. “Dia tentu tidak ingin membahayakan kalian. Selain istrinya, ada pula anak-anak terlantar yang sudah ia didik sekaligus membantu perjuangannya.”

Pandangan Bung Karno beralih ke beberapa lembar Tjoretan Pejoeang yang tergeletak di atas meja.

“Aku tidak tersinggung dengan Tjoretan Pejoeang.” Ia menoleh kepada Bung Hatta. “Bung, tersinggung?”

Bung Hatta tersenyum. “Kita harus saling memahami.”

“Bung Hatta benar.” Bung Karno kembali memandang tamu-tamunya. “Bukan hanya memahami Irwansyah.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.

“Tan Malaka, Sjahrir, Ahmad Subardjo, Adam Malik, dan banyak anak muda lainnya sering terkesan memojokkanku. Namun, aku tahu mereka tidak membenciku. Mereka hanya melakukan apa yang mereka yakini benar demi kebaikan bangsanya.”

Ia menoleh kepada Farisya.

“Kau anak bangsawan dari Kesultanan Langkat?”

“Betul, Tuan.”

“Nanti sampaikan salamku kepada Tengku Amir Hamzah.”

“Insya Allah.”

“Aku sangat menghargai upaya suamimu, sekaligus merasa tidak enak hati.” Bung Karno mengembuskan napas panjang. “Seharusnya kami yang mendatangi dan duduk berdialog bersama para sultan.”

Ia lalu mengangkat tangan, seolah telah mengambil keputusan.

“Baiklah. Irwansyah sulit menemuiku, jadi… aku yang akan berusaha mencarinya.”

“Alhamdulillah,” ucap Farisya dengan mata berkaca-kaca.

*** 


Rumah Markas Rahasia Mata-Mata Inggris, Jakarta, 6 Agustus 1945

Setelah penyerbuan Kempeitai ke Restoran Tsim Sha Tsui di Glodok, para mata-mata Inggris memindahkan markas mereka ke rumah persembunyian yang baru.

“Akhirnya kau datang,” sapa Andrew saat Lee membuka pintu. “Di mana temanmu?”

“Temanku lebih suka bergerak sendiri dengan jaringan anak-anak kecil yang bersamanya.”

Lee menjatuhkan tubuhnya di sofa.

“Kudengar Little Boy baru saja dijatuhkan Enola Gay di Hiroshima.”

“Lalu artinya?” tanya Andrew.

“Jepang baru saja menerima pukulan yang mungkin tak akan sanggup mereka balas.”

“Sehingga?”

Lee bangkit. “Tuangkan stout itu ke gelasku. Tak lama lagi mereka akan angkat kaki dari negeri ini.”

Keduanya tertawa.

Andrew menuangkan minuman ke dalam dua gelas.

TING!

Gelas mereka beradu sebelum keduanya meneguk isinya dengan tangan bersilangan.

Pintu kembali terbuka. Charles masuk.

“Aku ingin bicara berdua dengan Lee.”

“Oke,” sahut Andrew sambil mendekati pintu. “Nanti kita lanjutkan perayaannya.”

Lee mengangkat gelasnya. Andrew pun keluar dan menutup pintu.

Lee menatap Charles sambil tersenyum tipis.

“Padahal kupikir sekarang saatnya bersenang-senang. Tapi melihat wajahmu, sepertinya kau datang membawa pekerjaan yang jauh lebih berat.”

Charles menarik sebuah kursi. “Duduk, Lee.”

Lee ikut duduk di hadapannya.

Charles terdiam sesaat sebelum berkata, “NICA akan masuk menggantikan Jepang.”

Lee hanya mengangguk, menunggu kelanjutannya.

“Itu berarti...” Charles menatap langsung ke mata Lee. “Irwansyah bukan lagi temanmu.”

Lee mengembuskan napas panjang.

“Aku tahu. Kalau begitu, kirim saja aku pulang.”

“Justru Inggris membutuhkanmu untuk menyerahkannya pada Jepang.”

Lee diam sejenak sebelum menjawab. Wajahnya berubah tegang.

“Kau mengenal Irwansyah. Apa dia benar-benar sebegitu berbahaya bagi Inggris?”

“Sekarang dia bahkan lebih berbahaya daripada sebelumnya.” Charles berhenti sejenak. “Bung Karno ingin menemuinya.”

Lee terdiam beberapa saat.

“Tapi...”

Ia menghela napas pelan.

“Baiklah. Aku akan segera membawanya ke hadapanmu.”

***


Rumah Irwansyah, Cempaka Putih, Jakarta.

Hitler terkejut ketika seorang pria asing datang ke rumah yang ditempati anak-anak asuhan Irwansyah.

“Abang cari siapa?” tanyanya waspada.

Lee menatap anak itu. “Irwansyah ada di sini?”

“Tak kenal.”

“Mamat?”

“Siapa itu Mamat? Abang siapa?”

Beberapa anak lain mulai mendekat. 

Dari sudut matanya, Lee melihat beberapa di antara mereka menggenggam sebilah pisau yang disembunyikan di balik badan.

“Aku sahabat Abang kalian.” Lee melongok ke dalam rumah. “Sepertinya memang tidak ada.”

Ia mengeluarkan selembar kertas dan sebuah pena, lalu mulai menulis.

Semua pihak telah jadi musuhmu. Setelah menerima surat ini, jangan temui lagi siapapun termasuk aku, begitu pula anak-anak asuhmu, hingga benar-benar aman. 

Kuharap suatu hari nanti, kita bertiga masih sempat menikmati secangkir kopi di pinggir kanal.

Lee melipat surat itu, lalu menyerahkannya kepada Hitler.

“Tolong berikan ini kepada Irwansyah... atau Mamat.”

Baru beberapa langkah meninggalkan rumah itu, Lee berhenti. Ia menoleh ke arah anak-anak yang masih memandanginya.

“Setahuku, Irwansyah mengajari kalian membaca dan menulis, bukan sembarang menggunakan pisau.”

Tanpa menunggu jawaban, Lee melangkah pergi, meninggalkan Hitler dan anak-anak yang masih berdiri berjaga.

*** 


Deli Plaza, Medan, 1990

Musik pop mengalun pelan dari pengeras suara, berpadu dengan riuh percakapan pengunjung yang lalu-lalang di koridor Deli Plaza. 

Cahaya lampu memantul pada lantai granit yang mengilap, sementara etalase-etalase toko memamerkan pakaian, sepatu, dan berbagai barang bermerek yang menarik perhatian para pembeli menghadirkan suasana khas pusat perbelanjaan. 

Rizal menemani Fania berbelanja di salah satu toko.

"Sudah sampai mana cerita Atuk?" tanya Fania sambil meraba beberapa baju yang tergantung di sebuah toko.

Lihat selengkapnya