Laut Selat Malaka, 1943
Kapal tanker Sultan van Langkat membelah perairan Selat Malaka.
Angin laut menerpa wajah Irwansyah dan Asrul yang berdiri di anjungan.
“Sedih betul nasibmu. Habis kawin pun tak selesai-selesai kau jadi bujang lapuk.” Asrul terkekeh. “Hahaha!”
“Ape mau dikate, Rul? Semue dah tertulis di Lauhul Mahfuz.” Irwansyah tersenyum tipis. “Kupikir dah dijemput maut di tempat orang-orang berperang, ternyate jantung ni masih berdetak.”
Ia menatap hamparan laut.
“Kupikir kapal minyak hanye akan membaweku pulang. Rupanye malah membaweku menjauh lagi.”
Irwansyah menoleh kepada sahabatnya.
“Kalau nak mencari salah... kaulah orangnye. Siape lagi yang sekarang sedang menjauhkanku dari rumah?”
Asrul terkekeh.
“Lame tak jumpe sejak lulus sekolah, tiba-tiba kau berondok pulak di kapalku.” Ia menepuk bahu Irwansyah. “Kau orang penting di Kesultanan Langkat. Kenape pulak harus menunggu aku yang mengantar kalau sekadar nak merasakan naik kapal ni?”
Irwansyah mengusap pagar anjungan.
“Kapal ni bukan sembarang kapal, Rul. Kapal ni membawe minyak. Hanye nakhode terbaik yang boleh mengemudikannye.”
“Pandai betul kau membuat hati orang senang.”
“Eh, kapal kau ni dah kukenal sejak kecik.”
“Ah, mane pulak?”
“Atukku pernah membaweku naik sampan ke tengah laut. Beliau bilang suatu hari aku akan naik kapal minyak ni.” Irwansyah tersenyum kecil. “Tak kusangke, yang membuat ucapan Atukku terbukti rupanye kawan sekolahku sendiri.”
Asrul menggeleng sambil tertawa.
“Dipikiranmu dulu, macam mane gambaran seorang nakhode?”
“Gagah. Macam HangTuah di cerite.”
“Aslinye?”
Irwansyah menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. “Ternyate…”
“Macam Hantu.”
Keduanya tertawa lepas.
Beberapa saat kemudian mereka sama-sama memandangi laut.
“Sejak kapan kau membawe kapal ni, Rul?”
“Sejak due bendere masih berkibar di atas tiang kapal ini. Bendere Belande dan bendere Kesultanan Langkat.” Asrul mengangkat dagunya ke arah buritan. “Kini hanye tinggal bendere itulah.”
Irwansyah menoleh ke belakang. Bendera matahari terbit berkibar diterpa angin laut.
“Dulu aku bangge menjadi nakhoda kapal ni,” lanjut Asrul. “Sultan memperlakukanku bagai pejabat penting. Sekarang... aku tak lebih dari tukang angkut barang.”
Irwansyah hanya tersenyum tipis.
“Upahku dipangkas macam rambut tentare Jepang. Care menyuruhku pun sepele kali, macam menyuruh orang mengangkut pisang ke atas pedati.” Asrul terkekeh. “Padahal, kalau minyak ni kubawe lari, biselah aku membangun rumah sebesar Istane Maimun.”
“Habis tu kau digantung Jepang di halaman rumahmu sendiri. Tapi… bagus pulak.” Irwansyah mengangkat alis. “Belum ade rumah dengan pemandangan nakhode tergantung di depan.”
“Cacing kapang, kau!”
Mereka kembali tertawa.
Tak lama kemudian Asrul bertanya, “Eh... jadi macam mane cerite Syam?”
“Setelah kau melapor pade Sani, dia sempat ditangkap Belande. Lepas tu Jepang membebaskannye dan mempercayainye lagi mengurus minyak Brandan.”
Asrul menggeleng. “Ayeh betul penjajah tu. Menyuruh rayap pulak menjaga pokok kayu.”
Keduanya kembali tertawa.
Setelah tawa mereka reda, Irwansyah memandang laut yang seolah tak berujung.
“Rul, berape hari lagi kite sampai di Batavia?”
“Kalau cuace baik, tige hari tige malam.”
Irwansyah mengangguk pelan.
“Nanti, sebelum kapal merapat... aku harus melompat.”
Asrul spontan menoleh. “Hah? Ape soal?”
“Itulah sebab aku menumpang kapalmu. Aku membawe sesuatu yang terlalu penting dan berbahaye dari kesultanan. Jepang di Batavia belum tentu menyambutku dengan ramah.”
Asrul menyandarkan kedua tangan di pagar anjungan. “Seberape jauh kau bise berenang?”
Irwansyah terkekeh. “Jangan anggap enteng. Awak ni keturunan nelayan.”
“Kalau kau keturunan ikan hiu, mane perlu aku bertanye.”
Keduanya terkekeh.
“Asal masih nampak daratan, Insya Allah aku bise menjangkaunye.”
Asrul mengangguk pelan. “Kapal akan melintas dekat pesisir pade malam hari. Begitu dah nampak lampu-lampu Batavia... ape kau betul-betul sanggup melompat?”
Irwansyah menatap lurus ke arah cakrawala. “Insya Allah... sanggup.”
***
Hotel Malaka, Medan, 1990
Di balik jendela kamar hotel, Rizal memandangi Kota Medan sambil membayangkan wajah kota itu pada masa lalu.
Dalam benaknya, lalu lalang mobil Toyota Kijang, Colt, sodako kuning, dan becak bermotor khas Medan yang pengemudinya duduk di samping, satu per satu menghilang ditelan waktu. Jalanan itu kemudian dipenuhi sepeda kumbang yang dikayuh para pelajar, sado, pedati, mobil-mobil antik buatan Eropa yang dikendarai para pejabat kolonial, tuan-tuan kebun, dan bangsawan Melayu.
Bangunan-bangunan tua yang kini kusam kembali tampak megah dengan cat yang masih cerah. Polisi lalu lintas berubah menjadi opas dan serdadu KNIL yang berjaga di sudut-sudut jalan.
Lamunannya buyar ketika matanya menangkap papan bertuliskan:
Tsim Sha Tsui — Sejak 1910
“Apakah itu restoran yang sama?” gumamnya.
Rizal mengambil buku catatan. Ia membuka halaman yang berisi coretan selama mendengarkan kisah Atuk Irwansyah.
Huruf-huruf pada papan itu sama persis dengan yang pernah dieja sang atuk saat menceritakan restoran tersebut.
Atuk bilang dulu beliau mencurigai ada aktivitas intelijen Inggris di restoran itu.
Rizal tersenyum kecil.
Kalau benar... apakah sekarang masih ada jejaknya?
Rasa lelah setelah seharian berkeliling Istana Maimun bersama Fania dan Atuk Irwansyah masih terasa. Namun rasa penasarannya jauh lebih besar.
Ia sempat ingin mengetuk pintu kamar Atuk, tetapi mengurungkan niat. Lelaki tua itu pasti membutuhkan istirahat.
Rizal menarik kursi, lalu menyalakan laptop.
Sejak pertama kali bertemu, ia selalu mencatat pokok-pokok cerita Atuk di buku sebelum memindahkannya ke komputer agar lebih rapi.
Matanya berhenti pada salah satu baris.
1943 — Irwansyah meninggalkan Tengku Farisya menuju Batavia dengan kapal tanker Sultan van Langkat.
Tatapannya bergeser ke nama lain yang tertulis di bawahnya.
Tengku Farisya.
“Nama istri Atuk...”
Rizal menyandarkan tubuh ke kursi.
Dari Jakarta, Atuk pergi ke Penang, lalu ke Medan tanpa membawa istrinya.
Ia menghela napas pelan.
Mau bertanya... tapi rasanya tak sopan.
Apakah beliau masih hidup?
Jarinya kembali memutar roda mouse.
Kini matanya berhenti pada nama lain.
Syam.
Rizal memandangi nama itu cukup lama.
Kebetulan namanya sama... atau memang orang yang selama ini diceritakan Atuk?
Ia mengembuskan napas panjang. Perlahan Rizal menutup layar laptop.
“Entah kenapa... semakin sering mendengar cerita Atuk menceritakan orang yang musuhnya itu, aku malah semakin tak percaya diri untuk mendekati Fania lagi.”
***
Dekat Selat Sunda
Seusai makan malam, Irwansyah dan Asrul kembali berbincang di anjungan. Menurut Asrul, sekitar setengah jam lagi mereka akan mulai melihat kerlap-kerlip lampu Batavia.
“Wan, di mane kau nak tinggal nanti?”
“Entahlah. Aku belum pernah menginjakkan kaki di sane.”
“Entah pulak.” Asrul menepuk kening. “Datangi Asril. Nanti kuberi alamatnye.”
“Ah, lupe aku, kembaranmu sekarang di Batavia. Ape yang sedang die buat?”
“Sambil berdagang, die ikut Partai Syarikat Islam Indonesia. Dulu, sebelum Jepang melarang.”
Irwansyah mengangguk.
“Katanye, partai tu tempat pedagang nak membele agame. Entah ape yang nak dibelenye. Bagiku lebih bagus fokus berdagang. Bile dah kaye, bangun masjid banyak-banyak. Selesai.”
Irwansyah tertawa. “Dipakse pulak orang mengikuti gayemu. Memang enak betul jadi kau, Rul. Sejak dulu tak ade persoalan yang membebani pikiranmu.”
“Itulah sedapnye jadi orang tak pandai.” Asrul tersenyum. “Semakin pandai manusie, semakin banyak persoalan yang ingin diselesaikan. Asril tu same macam kau. Merdeke, merdeke, merdeke... ape pentingnye?”
“Pentinglah, Rul. Ketimbang hidup terjajah.”
“Ape soal dengan terjajah? Mau kesultanan, Belande, Jepang, atau pemimpin perjuangan kelian, bagiku same saje. Hanye berganti penguase. Ujung-ujungnye orang biase macam aku, hanye kebagian tunduk.”
“Tapi kite yang merasakan akibatnya kalau dipimpin penguase yang zolim.”
“Ha, itulah.” Asrul mengangkat bahu. “Sepanjang tak zolim, aku tak peduli siape yang berkuase. Ape kau berani menjamin para pejuang tu tak zolim bile berkuase?”
“Tak ade jaminan. Tapi kalau takut gagal lalu kite memilih dijajah, itu pun bukan jalan keluar.”
“Bile tak ade jaminan, berarti kite sedang bertaruhlah kite.”
Asrul terkekeh.
“Syam saje yang kerjanye merampas, masih disebut pejuang oleh orang yang tak kenal. Macam mane bile orang macam die yang nanti memimpin?”
“Kalau Syam lain cerite. Dalam satu pohon pasti ade buah yang busuk.” Irwansyah tersenyum. “Ape salah… merebut lagi hak milik kite sendiri?”
“Ape yang nak direbut dari orang-orang tak punye, Wan?”
Asrul mengangkat kedua tangannya.
“Biarkan saje mereke yang merase miliknye diambil, yang merebut balik.”
“Hak itu tak hanye soal harte, Rul. Penjajah juge merampas kebebasan kite berpikir, bicare, dan bertindak.”
Asrul terkekeh. “Ah, kau ni. Semua penguase same. Begitu ade yang menyinggung pasti murke, mane ade cerite tentang kebebasan.”
“Kau tak nak kite punye kesempatan memilih pemimpin yang memikirkan nasib rakyatnya supaye makmur?”
Asrul tertawa lebih keras.
“Cerite tentang nasib pulak.” Ia menggeleng pelan. “Ape yang nak diharap dari pemimpin? Dari zaman manusie tinggal di dalam gua, nasib ditentukan oleh usahenye sendiri.”
Irwansyah terdiam.
“Lagi pule, Wan. Tak mungkinlah semue rakyat dibuat makmur. Siape pulak nanti yang nak memecah batu, membersihkan kotoran, mengangkut sampah atau pekerjaan kasar lain?” Asrul terkekeh. ”Bicare perjuangan yang nyate-nyate sajalah.”
Irwansyah termenung. Ia teringat perdebatan-perdebatannya dengan para profesor di Leiden. Ayehnya, berhadapan dengan orang sederhana yang berbicara jujur dari pengalaman hidup sering kali terasa lebih sulit daripada berdebat dengan orang berilmu yang digerakkan ambisi.
“Menurutmu, perjuangan seperti ape yang nyate?”
“Macam yang biase kite tengoklah.” Asrul menghitung dengan jari. “Si Dogol yang putus sekolah, mengayuh becak. Si Togap yang suke bertumbuk, jadi tukang kutip pedagang. Si Mumun yang suke melenggak-lenggok, jadi istri simpanan. Semue tu perjuangan nyate. Mau besok Indonesia merdeke pun, ape yang berubah dari hidup mereke?”
Irwansyah tersenyum kecil.
“Lagi pule tak yakin aku, pare pejuang tu sedang membele orang macam kami. Bagiku, mereka hanye sedang nak berebut jadi penguase.”
Asrul tersenyum.
“Maaf cakap, Wan. Tapi harus ade orang bodoh yang berani bicare macam aku di tengah kelian.”
Irwansyah tersenyum tipis. “Justru aku yang tak mampu melihat persoalan dari jarak sedekat itu.”
“Kau tak tersinggung?”
“Aku hanye tersinggung waktu kau meragukan kemampuan berenangku.” Irwansyah tertawa. “Bawe-bawe keturunan ikan hiu pulak.”
Keduanya tertawa lepas.
Kata-kata Asrul masih terngiang di benaknya. Selama ini para pejuang sibuk memikirkan cara merebut kemerdekaan dari penjajah. Baru malam ini ia sadar, ternyata ada perjuangan sesungguhnya yang lebih diharapkan rakyat untuk dipikirkan para pejuang jika kemerdekaan berhasil diraih.
Asrul kembali memegang kemudi dengan wajah tanpa beban sambil bersenandung.
Lancang kuning berlayar malam.
Haluan menuju ke laut dalam.
Kalau nakhoda kuranglah paham.
Alamatlah kapal akan tenggelam.
Irwansyah berdiri memandangi hamparan laut yang gelap. Di kejauhan, titik-titik cahaya Batavia mulai tampak satu per satu.
***
Pasar Ikan, DJakarta, 1943
Irwansyah berhasil mencapai daratan setelah berenang dari kapal. Ia segera merobek lapisan plastik yang membungkus kopernya untuk melindunginya dari air laut.
“Untunglah tidak basah,” gumamnya setelah memeriksa isi koper.
Ia mengambil Webley Mk IV pemberian Charles, mengisi peluru, lalu menyelipkannya di belakang pinggang.
“Sepertinya itu sebuah pasar.”
Dari kejauhan tampak keramaian orang yang diterangi lampu-lampu petromaks.
Melihat banyak orang mengenakan kopiah, Irwansyah ikut mengenakan kopiah merah pemberian Tengku Farisya.
***
Irwansyah memasuki kawasan Pasar Ikan, tempat nelayan, pedagang ikan, dan pembeli melakukan jual beli hasil tangkapan laut.
Beberapa orang menatapnya heran.
“Bang, napa ente basah kuyup? Kecemplung?” tanya seorang pedagang ikan dengan logat Betawi.
“Betul, Tuan. Saya baru saja kecemplung. Saya tidak melihat air karena gelap,” dalih Irwansyah.
“Jiah, Tuan! Hehe! Lah, lagian ude tahu di sono gelap, malah nyamperin. Makanye ente dijorogin kuntilanak,” celetuk pedagang itu.
Orang-orang di sekitarnya tertawa.
“Peci menor amat. Dari ngomong ama potongan kayanye ente orang gedongan. Ngapain tengah malem dimari?” tanya pedagang lain.
Irwansyah memperhatikan cara penduduk setempat berbicara. Bunyi e mereka terdengar aneh di telinganya. Ia pun mencoba menirukannya.
“Saye sebetulnye hanye hendak bertanye alamat. Barangkali Tuan dan Puan bise membantu.”
Orang-orang kembali tertawa.
“Lidahnye juga ditekuk kuntilanak!” ledek seorang penjual ikan.
“Orang lagi nyasar, lu ketawain,” omel seorang lelaki berpeci miring.
Lelaki itu kemudian menatap Irwansyah.
“Di mane alamatnye, Bang?”
“Kampung Muara, Tanjung Priok. Apakah ada yang tahu?” Irwansyah tak ingin lagi memaksakan logat Betawi.
“Jauuuh! Nah, entu ade banyak delman. Minta anterin aje,” sahut lelaki berpeci miring sambil menunjuk ke arah tempat delman mangkal.
“Entu? Maksudnya pilih yang milik entunya Abang?” Irwansyah mengernyit. Ia mengira orang-orang di sini juga menyebut ayah dengan istilah entu.
“Entunye ane?” Lelaki itu balik bertanya, bingung.
“Mau dituntun pake entuan elu, Bang!” sahut seorang penjual ikan.
Orang-orang kembali tertawa.
“Heh! Orang lagi keder! Sekate-kate pade!” Lelaki berpeci miring itu menunjuk lagi ke arah delman. “Entu, tuh! Kagak liat ape?”
“Naik sado itu, kan?”
“Iye!”
Irwansyah mengangguk. Ia masih bingung dengan beberapa kata yang belum pernah didengarnya, tetapi cukup memahami maksud lelaki itu.
Seorang penjual ikan yang mengenakan blangkon mendekat.
“Eh, Mas. Mlaku bengi nang kono ora apik. Akeh begal. Ati-ati, lho!”
“Oh, njih, Pak. Matur nuwun,” jawab Irwansyah.
“Lah? Dia malah ngarti!” komentar lelaki berpeci miring.
Orang-orang kembali tertawa.
“Sopo jenenge kowe?” tanya lelaki berblangkon.
Irwansyah berpikir sejenak.
“Rahmat.”
“Gowo iki, Mat. Buat jaga-jaga.” Lelaki berblangkon menyerahkan sebuah golok.
Irwansyah merogoh saku, tetapi lelaki itu segera menahan tangannya.
“Ora usah mbayar.”
Irwansyah merangkul lelaki Jawa itu.
“Muga-muga Gusti Allah sing mbales. Nuwun sewu, Pak.”
Lelaki berpeci miring bertepuk tangan memanggil delman.
“Woy! Mat Golok mau pulang ke Kampung Muara! Siape yang berani ambil?”
Mat Golok? tanya Irwansyah dalam hati.
***
Jalan menuju Kampung Muara
Delman melaju di jalan yang membelah genangan rawa dalam gelap.
Tiba-tiba belasan lelaki berwajah garang muncul menghadang. Golok-golok mereka berkilat dalam cahaya samar.