Rumah Irwansyah, Tanjung Pura, Kesultanan Langkat, 1943
Pernikahan Irwansyah dan Farisya baru berlangsung dua hari. Namun, gurauan yang sering ia lontarkan kepada Sani—"Macam besok nak kiamat kurase"—kini seolah menjadi prinsip hidupnya. Tidak ada waktu berlama-lama menikmati kebahagiaan. Negeri mereka sedang berada di ujung tanduk.
Malam itu, Irwansyah mengumpulkan beberapa orang kepercayaannya di Langkat untuk membicarakan langkah perjuangan.
"Jepang menguras minyak Brandan tanpa sedikit pun menyejahterakan rakyat kita. Jepang saja tidak boleh menguasainya, apalagi kelompok Syam," ujar Irwansyah.
"Kami sebenarnya sudah berhasil memenjarakan Syam. Sayangnya, Jepang malah mempercayainya mengurus minyak Brandan," sahut Barep.
"Ya, Abang sudah mendengar kabar itu," kata Irwansyah.
"Lalu ape yang kau rencanakan?" tanya Tengku Usman.
Tatapan Irwansyah beralih kepada setiap orang yang hadir.
"Kita akan merusak kilang minyak Brandan."
Ruangan mendadak hening. Wajah-wajah yang semula tenang berubah tegang.
Irwansyah kemudian menatap Burhan.
"Kau sanggup mengumpulkan orang-orang pemberani sepertimu?"
Burhan mengusap gagang parang di pinggangnya.
"Tinggal sebut kapan, Bang. Kami buat kilang minyak itu luluh lantak."
Irwansyah menggeleng pelan.
"Aku tidak akan gegabah mengorbankan kawan. Semua harus direncanakan dengan sangat matang."
Ia lalu menoleh kepada Barep.
"Sejak KNIL dibubarkan Jepang, apa kegiatanmu?"
"Saya ikut Budi kembali nguli, Bang."
"Oh, ya. Budi mana? Kenapa tidak hadir?"
"Budi babak belur dipukuli orang-orang Hendrik Saringis."
"Innalillahi..." gumam Irwansyah lirih.
Suasana kembali memanas, tetapi Irwansyah segera mengendalikan keadaan.
"Yo wis, Barep. Habis pertemuan ini Abang neng omah Mbok Yem, nengok Budi."
"Njih, Bang."
Irwansyah mengedarkan pandangannya lagi.
"Saya juga tidak melihat Asril."
"Asril sedang berjuang di Batavia, Wan," jawab Rusdi.
"Oh, dia sudah tidak di Langkat."
Rusdi mendekat.
"Oh ya, kau tahu Jepang sedang mengumpulkan para pemuda pribumi untuk dilatih menjadi tentara?"
"Saya mendengarnya. Lalu?"
"Menurut saya, Barep dan teman-temannya yang pernah menjadi anggota KNIL sebaiknya bergabung. Dengan begitu, kita punya orang di pihak mereka."
Barep menggeleng.
"Maaf, Bang Rusdi. Rasanya sulit mengajak teman-teman kembali menjadi tentara. Lagipula, Jepang juga sedang merekrut banyak pribumi untuk bekerja di luar Sumatra."
"Bagaimana menurutmu, Wan?" tanya Rusdi.
Irwansyah terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Sebenarnya Jepang melatih para pemuda agar mereka berperang demi kepentingannya."
Tatapannya beralih kepada Barep.
"Mereka juga menjanjikan pekerjaan. padahal sebagai tenaga kerja paksa untuk menopang logistik perang."
"Berarti kau ingin kita bersikap frontal terhadap Jepang?" tanya Rusdi.
Irwansyah menggeleng. "Bukan begitu. Kita harus pandai bermain tarik ulur. Jepang akan bertindak sangat keras jika kita terang-terangan melawan. Sebaliknya, mereka akan lengah bila mengira kita termakan propaganda mereka."
Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan.
"Justru aku setuju dengan usul Rusdi. Jauh lebih baik melatih kemampuan berperang daripada menjadi romusha. Soal kebutuhan hidup mereka, aku bisa membicarakannya dengan Sani."
"Njih, Bang," jawab Barep mantap.
Irwansyah memandang seluruh orang yang hadir.
"Baiklah. Sekarang akan kujabarkan rencana kita dan kubagi tugas masing-masing. Penghancuran kilang minyak Brandan bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dalam semalam. Kita akan bergerak setahap demi setahap, tanpa mengundang kegaduhan."
Pertemuan itu pun berlanjut hingga larut malam, sementara setiap orang mulai memahami peran yang harus mereka emban dalam perjuangan yang baru saja dimulai.
***
Restoran Tsim Sha Tsui, Medan, Kesultanan Deli
Irwansyah kembali mendatangi restoran tempat ia terakhir kali bertemu dengan Lee. Ia ingin mendapat informasi dari sahabatnya.
Ia memesan secangkir kopi sambil membaca koran, seolah hanya seorang pelanggan biasa. Setelah kopinya tandas, ia memanggil pelayan.
Tanpa sepatah kata, pelayan itu menyelipkan secarik kertas ke samping cangkirnya.
Tertarik jalan-jalan sambil membahas Syam?
Tunggu di depan restoran. Fiat hitam akan menjemput.
Irwansyah melipat kertas itu, lalu melangkah keluar. Tak lama kemudian, sebuah Fiat hitam berhenti tepat di hadapannya.
***
"Apa kabar, Irwansyah? Perkenalkan, saya Charles."
Pria itu mengulurkan tangan. Mereka duduk berdampingan di jok belakang, sementara seorang pria lain mengemudikan mobil. Di kaca spion, tampak sebuah mobil lain mengikuti dari belakang.
"Di mana Lee?" tanya Irwansyah.
"Dia sedang menjalankan tugas lain." Charles tersenyum tipis. "Yang Anda perlukan Lee... atau informasi?"
"Informasi tentang pendudukan Jepang. Bukan hanya di Sumatra Timur, tetapi juga di wilayah-wilayah yang mereka anggap strategis."
Charles menunjuk sebuah koper di samping pengemudi.
"Semua yang Anda butuhkan ada di dalamnya. Laporan intelijen dan hadiah kecil untuk melindungi diri."
Irwansyah menatap Charles.
"Kalau saya menerimanya, apa yang Anda harapkan sebagai balasan?"
"Tidak ada."
"Benarkah?"
"Kami hanya membantu seorang teman yang sedang menghadapi musuh yang sama dan…" Charles tersenyum tipis. "Kami hanya berharap kau menang."
Pengemudi mengangkat koper ke jok belakang. Irwansyah menerimanya, lalu membuka penguncinya.
Di dalamnya tersusun rapi berkas-berkas mengenai Jepang, termasuk berkas penyelundupan minyak Brandan, sebuah Webley Mk IV Revolver, serta beberapa kotak peluru.
"Kalau suatu hari Anda berhasil membentuk pasukan," lanjut Charles, "kami bahkan bisa menyediakan selusin Sten Mk II."
Irwansyah menggeleng. “Ini saja sudah lebih dari cukup. Saya hanyalah orang sipil yang bahkan tidak tega membunuh binatang tanpa alasan."
"Saya tahu, tapi karena anda bisa mengoperasikannya sebaiknya anda simpan untuk berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk.”
Irwansyah menutup kembali koper itu. “Baiklah.”
Charles tersenyum. "Bila suatu saat Anda membutuhkan bantuan lebih besar, cukup datang ke Restoran Tsim Sha Tsui dan pesan secangkir kopi."
Irwansyah mengangguk. "Terima kasih. Bisakah Anda menurunkan saya di sini?"
Charles terkekeh pelan.
"Jangan. Sekarang Anda membawa sesuatu yang terlalu berbahaya."
Mobil itu berhenti beberapa ratus meter kemudian.
"Mobil ini juga untuk Anda."
Irwansyah menatap Charles, seolah tidak yakin dengan apa yang baru didengarnya.
"Anggap saja sebagai pinjaman sampai perang ini berakhir."
Charles membuka pintu, lalu turun bersama pengemudi. Keduanya berpindah ke mobil yang sejak tadi mengikuti dari belakang.
Sebelum pintu ditutup, Charles menoleh sekali lagi.
"Semoga perjuangan Anda berhasil."
***
Istana Maimun, Medan, Kesultanan Deli
Sedan fiat hitam parkir di halaman Istana.
Irwansyah memulai misi pertamanya sebagai tali penyambung dengan menghadap Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah.
Siang itu Sultan Deli berkenan menerimanya di ruang tamu istana.
"Sampaikan maksud kedatanganmu," ujar Sultan, menatap Irwansyah yang bersimpuh di hadapannya.
"Maaf atas kelancangan hambe, Tuanku Yang Mulie. Hambe datang untuk membicarakan cite-cite kemerdekaan sebuah bangse baru bername Indonesia."
Sultan terdiam sejenak.
"Aku sudah sering mendengar tentang itu. Namun, baru kali ini aku berjumpe dengan orang yang menginginkannye dan berani mengatakannye langsung di hadapanku."
Tatapannya semakin tajam.
"Tapi sesungguhnye aku lebih berharap berjumpe dengan orang yang hendak kalian tunjuk sebagai pemimpin bangse baru itu."
"Maafkan hambe, Tuanku Yang Mulia."
Irwansyah menyatukan kedua telapak tangannya.
"Hambe hanyelah rakyat kecil yang tumbuh di lingkungan kesultanan. Karena itu, hambe datang bukan untuk berdiri di salah satu pihak."
"Bile engkau tidak berdiri di pihak mane pun, ape pentingnye menghadap?"
"Hambe ingin mengajukan diri sebagai tali penyambung silaturahmi antare kedue belah pihak. Situasi saat ini tidak memungkinkan para pemimpin bertemu secare langsung."
"Oh, begitu?" Sultan mengangguk pelan. "Baiklah. Katakan ape yang hendak kau sambungkan."
"Jepang telah menghapus konsesi dan berbagai kebijakan yang mempersempit kekuasaan serta wewenang kesultanan. Sementara itu, para pemimpin perjuangan sedang berjuang mengusir penjajah. Ape kesultanan tidak ingin ikut andil?"
"Melawan Jepang, maksudmu? Ape kau belum tahu seberape besar kekuatannye?"
"Sangat besar, Tuanku. Namun Perang Dunie sedang berlangsung. Bagaimane bile Jepang kalah melawan Sekutu?"
"Seandainye itu terjadi, bukankah Belande akan datang kembali?"
"Betul, Tuanku. Belanda pasti kembali untuk mengambil kekayaan alam kite. Maafkan hambe. Mane yang lebih baik, membaginye bersame Belande yang sesungguhnye tidak berhak, atau bersame saudare kite sendiri?"
“Lebih baik membagi kepade siape?”
Sultan tersenyum tipis.
"Kau tahu mengape aku menerima kedatanganmu?"
Irwansyah hanya menundukkan kepala.
"Banyak orang menyebut namamu. Tengku Rasyid, Sultan Langkat Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah, bahkan..."
Sultan menggeleng pelan sambil tersenyum.
"...Pemerintah Hindia Belande pun pernah gusar kepademu semase di Leiden."
Irwansyah kembali menyatukan kedua telapak tangannya. "Ampun, Tuanku."
"Sudahlah. Tak perlu terlalu formal."
Wajah Sultan melunak.
"Aku bahkan tak jarang melihatmu semase kecil bermain di istane ini. Sayang, hatimu justru lebih condong kepade Langkat."
Ia menunjuk kursi di sampingnya. "Duduklah di sisiku."
Irwansyah menurut.
"Mungkin pendapatmu tadi benar, Anakku. Namun, belum sepenuhnye bijaksane."
Irwansyah mendengarkan tanpa menyela.
"Ini bukan sekadar soal membagi kekayaan alam kepade saudare sendiri. Bagi Belande, itu bererti kite telah menetapkannye sebagai musuh."
"Maaf, Tuanku. Lalu bagaimane bile sebuah negeri bername Indonesia benar-benar lahir dan melawan Belande, sedangkan kite berade di pihak yang berseberangan dengannye?"
Sultan terdiam cukup lama.
"Kini aku paham maksudmu."
Ia mengembuskan napas pelan.
"Cepat atau lambat, kali ini kite memang harus memilih, kepade siape kite hendak berkawan."
"Betul, Tuanku."
"Hambe hanyelah tali penyambung. Keputusan tetap berade di tangan Tuanku. Setelah dari sini, hambe akan menghadap kesultanan-kesultanan lain di Sumatera Timur, lalu berangkat ke Batavia untuk menyampaikan amanah Kesultanan kepade pemimpin perjuangan."
Percakapan itu masih berlanjut beberapa waktu. Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan, Sultan akhirnya menyerahkan sebuah dokumen yang telah dibubuhi cap dan tanda tangan resmi Kesultanan Deli. Isinya menyatakan dukungan, sekaligus memuat sejumlah pertanyaan mengenai bentuk pemerintahan yang kelak akan dibangun apabila Indonesia merdeka.
Surat resmi pertama itu menjadi bekal berharga bagi Irwansyah. Dengan dokumen tersebut, langkahnya menghadap para sultan dan raja di seluruh Sumatera Timur menjadi jauh lebih mudah.
***
Kantor Shūchōkan Sumatera Timur, Medan, Kesultanan Deli, 1943
Kobashi mengamati para prajuritnya yang sedang berlatih kumite. Tak lama kemudian, seorang prajurit menghampiri, memberi hormat, lalu membisikkan sesuatu.
Kobashi mengangguk. Prajurit itu segera berlalu.
Beberapa saat kemudian, ia kembali bersama Irwansyah. Wajah Kobashi langsung berseri. Keduanya saling menyapa dalam bahasa Jepang.
“Bagaimana kau tahu aku bertugas di sini?” tanya Kobashi.
“Ini kampung halamanku. Bagaimana mungkin aku tidak tahu ketika seorang sahabat datang berkunjung?” jawab Irwansyah.
Kobashi tersenyum, lalu melirik para prajurit yang masih berlatih.
“Mau sedikit berkeringat sambil mengenang masa lalu?” tanyanya.
“Apa kau masih ingin pamer melawan orang yang jelas tak mungkin mengunggulimu?” sahut Irwansyah sambil tersenyum tipis.
“Dulu kau pernah mengalahkan beberapa teman kita. Apa sekarang kau sudah jarang berlatih?”
“Sejak ikut Tuan Yano Kenzo ke Bukittinggi. Kegiatanku sekarang hanya mendampingi beliau menemui masyarakat.”
“Sesekali aku masih berlatih silat yang dulu kau ajarkan. Menurutku gerakannya kurang efektif.”
“Itu karena kau mempelajarinya dari orang yang bukan ahlinya.” Irwansyah tersenyum. “Aku kenal seseorang yang jauh lebih pantas. Kalau kau memang ingin berkeringat, dialah lawan yang tepat.”
Mata Kobashi langsung berbinar.
“Di mana dia?”
***
Tanjung Pura, Kesultanan Langkat
Di sebuah tanah lapang yang dikelilingi ilalang, Kobashi berdiri berhadapan dengan Burhan.
Irwansyah baru saja memperkenalkan mereka sekaligus menjadi penerjemah saat keduanya berbincang singkat.
Mereka sepakat bahwa pertarungan ini semata-mata untuk latihan dan saling memperkenalkan teknik bela diri masing-masing. Tidak boleh ada serangan lagi begitu Irwansyah menghentikan pertandingan atau salah satu petarung menyatakan menyerah.
Kedua petarung saling memberi hormat.
“Mulai!” seru Irwansyah.
Kobashi segera memasang kuda-kuda. Di hadapannya, Burhan mulai bergerak perlahan dengan langkah yang menyerupai tarian.
Mereka saling mendekat.
Kepalan tangan Kobashi melesat lurus ke depan. Burhan mengelak sambil menangkap lengan lawannya dengan tangan kanan, lalu siku kirinya menghantam tulang rusuk Kobashi.
Kobashi mundur beberapa langkah sambil menahan nyeri. Senyum tipis terbit di wajahnya. Akhirnya ia menemukan lawan yang mampu mengimbanginya.
Irwansyah memberi isyarat agar pertandingan dilanjutkan.
Keduanya kembali maju.
Burhan membuka serangan dengan sapuan kaki ke arah betis. Kobashi mengangkat kakinya untuk menghindar. Begitu telapak kakinya kembali menapak tanah, ia langsung melepaskan tendangan memutar ke arah kepala lawan.
Burhan sempat menyilangkan kedua lengan sebagai tameng. Namun tenaga Kobashi begitu besar hingga benturan itu hampir menembus pertahanannya dan membuat tubuh Burhan oleng.
Melihat celah terbuka, Kobashi melompat sambil melancarkan pukulan.
Kali ini pertahanan Burhan runtuh. Kepalan tangan Kobashi menyambar pelipisnya hingga robek dan mengucurkan darah.
Melihat itu, Irwansyah segera melerai.
“Hanye luke,” ujar Burhan sambil mengusap darah di pelipisnya. “Menyingkirlah dulu, Bang.”
Irwansyah mengangguk lalu mundur beberapa langkah.
Burhan kembali memainkan langkah bunga silat. Tubuhnya bergeser ke kiri dan ke kanan sebelum tiba-tiba tangan kanannya melesat ke arah kepala Kobashi.
Kobashi berhasil menangkis.
Namun Burhan sengaja menjaga jarak tetap rapat. Dipadukan dengan gerakannya yang sulit ditebak, Kobashi hanya mampu bertahan sambil menangkis rentetan serangan yang datang tanpa jeda.
Sebuah siku menghantam paha luar Kobashi.
Dalam satu gerakan yang nyaris tak terlihat, Burhan sudah berpindah ke belakang tubuh lawannya, lalu menendang bagian belakang kaki kiri Kobashi.
Lutut Kobashi langsung menekuk. Keseimbangannya hilang dan ia jatuh berlutut.
Burhan segera mengunci posisi dari belakang. Tangan kirinya mencengkeram kepala Kobashi, sementara dua jari mengarah ke titik nadi di sisi leher.
Dua jari itu berhenti hanya beberapa senti sebelum menyentuh sasaran.
Dalam dua tarikan napas, Burhan melepaskan cengkeramannya lalu mundur mengambil jarak.
Kobashi bangkit perlahan.
“Irwansyah,” katanya, “katakan padanya, aku mengakui keunggulannya.”
Irwansyah menerjemahkan ucapan Kobashi.
“Tolong bilang juga, Bang,” ujar Burhan, “bagaimanapun aku tetap menghormati lawan setangguh dia.”
Irwansyah kembali menerjemahkan.
Kobashi membungkukkan badan. Burhan membalas hormat dengan cara yang sama.
“Kami belum mencoba bertarung menggunakan senjata tajam,” kata Kobashi ketika melihat Burhan kembali menyelipkan parang di pinggangnya.
“Jangan sekarang,” jawab Irwansyah. “Kalau kalian ingin berlatih lagi, kita buat dulu samurai dan parang dari kayu. Aku tidak ingin terjadi kecelakaan.”
Kobashi tertawa pelan. “Terima kasih telah mempertemukanku dengan pesilat yang jauh lebih hebat darimu. Tadinya kukira silat kurang efektif. Ternyata justru sangat mematikan.”
Irwansyah ikut tersenyum.
“Aku tahu kau selalu menyukai pertarungan. Sebenarnya aku sengaja menyenangkan hatimu karena ingin meminta bantuan.”
“Bantuan apa?”
“Apa kau cukup dekat dengan Tuan Nakashima?”
“Boleh dibilang, aku salah satu anak buah kepercayaannya.”
“Seorang pribumi bernama Syam sedang memanfaatkannya dalam urusan minyak Brandan. Aku memiliki bukti yang cukup kuat, jika kau bersedia menyerahkannya kepada beliau.”
“Kenapa tidak kau serahkan sendiri? Aku bisa mempertemukan kalian.”
“Aku tidak ingin Tuan Nakashima membatalkan masa pensiunku sebagai anak buah Tuan Yano. Sebagai orang sipil, aku sangat menikmati hidup yang jauh dari kerasnya latihan militer.”