Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #20

Bab 20. Maaf

Rumah Orang Tua Rizal, Petamburan, Jakarta, Indonesia, 1990

Setibanya di Jakarta, Rizal berpisah dengan Atuk Irwansyah dan Fania, lalu pulang ke rumah orang tuanya.

Seminggu bersama Atuk Irwansyah di Malaysia dan Medan telah memberinya jauh lebih banyak daripada sekadar jawaban atas rasa ingin tahunya. Ia belajar tentang pengorbanan, keberanian, kesabaran, keikhlasan, dan harga yang harus dibayar demi mempertahankan keyakinan.

Fania menerima lamarannya.

Rizal juga akhirnya mengetahui alasan Atuk datang seorang diri ke Malaysia. Istrinya sedang berada di Jakarta, bersama keluarga anak Atuk untuk menemani Fatia, kakak Fania, yang baru saja melahirkan. Atuk Irwansyah kini telah memiliki seorang buyut.

Malam berikutnya seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidup Rizal. Ia telah berencana datang melamar Fania secara resmi.

Namun, sesampainya di rumah, kabar itu berubah menjadi kecemasan. Kakeknya sedang kritis di rumah sakit.

Begitu mendengar kabar tersebut, Rizal segera menghubungi Fania. Di luar dugaan, Atuk Irwansyah pun menyatakan ingin ikut menjenguk.

Walau tidak terlalu dekat dengan kakeknya, Rizal tetap menyayanginya. Sejak kecil ia sering mendengar kisah tentang kehidupan lelaki tua itu yang penuh luka.

Konon, semasa muda sang kakek pernah hidup bergelimang harta. Namun, semuanya perlahan lenyap setelah ia pindah ke Jakarta. Ia pernah dua kali mendekam di penjara. Yang terakhir, setelah dituduh terlibat dalam pemberontakan komunis pada 1965.

Kakeknya hanya memiliki seorang anak perempuan—ibu Rizal.

Karena latar belakang keluarga itu, hubungan ibu dan ayah Rizal dahulu ditentang keras. Ayahnya bahkan diusir dan tidak lagi diakui oleh keluarganya sendiri karena tetap memilih menikahi perempuan yang dicintainya.

Sejak saat itu, kehidupan keluarga mereka tidak pernah benar-benar mudah.

Rizal bersyukur masih dapat menempuh pendidikan di Universitas Indonesia berkat beasiswa pemerintah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia mengajar les bagi anak-anak dari keluarga berada. Di sanalah ia mengenal Fania.

***


Rumah Sakit PELNI, Jakarta, Indonesia

Di luar ruang ICU, Rizal dan ibunya duduk menunggu. Ayahnya masih berada di dalam, mendengarkan penjelasan dokter.

Tak lama kemudian, Fania datang bersama Atuk Irwansyah dan Atuk Puan Farisya.

"Bagaimana keadaan kakekmu?" tanya Atuk Puan Farisya.

"Masih koma, Tuk Puan. Terima kasih sudah datang."

Atuk Puan Farisya menggenggam tangan ibu Rizal.

"Kami turut berduka."

"Maaf... kami jadi tidak bisa melanjutkan lamaran besok," ujar ibu Rizal lirih.

"Tak apa. Keluarga lebih penting."

Pintu ICU terbuka. Seorang perawat keluar.

"Keluarga pasien dipersilakan masuk. Beliau sudah sadar dan ingin bertemu."

Mereka segera memasuki ruangan.

Begitu melihat sosok yang terbaring di ranjang, Atuk Irwansyah dan Atuk Puan Farisya tertegun.

Lelaki tua itu memandang mereka dengan mata yang mulai berkabut.

"Irwansyah..."

Tatapan mereka bertemu.

"...Farisya..."

Suara itu begitu pelan, tetapi cukup membuat keduanya saling berpandangan.

"Syam..." bisik Atuk Irwansyah.

Rizal membeku. Jadi... dugaanku selama ini benar.

Air mata mengalir di pipi lelaki tua itu. "Maafkan... aku—"

Irwansyah mendekat. "Aku memaafkanmu."

Syam menggeleng lemah.

"Bukan... hanya... kepadamu—" Napasnya memburu. "Sejak keluar... dari penjara... aku... tak pernah... benar-benar bebas—"

Ia memejamkan mata sesaat.

"Semua... datang lagi—" Tangannya mulai gemetar. "Wajah-wajah itu—" Ia terisak. "Mereka... memohon—"

Irwansyah menggenggam tangannya. "Sudahlah, Syam."

"Aku... mendengar... jeritan mereka... setiap malam—"

Mendadak mata Syam membelalak.

"Wan..."

Tatapannya terpaku ke sisi tempat tidur.

"Siapa... yang berdiri... di sebelahmu?"

Semua orang menoleh. Tak ada siapa pun.

"Tolong—" Suara Syam bergetar. "Dia... menggenggam... jantungku—"

Irwansyah mendekat hingga bibirnya berada di dekat telinga Syam.

"Ikuti aku." Ia membimbing perlahan. "Asyhadu an la ilaha illallah—"

Bibir Syam tak mampu mengikuti. Napasnya semakin berat.

"Aku… Aku… Aku—"

Ia berhenti. Air mata terakhir mengalir dari sudut matanya. Tubuhnya perlahan kehilangan tenaga.

Hening.

Irwansyah meraba denyut di lehernya, lalu memejamkan kedua mata Syam.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."

Ia menatap keluarga yang ditinggalkan.

"Ikhlaskan. Dan maafkan segala kesalahannya."

Tangis pecah memenuhi ruang ICU.

Atuk Puan Farisya menundukkan kepala. Air matanya mengalir tanpa suara.

***


Rumah Atuk Irwansyah, Jakarta, Indonesia, 1990

Sepuluh hari setelah pemakaman Syam, keluarga Rizal datang ke rumah Atuk Irwansyah untuk melamar Fania.

“Maaf baru malam ini saya memperkenalkan diri.” Ayah Rizal mengulurkan tangan. “Nama saya Azhar.”

Lihat selengkapnya