Sumatra Timur, Indonesia, 1946
Kisah ini tidak biasa, namun pantang menyebutnya luar biasa. Ini adalah tentang bumi Melayu yang merana berselimut kabut gelap, padahal nun jauh di atas sana, angkasa merona berhias bintang gemerlap.
Negeri yang baru saja menyatakan kemerdekaannya seharusnya menyambut pagi dengan harapan. Namun, di tanah Melayu yang telah lama berdiri dengan adat dan warisan leluhur, kemerdekaan justru datang bersama luka yang belum pernah mereka bayangkan.
Di atas puing-puing istana yang terbakar, orang-orang mulai bertanya: apakah semua pengorbanan ini memang menuju masa depan yang mereka impikan?
Sementara itu, mereka yang selamat harus memilih jalan masing-masing. Ada yang berusaha menyembuhkan luka, ada yang mencari keadilan, dan ada pula yang melihat kehancuran sebagai kesempatan untuk membangun kekuasaan baru.
Asap masih menggantung di udara ketika orang-orang mulai berani mendekati bekas kompleks Kesultanan Langkat.
Dinding yang dahulu berdiri megah kini hanya menyisakan puing dan arang. Halaman tempat para bangsawan berjalan dengan pakaian kebesaran berubah menjadi tanah kosong yang dipenuhi jejak kehancuran.
Namun, di tengah kehancuran itu, perebutan kekuasaan belum berakhir.
Bagi sebagian orang, runtuhnya istana adalah kemenangan sebuah revolusi. Bagi sebagian lainnya, itu adalah luka yang tidak akan pernah sembuh.
Dan di antara mereka yang berdiri di atas puing-puing sejarah itu, ada orang-orang yang mulai menghitung keuntungan dari sebuah negeri yang sedang kehilangan arah.
Amin, Syam, Hendrik Saringis, dan Yunus adalah sebagian dari mereka.
***
Stasiun Senen, Jakarta, 1946
Jakarta berjalan seperti biasa, kota yang masih sibuk dengan dirinya sendiri. Seperti penghuni rumah baru yang tengah bersemangat menata setiap sudutnya, ibu kota Republik itu larut dalam urusan membangun negeri. Seolah terlupa bahwa di salah satu ujung wilayah Indonesia, sebuah tragedi besar baru saja terjadi.
Farisya dan keluarga Tengku Hasyim, yang telah menetap di Jakarta, belum mendengar kabar tentang Revolusi Sosial di Sumatra Timur. Mereka juga tidak mengetahui nasib keluarga Sani yang telah kembali ke tanah kelahirannya.
Pagi itu, Farisya mendatangi lokasi yang menurut pemberitaan surat kabar menjadi tempat Irwansyah ditangkap Kempeitai Jepang.
Gudang-gudang dan gerbong-gerbong tua di kawasan itu tampak telah ditinggalkan. Tempat yang dahulu dijadikan lokasi pelacuran kini lengang tanpa seorang pun yang bisa dimintai keterangan.
Farisya menyusuri satu per satu gerbong hingga langkahnya terhenti di depan sebuah gerbong tua. Pada dindingnya masih menempel guntingan koran bergambar Bung Karno. Namun, yang membuatnya membeku bukanlah foto sang proklamator.
Di sampingnya, terpajang guntingan koran bergambar Irwansyah—foto yang sama seperti yang pernah dilihatnya di surat kabar. Tepat di sela-sela foto itu, seseorang menyelipkan setangkai mawar yang telah mengering.
Jantung Farisya berdegup semakin kencang. Selama ini ia berusaha menepis segala kemungkinan buruk. Namun, untuk pertama kalinya, harapan dan ketakutan berdiri sama kuat di dalam dadanya.
***
Penjara khusus, Pulau tidak diketahui, 1946
Setelah berbulan-bulan terkurung, kondisi fisik Irwansyah sangat mengenaskan. Tubuhnya tinggal kulit membalut tulang. Rambutnya tumbuh panjang tak terurus, kumis menutupi bibir, cambang memenuhi pipi, sementara janggutnya telah menjuntai hingga ke leher. Ia terbaring lemah dengan tatapan kosong. Kondisi Lee pun tak jauh berbeda.
Pada bulan-bulan pertama, Irwansyah masih rajin menggores lantai menggunakan pecahan genting untuk menghitung hari. Lambat laun, pecahan itu tak lagi dipakai membuat garis, melainkan menjadi alat menuliskan kalimat-kalimat kerinduannya kepada Tengku Farisya.
Pada awal masa penahanan, kedua sel masih dipenuhi sahut-menyahut kisah masa lalu yang diselingi tawa. Seiring waktu, suara-suara itu semakin jarang terdengar. Selain kehabisan cerita, mereka juga harus menghemat tenaga. Pohon pisang yang selama ini menjadi satu-satunya sumber makanan perlahan kehabisan buah.
Kemarau yang paling mereka takutkan akhirnya tiba. Hujan semakin jarang turun hingga benar-benar menghilang. Pohon-pohon pisang meranggas. Daunnya menguning, lalu gugur bersama dahannya. Tak ada lagi bunga yang dapat diharapkan menjadi buah.
Ember yang biasa digunakan menampung air hujan telah lama mengering. Tak tersisa setetes pun air di dasarnya. Beberapa hari sebelumnya, Irwansyah masih sempat mendengar bunyi gelas besi dipukulkan ke jeruji dari arah sel Lee. Setelah itu... sunyi.
Dengan bibir pecah-pecah dan tenggorokan yang nyaris tak mampu mengeluarkan suara, Irwansyah berbisik.
"Lee... jangan mati."
"Kenapa?"
Irwansyah senang karena Lee mampu mendengar dan menjawab walaupun tidak berteriak.
"Kau... belum... kukenalkan... pada... istriku..."
"Tentu aku akan bertahan untuk itu. Kau juga jangan mati."
"Kenapa...?"
"Aku juga ingin mengenalkan seseorang yang cantik dari negerimu."
"Apa... dia... kekasihmu, Lee...?"
"Belum, tapi aku akan menyatakan cinta padanya. Nanti kita harus mengenalkan pasangan kita kepada Edward."
Senyum tipis terukir di wajah Irwansyah. Matanya perlahan terpejam, seolah puas karena masih sempat bercakap-cakap dengan sahabatnya.
Padahal, di ujung deretan sel itu, Lee telah lama terbujur kaku dengan kedua mata terpejam.
***