Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #7

Bab 7. Terperangkap Perang Dunia

Leiden, 1940

Rumah Indekos, 04:00

Suara dengungan menggetarkan kaca-kaca jendela rumah indekos. Irwansyah tetap melanjutkan salat malamnya, meski rasa khawatir mulai mengusik kekhusyukan.

Semula ia mengira hanya beberapa pesawat yang melintas. Namun, suara itu tak kunjung mereda. Semakin lama semakin banyak, seolah seluruh langit dipenuhi raungan mesin. 

Irwansyah membatalkan salatnya, lalu bergegas membuka jendela. Langit yang masih gelap dipenuhi bayangan pesawat yang bergerak ke arah barat daya. 

.Tiba-tiba terdengar dentuman keras yang membuat dadanya serasa ikut berguncang. Seketika bayangan-bayangan mengerikan memenuhi benaknya. 

Jangan-jangan Jerman benar-benar menginvasi Belanda?

Tanpa membuang waktu, ia mengemasi barang-barang penting yang dimilikinya, meski belum tahu harus pergi ke mana.

Begitu keluar dari kamar, ia mengetuk pintu kamar Amin dan Salim yang berdampingan. Ketukannya semakin keras hingga akhirnya pintu kamar Amin terbuka.

"Kau sadar sekarang jam berapa, Wan?" tanya Amin dengan wajah kesal.

Raungan pesawat masih bersahut-sahutan di udara.

"Dengar itu."

Amin menguap lebar. "Kukira kau membangunkanku karena rumah ini kebakaran."

BAM!

Pintu kembali tertutup.

Irwansyah akhirnya keluar seorang diri sambil membawa tas. Jalanan masih lengang. Hanya beberapa orang berdiri di depan rumah masing-masing sambil mendongak ke langit.

Dalam cahaya fajar yang belum sempurna, bayang-bayang pesawat membentuk garis panjang tanpa ujung. Tidak lagi belasan, melainkan puluhan, lalu ratusan. Langit seolah berubah menjadi sungai besi yang mengalir ke arah Den Haag.

"Kenapa tentara kita latihan sepagi ini?" tanya seorang tetangga.

"Apa kau yakin itu tentara kita?" sahut Irwansyah. "Menurutku ada ratusan pesawat yang melintas."

Tetangganya tertawa. "Bagaimana caramu menghitungnya?"

Irwansyah hanya menggeleng pelan. Tak ingin membuang waktu lagi, ia segera bergegas menuju rumah Edward.

***


Rumah Edward, 06.00

Edward mengecilkan volume radio.

"Ini tidak masuk akal. Selama ini Belanda bersikap netral. Untuk apa Jerman menyerang?" Edward menuangkan susu ke dalam dua gelas, lalu menyodorkan salah satunya kepada Irwansyah.

"Terima kasih, Edward." Irwansyah meneguknya sedikit. "Menurutku tujuan akhirnya bukan Belanda."

Edward mengernyit. "Lalu?"

"Inggris."

"Kenapa?"

"Kalau aku menjadi Hitler, aku tak akan membiarkan Inggris memiliki pijakan di seberang Selat Inggris. Cepat atau lambat, pantai utara Prancis dan Belgia akan menjadi sasaran."

Edward terdiam cukup lama. "Masuk akal."

"Kalau perhitunganku tidak meleset... Inggris akan menghadapi masa-masa yang sangat berat. Namun, dibandingkan Belanda, mereka jauh lebih siap bertahan."

"Menurutmu Belanda akan menyerah begitu saja?"

"Jerman sekarang berada di posisi yang sangat menguntungkan. Sementara itu, sikap netral Belanda selama ini menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak menginginkan perang."

Edward mengembuskan napas panjang. "Kalau begitu... masih amankah kita tetap berada di Belanda?"

"Entahlah. Semuanya masih belum jelas."

"Menurutku hanya kau yang tidak aman."

Irwansyah mengangkat sebelah alis. "Kenapa begitu?"

"Kau memang bukan Yahudi. Masalahnya..." Senyum tipis mengembang di wajah Edward. "Warna kulitmu tetap akan menarik perhatian tentara Nazi."

Irwansyah mendesah. "Baru kali ini aku tahu selera humormu justru membaik saat keadaan genting."

Edward tertawa pelan. "Bukankah itu lebih baik daripada kita sama-sama panik?"

"Bagaimana kalau kita menemui Lee? Wartawan biasanya lebih cepat mendapatkan informasi."

Edward menggeleng. "Justru karena dia wartawan, kemungkinan besar dia sedang berada di luar. Setelah mengirim beritanya, aku yakin dia akan mencari kita."

Dari kejauhan, suara pesawat kembali terdengar.

Irwansyah melangkah mendekati jendela. "Jadi kita hanya menunggu?"

"Mau apa lagi?"

"Edward, kita memang warga sipil. Tapi kalau kedua belah pihak mulai bertempur, peluru atau bom bisa jatuh di mana saja."

Raungan pesawat memaksanya menghentikan ucapan.

Baru setelah suara itu menjauh, ia melanjutkan.

"Mau menunggu sampai sebuah ledakan melubangi dinding rumahmu?"

Edward tertawa kecil. "Lalu menurutmu kita harus ke mana?"

"Entahlah. Tapi berdiam diri seperti ini membuatku..."

"Tunggu." Edward menjentikkan jari. "Tadi kau bilang Inggris lebih mampu bertahan daripada Belanda."

"Benar. Lalu?"

Edward berdiri sambil tersenyum. "Sudah lama aku ingin menunjukkan kampung halamanku kepadamu."

"Saat seperti ini aku justru lebih merindukan Profesor Edward yang gemar memenuhi kepalaku dengan teori-teori rumit." Irwansyah mendecak. "Sayangnya, hari ini dia sedang ingin menjadi Charlie Chaplin."

"Kalau aku mulai melucu, justru tandanya aku sedang benar-benar serius."

"Terserah. Yang penting sekarang kita bergerak mencari informasi."

Edward meraih mantelnya.

"Tapi sebelumnya, kita harus ke kampus. Semua tulisanku di sana lebih berharga daripada seluruh barang yang ada di rumah ini."

Irwansyah menatap sahabatnya beberapa saat.

"Edward... kau benar-benar serius ingin pergi ke Inggris?"

***


Kampus Leiden, 09.00

Suasana kampus jauh lebih lengang daripada biasanya. Hanya segelintir orang yang datang, bukan untuk mengikuti perkuliahan. Sebagian ingin memastikan keadaan kampus, sementara yang lain bergerombol di sekitar radio dan surat kabar, berharap memperoleh kabar yang lebih pasti.

Lihat selengkapnya