Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #8

Bab 8. Mencari Jalan Pulang

Cambridge, England, 1940

Taksi melaju perlahan meninggalkan Stasiun Cambridge. Langit kelabu menggantung rendah, sementara gerimis tipis membasahi kaca depan. Dedaunan musim semi yang baru bermekaran bergoyang lembut diterpa angin. Irwansyah memandang ke luar jendela tanpa banyak bicara.

Perjalanan dari pelabuhan menuju Cambridge menghadirkan ketenangan yang sangat berbeda dari Belanda. Tak lagi terdengar dengung ratusan pesawat tempur yang menguasai langit. 

Sesekali ia melihat petani membajak ladang, anak-anak berseragam berjalan pulang beriringan, serta para pesepeda yang melintas tenang di jalan-jalan sempit. Sulit membayangkan negeri ini sedang bersiap menghadapi perang yang sewaktu-waktu bisa mengetuk pintunya.

Edward melirik surat kabar yang terlipat di kursi depan, lalu mengambilnya.

"Koran ini terbit pagi tadi. Berita tentang jatuhnya Belanda ke tangan Jerman pasti belum sempat dimuat." 

Ia membolak-balik halaman.

"Ngomong-ngomong soal koran, aku jadi teringat Lee. Ternyata dia tidak ikut bersama kita di kapal."

Setelah diam sejenak, ia melanjutkan.

"Dan ada satu hal lagi yang menggangguku."

Edward melipat kembali surat kabar itu.

"Perwira Inggris tadi lebih menghormatinya daripada aku, padahal dari wajahnya saja jelas Lee bukan orang Inggris. Kau tahu sebenarnya dia berasal dari mana?"

"Dia warga negara Inggris keturunan Tionghoa."

"Hm. Aku curiga dia bukan sekadar wartawan."

"Oh? Karena seragam yang dipakainya tadi mirip seragam militer?"

"Itu salah satunya. Dia juga menguasai terlalu banyak bahasa."

"Apa anehnya?” Irwansyah tertawa pelan. “Bukankah pekerjaannya memang menuntutnya mencari informasi di berbagai negara?"

"Justru karena itu. Pemerintah Inggris bisa saja memanfaatkan kemampuannya untuk tugas yang lebih penting."

"Intelijen?" Irwansyah terdiam sejenak. "Masuk akal. Ceritanya tentang tokoh-tokoh berpengaruh memang selalu jauh lebih lengkap daripada berita yang akhirnya dimuat di koran."

Edward menyandarkan punggungnya. "Sekarang aku jadi lebih tenang."

"Kenapa?"

"Setidaknya sekarang aku tahu mengapa perwira Inggris itu lebih mendengarkan Lee daripada seorang profesor Leiden asal Inggris tulen."

Keduanya tertawa pelan. Tak lama kemudian, keheningan kembali mengisi perjalanan.

Irwansyah kembali memandang ke luar jendela. Taksi berbelok memasuki jalan yang diapit deretan rumah bata merah bergaya Victoria. Cerobong-cerobong asap menjulang di atas atap batu tulis yang mulai diselimuti lumut.

Hampir setiap rumah memiliki taman kecil dengan semak yang dipangkas rapi dan bunga-bunga musim semi yang bermekaran sederhana. Di kejauhan, menara-menara batu perguruan tinggi menjulang anggun, sementara Sungai Cam mengalir tenang, memantulkan bayangan pohon-pohon willow yang meliuk lembut diterpa angin.

Edward meminta sopir menghentikan taksi. Mereka turun di depan sebuah rumah yang berdiri di jalan tenang, tak jauh dari kawasan perguruan tinggi.

"Selamat datang di rumah yang hanya dihuni buku-buku," ujar Edward.

Pintu depan terbuka. Seorang perempuan bertubuh tambun berkulit hitam menyambut mereka dengan senyum ramah.

"...dan seorang pembantu yang begitu teliti hingga tak mengizinkan sebutir debu pun tinggal di dalamnya."

Irwansyah tersenyum sambil memandangi rumah itu. Bangunannya memang tidak besar, tetapi memancarkan kesan kokoh dan hangat. Dinding bata merahnya telah menggelap dimakan usia, sementara tanaman ivy merambat hingga hampir mencapai jendela lantai dua.

Perempuan itu mengambil tas Edward, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.

Setelah mengajak Irwansyah berkeliling, Edward mengundangnya duduk di teras depan. Mereka menikmati secangkir teh hangat sambil memandangi taman kecil yang mulai basah oleh gerimis sore.

"Kira-kira sampai kapan kita akan berada di Inggris?" tanya Irwansyah setelah menyeruput tehnya.

"Menurutmu, negara mana yang sanggup menghentikan invasi Jerman?"

"Tidak ada, jika harus menghadapi Jerman sendirian."

"Kalau begitu, seharusnya kau tidak perlu bertanya."

Irwansyah menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Sepertinya kita akan kembali melihat pesawat-pesawat tempur memenuhi langit dari taman ini."

“Tenang. Jika dia menjatuhkan bom…” Edward tersenyum tipis. "Setidaknya keinginanku dimakamkan di taman rumah ini akan terwujud."

Ia menepuk bahu Irwansyah.

"Setelah menguburku di sini,... rumah ini boleh menjadi milik kau dan pembantuku." Edward terkekeh.

Di kejauhan, lonceng perguruan tinggi berdentang pelan. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Belanda, ia merasakan sesuatu yang menyerupai kedamaian—meski jauh di ufuk timur, perang terus bergerak mendekat. 

***


Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij, Pangkalan Brandan, Kesultanan Langkat, 1940

Di ruang kerjanya, Willem van Dijk membaca laporan pegawai keuangan sambil mencoret beberapa bagian dengan pensil merah.

"Angka produksi ini masih bisa kaukurangi lagi," komentarnya.

"Apa itu tidak akan menimbulkan kecurigaan, Tuan Dijk?" tanya pegawai keuangan sambil menggeser kursinya lebih dekat.

Dijk melepas kacamatanya.

"Siapa yang akan curiga? Gubernur Hindia Belanda yang tidak mengerti soal minyak? Atau para petinggi Shell di Eropa yang sekarang lebih sibuk berlindung dari serangan Nazi?"

Pegawai keuangan memberi isyarat ke arah ruang para insinyur.

"Mereka?" Dijk terkekeh. "Sejak aku memecat salah satu dari mereka yang terlalu banyak bicara, tak ada lagi yang berani membuka mulut."

Pegawai keuangan mengangguk sambil merapikan laporannya.

"Baiklah. Angkanya akan saya sesuaikan lagi."

Dijk bangkit, lalu berjalan menuju brankas besi di sudut ruangan.

"Oh ya, Tuan Dijk." Pegawai keuangan ikut berdiri. "Orang Hindia Belanda bernama Syam itu memberi kabar. Mulai malam ini minyak akan diangkut menggunakan truk-truk polisi."

"Truk polisi?"

Dijk membuka brankas, mengambil beberapa lembar uang gulden, lalu tersenyum tipis.

"Utusan Fraksi Nasional dari Batavia itu semakin rapi bermain."

Ia menyerahkan uang tersebut kepada kepala keuangan.

"Bicarakan dengan bagian penyimpanan minyak. Dan bagikan ini kepada orang-orang yang tidak menyulitkan urusan kita."

***


Pelabuhan Brandan, Kesultanan Langkat, 1940

Di Pelabuhan, Syam berdiri bersama Arthur Blackwood, pengusaha pelayaran dan perdagangan berkebangsaan Inggris. Mereka mengawasi pemindahan drum-drum minyak hasil penyelundupan dari truk-truk polisi ke sebuah kapal barang yang akan berlayar menuju Penang.

Syam datang bersama dua orang kepercayaannya, Yunus dan Hendrik Siringis.

Yunus seorang ketua perkumpulan buruh di Langkat, mengatur para buruh yang mengangkat drum-drum minyak ke dalam palka kapal, sementara Hendrik Siringis mengoordinasikan para preman yang berjaga bersama beberapa polisi Belanda.

Di geladak kapal, Syam berbincang dengan Arthur dalam bahasa Inggris, ditemani Hendrik Siringis.

"Sepertinya semua minyak sudah selesai dimuat," ujar Syam.

"Ini sudah semua?" Arthur menggeleng pelan. "Mengapa menjual sedikit demi sedikit, Syam? Aku sanggup membeli semuanya."

"Bukankah ini jumlahnya jauh lebih banyak daripada biasanya?" Syam memandang deretan drum yang memenuhi geladak. "Masih belum cukup untuk kebutuhanmu di Penang?"

Arthur tersenyum.

"Kalau kau bisa menyediakan lebih banyak lagi, aku juga dapat memasarkannya ke Singapura, Hong Kong, bahkan Shanghai."

Syam mengangguk.

"Produksi minyak Brandan sedang tidak sebanyak dulu. Tapi aku akan mencoba mendapatkannya dari kilang di Palembang atau Kalimantan, asalkan pembayaranmu tetap lancar."

Arthur menoleh kepada anak buahnya.

"Bawa uangnya."

Beberapa saat kemudian, sebuah koper diletakkan di atas meja. Tutupnya dibuka, memperlihatkan tumpukan uang pound sterling dan beberapa batang emas.

Syam memberi isyarat kepada Hendrik Siringis. "Hitung."

Hendrik segera memeriksa isi koper dengan saksama.

"Kudengar perang di Eropa semakin meluas," kata Syam. "Apa itu akan memengaruhi bisnis kita?"

"Justru sebaliknya." Arthur tersenyum tipis. "Perang membuat minyak ilegal semakin bernilai. Risikonya memang lebih besar, tetapi orang-orang seperti kita selalu menemukan pembeli yang bersedia membayar harga dari risiko itu."

Syam tersenyum puas.

Tak lama kemudian, Hendrik Siringis menutup koper dan mengangguk pelan.

"Semuanya lengkap."

"Terima kasih, Syam." Arthur mengulurkan tangan. "Aku menunggu kabar baik berikutnya."

Keduanya berjabat tangan, sementara para buruh terus mengangkut drum-drum minyak ke dalam kapal di bawah pengawasan polisi dan para preman.

***


Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij, Pangkalan Brandan, Kesultanan Langkat

Tok... tok... tok...

Seorang anak buah Willem van Dijk membuka pintu. Dua orang tamu masuk. Salah satunya berseragam polisi.

“Tuan Van der Meer!” Mata Dijk membelalak. Sejenak wajahnya memucat.

Mustahil... Jangan-jangan penyelundupan minyak semalam sudah terbongkar.

Ia segera bangkit menyambut kedatangan Sekretaris Residen Sumatra Timur itu bersama Komisaris De Vries.

"Apa kabar, Willem van Dijk?" sapa Van der Meer santai.

"Maaf, Tuan Van der Meer. Saya tidak tahu jika Tuan akan datang..."

Van der Meer mengulurkan tangan. "Tenang saja. Kunjunganku memang mendadak."

Dijk menjabat tangan Van der Meer, lalu Komisaris De Vries, meski kegugupannya masih jelas terlihat.

"Aku hanya ingin menyapamu sebelum bertemu Syam. Ada beberapa hal penting yang ingin kami bicarakan."

"Oh... begitu. Silakan. Dia sedang berada di ruang kerjanya."

"Baik. Kalau masih sempat, nanti aku mampir lagi."

Setelah kedua tamunya pergi, Dijk mengembuskan napas panjang. Jantungnya masih berdegup keras.

"Kenapa beliau menemui Syam, bukan Tuan?" tanya salah seorang anak buahnya.

Dijk mengusap keringat di dahinya dengan saputangan.

"Mungkin..." Ia menggeleng pelan. "Sudahlah. Tak usah dipikirkan."

***

Lihat selengkapnya