Ambang Senja - Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat

indra wibawa
Chapter #14

Bab 14. Aksi Di Tanah Betawi

Pasar Senen, Jakarta, 1944

Seorang pria berambut gondrong dengan brewok tebal melangkah gagah menuju sebuah warung kopi.

Begitu melihatnya datang, orang-orang yang sedang duduk spontan memberi jalan.

“Ngopi, Bang Mamat?” sapa Mpok Imah, pemilik warung.

“Iye, Mpok. Biase... rada pait,” jawabnya dengan suara khasnya yang berat.

“Iye, Bang.”

Cuaca pagi itu sangat terik. Rambut gondrongnya tampak basah oleh keringat. Ia duduk sambil mengipas-ngipas tubuh dengan peci merah yang warnanya senada dengan kemeja lusuh tak berkancing dan celana cingkrang yang dikenakannya. Kaus dalam putih yang tipis masih terlihat jelas di balik kemeja, sementara sebuah golok terselip pada ikat pinggang hijau lebar di pinggangnya.

“Idup ude pait, kopi nape ikut pait, Bang?” goda Ma'in.

Pria itu menoleh tanpa senyum.

“Maksud lu?”

Soleh buru-buru menyikut Ma'in. “Sst... die Mat Golok.”

Lalu ia menatap Mamat dengan wajah canggung.

“Maap, Bang. Temen aye kalo becande emang kagak tau tempat.”

Mamat hanya mengusap brewoknya. Tangannya kemudian mengambil selembar selebaran lusuh berjudul Tjoretan Pejoeang.

Ia membacanya sekilas.

selebaran itu dibagikan gratis di warung-warung kopi. Isinya berita dan tulisan yang diam-diam mengkritik pemerintahan Jepang.

Mamat mendecak. “Ude basi.”

Lembaran itu dilemparkannya ke meja.

“Beloman ade yang baru?”

“Beloman, Bang,” jawab Mpok Imah. “Bocah yang biase nganter takut dirazia Jepang.”

Mpok Imah meletakkan segelas kopi yang masih mengepulkan uap.

“Eh, Bang. Aye denger di Tasik lagi rame. Emang ade ape?”

Mamat menuang kopi ke piring kecil, lalu meniupnya perlahan.

“Tentare Jepang digebukin anak-anak pesantren.”

“Lah, kenape?”

“Tiap pagi dipakse bongkok ngadep matahari terbit.”

Ma'in mendengus. “Anak pesantren bukannye ngaji, malah nyari penyakit.”

“Heh!” Mamat melotot.

Soleh kembali menyikutnya.

“Bagus malah. Ngamalin ilmu ngajinye. Mase diem aje ngeliat orang zolim?”

Mamat menyeruput kopinya.

“Zolim-zolim dikit mah jamak, Bang,” celetuk Ma'in. “Namanye juge penguase. Ikutin aje, kelar.”

“Puah!”

Mamat meludah ke tanah.

“Zolim dikit palelu pitak! Musyrik, Pe'a!”

“Maap, Bang! Maap!” Soleh melotot ke arah Ma'in.

Mamat hanya membetulkan letak peci merahnya.

Suasana warung kembali tenang. Orang-orang tetap melanjutkan makan dan minum, tetapi telinga mereka jelas tertuju pada Mamat.

“Oh iye, Bang,” kata Soleh hati-hati. “Aye bace di Asia Raja ade lowongan kerje dari pemerentah Jepang, baek juga ye?”

Mpok Imah yang baru selesai melayani pelanggan lain ikut mendekat.

“Aye malah bingung. Kate Tjoretan Pejoeang, entu Romusha, perbudakan. Yang bener yang mane?”

“Emang lu bise bace, Mpok?” ejek Ma'in.

“Gue denger orang yang bise bace ngomong!”

Mpok Imah melempar serbet ke wajahnya.

“Ih... sewot.”

Ma'in memungut serbet sambil nyengir.

“Perempuan mah jangan ikut ngomong beginian. Urusin aje kompor. Pisang gorengnye bentar lagi gosong.”

Belum sempat ia selesai bicara, Mamat berdiri.

Tangannya menjepit ujung cambang tipis Ma'in.

“Aduh... aduh... ampun, Bang!”

Baru setelah Ma'in meringis kesakitan, Mamat melepaskannya.

“Jangan pernah mandang perempuan sebelah mate.”

Ia kembali duduk.

“Kaga ade perempuan... kaga bakal ade lu.”

“Tuh, denger!” seru Mpok Imah puas. “Laki-laki mah kudu kayak Bang Mamat.”

Ia mengecilkan api kompor.

“Terus pegimane soal Romusha tadi, Bang?”

“Bener, Mpok.”

Nada suara Mamat berubah serius.

“Kerje jauh dari rumah. Kagak digaji, disikse pula. Kalo Jepang ude makse ngajak, mending ngumpet.”

Soleh memberanikan diri bertanya lagi.

“Oh... mirip jaman Belande, ye, Bang? Siape tuh... Den... Den—”

“Dendeng?” sahut Mpok Imah. “Entu mah makanan.”

Orang-orang di warung tertawa.

“Daendels,” jawab Mamat singkat.

“Nah! Bener itu!”

“Kagak same. Gajinye dikentit ame penguase kepale item noh.” 

Mamat berdiri sambil menepuk bahu Soleh.

“Lain kali aje. Panjang ceritanye.”

Ia menoleh kepada Mpok Imah.

“Berape, Mpok?”

“Kayak biase, Bang.”

Mamat menyerahkan beberapa lembar uang.

“Lebihannye simpen aje.”

Mpok Imah tersenyum lebar.

“Makasih, Bang.”

Mamat memandang orang-orang di sekelilingnya satu per satu. Mereka membalas dengan senyum penuh hormat, sebagian bahkan menundukkan kepala.

“Wassalamu'alaikum.”

“Wa'alaikumsalam...”

Mamat melangkah meninggalkan warung.

Tatapan semua orang masih mengikutinya hingga sosok berpeci merah itu menghilang di balik keramaian Pasar Senen.

***


Chongqing, China, 1944

Hujan turun sejak sore. Dari balik jendela, Syam memperhatikan jalan yang mulai sepi. Sudah beberapa minggu ia tinggal di rumah Arthur Blackwood setelah melarikan diri dari Langkat.

Arthur menuangkan stout ke dalam dua gelas kecil.

“Masih memikirkan Brandan?”

Syam mendengus. “Aku sedang memikirkan cara membalasnya.”

Arthur tersenyum tipis. “Itulah sebabnya aku membawamu ke sini.”

Syam menoleh. “Dan kau pikir di sini aku bisa membalas Irwansyah?”

Arthur duduk di hadapannya. Ia mengambil sebuah kartu nama dari saku jas, lalu meletakkannya di atas meja.

Syam mengambilnya. “Salim Sunarso…”

Setelah mengamati sebentar, ia meletakkannya kembali.

“Aku tak mengenalnya.”

“Berarti aku harus sedikit bercerita.”

Arthur mengambil kartu itu kembali.

“Beberapa tahun lalu, aku sempat mampir ke Belanda. Seorang rekan bisnis memperkenalkanku kepada dua mahasiswa Leiden asal Hindia Belanda yang kira-kira sekarang seumuran denganmu.”

Ia mengangkat gelas.

“Salim, pemuda yang sangat antusias ingin berbisnis denganku, dan Amin, pemuda idealis yang hampir tidak pernah tersenyum.”

Arthur menenggak habis minumannya.

“Belakangan aku baru tahu, keduanya adalah teman indekos Irwansyah.”

Syam mulai tertarik.

“Dari mana kau tahu?”

“Dari Amin.” Arthur meletakkan gelasnya. “Sebenarnya, dialah yang ingin kuceritakan.”

Syam mengangkat alis.

“Dulu dia terlihat seperti anak kecil yang ikut-ikutan membaca Marx agar tampak pintar. Serangan Jerman ke Belanda membawanya menetap lama di Moskwa, lalu ke China.”

Syam tertawa pendek.

“Dulu anak kecil. Sekarang dia gila?”

“Justru karena tergila-gila pada ideologinya, dia berguna.”

Arthur bersandar.

“Syam, kau terbukti mampu membuat orang-orang di berbagai posisi penting melakukan sesuatu untukmu.”

Syam menenggak minumannya.

Arthur melanjutkan, “Sebaliknya, kau terbukti gagal membuat orang-orang di bawah sana percaya bahwa apa yang kau lakukan adalah perjuangan.”

Syam menatapnya tanpa menjawab.

“Sedangkan Amin...” Arthur tersenyum tipis. “Orang gila tadi justru memiliki sesuatu yang tidak kau punya.”

“Apa?”

“Keyakinan.”

Arthur mengambil botol dan menuangkan stout ke gelas Syam.

“Dengan keyakinan sebesar itu, kalimat seperti perjuangan melawan feodalisme atau pembelaan terhadap proletariat bisa terdengar seperti kebenaran bagi orang-orang yang tak pernah mau mendengarkanmu.”

Syam mulai memahami arah pembicaraan.

“Dan kau ingin aku bekerja dengannya?”

“Aku ingin kau bertemu dengannya.”

“Dia tidak akan mau bekerja denganku.” Syam tersenyum sinis. “Orang gila itu pasti membenci orang-orang seperti kita.”

“Tidak.” Arthur menggeleng. “Dia hanya membenci orang-orang yang tidak percaya pada apa yang ia percayai.”

Arthur mencondongkan tubuh.

“Dan kau tidak perlu percaya.”

Syam menatapnya.

“Kau hanya perlu membuat dia percaya bahwa kepentingannya dan kepentinganmu berada di jalan yang sama.”

Hening sejenak.

“Di mana dia?”

Arthur menuangkan stout lagi ke kedua gelas.

“Tadinya kupikir dia masih tinggal di sini.”

Ia meneguk minumannya, lalu meletakkan gelas.

“Besok kita ke Jakarta. Kita temui dia.”

Syam ikut meneguk minumannya. Kali ini, senyum tipis muncul di wajahnya.

*** 


Stasiun kereta Senen, Jakarta

Amin baru saja turun dari kereta ketika seorang pria berkacamata hitam melipat koran yang sedari tadi dibacanya di bangku peron. Tanpa tergesa, ia bangkit lalu berjalan mengikuti Amin sambil bersiul pelan, seolah tak memiliki urusan apa pun.

Beberapa langkah kemudian, Amin menyadari dirinya dibuntuti.

Ia mempercepat langkah, berkelit di antara para penumpang yang hilir mudik. Pria berkacamata hitam itu ikut mempercepat langkahnya tanpa kehilangan jarak.

Amin semakin yakin. Ia berlari.

Pria itu pun berlari.

Orang-orang yang berlalu-lalang terpaksa menyingkir ketika keduanya saling kejar di dalam stasiun. Beberapa kali Amin menoleh ke belakang hingga nyaris menabrak penumpang lain.

Jarak mereka semakin dekat.

Lima langkah.

Empat.

Tiga.

Pria berkacamata hitam itu mengulurkan tangan.

Hampir saja jemarinya mencengkeram lengan Amin.

GEDEBUK!

Seorang pria bertubuh tinggi besar yang datang dari arah berlawanan menghantam tubuhnya dengan keras hingga keduanya terguling beberapa meter.

“Mak derodok!” umpat pria berkacamata hitam sambil berusaha menyingkirkan pria yang menindihnya.

Di saat yang sama, seseorang menepuk bahu Amin.

“Kami memang menunggu kedatanganmu. Cepat, ikut saya.”

Tanpa sempat berpikir panjang, Amin mengikuti orang itu berlari.

Mereka menyusuri lorong-lorong stasiun, berbelok beberapa kali, lalu berada di depan sebuah ruangan kecil yang jarang digunakan.

Orang itu menyuruhnya masuk, sementara Amin masih menatap tajam pria yang menyelamatkannya.

Ia tersenyum tipis, lalu mendorong.

Tatapan Amin berubah. Pintu segera ditutup dari dalam setelah Amin masuk.

Di dalam ruang seseorang berjas putih sudah duduk menanti, ia membuka topi fedoranya.

“Kau... siapa?” tanya Amin.

“Namaku tidak penting, Bung Amin”

“Kalau begitu, siapa yang mengutusmu?”

“Aku tak pernah menjadi orang suruhan.”

“Mengapa kau membawaku ke sini?”

“Karena kita memperjuangkan tujuan yang sama. Masyarakat tanpa kelas.”

Raut wajah Amin yang semula penuh curiga mulai melunak.

“Apakah tempat ini aman?”

“Tidak ada tempat yang benar-benar aman di Jakarta.”

Pria itu mendekati jendela, mengintip sebentar ke luar.

“Terutama bagi orang-orang seperti kau... aku... Amir Sjarifuddin, Muso dan yang lainnya.”

Amin mengembuskan napas. “Keberadaanku rupanya sudah tercium. Baru kali ini aku dikejar seperti tadi.”

“Dia orang suruhan Kempeitai.”

“Dari mana kau tahu aku tiba hari ini?”

“Dengan cara yang sama seperti Jepang mengetahuinya.”

Amin mengangkat alis. “Berarti jaringanmu cukup luas.”

“Lalu aku di sini untuk apa?”

Pria berjas putih berdiri. “Aku hanya pandai mengatur permainan dari balik layar. Padahal setiap permainan membutuhkan pemain.”

Amin tersenyum tipis.

“Cari orang lain untuk permainanmu. Aku juga tidak pernah menjadi orang suruhan.”

“Bukan suruhan.” Pria itu menatapnya lekat. “Rekan seperjuangan.”

Ruangan hening sejenak.

“Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir... mereka semua punya tujuan sama, menginginkan Indonesia merdeka. Namun, hanya satu yang benar-benar mampu menggerakkan kaum buruh dan tani, benar?”

Amin tidak menjawab.

“Sumatra Timur sedang menunggu kita menanam benih revolusi.”

Ia melanjutkan.

“Di sana masih banyak orang yang percaya bahwa darah bangsawan lebih berharga daripada darah rakyat.”

Sorot mata Amin berubah tajam.

“Menarik.” Ia mengulurkan tangan. “Aku ikut.”

Keduanya berjabat tangan. 

Barulah pria itu tersenyum. “Oh, ya… Namaku Syam.”

***


Sementara itu, di lorong stasiun yang mulai lengang, pria yang mengejar Amin berdiri membetulkan kacamatanya yang sedikit rusak.

Ia terus memandangi arah Amin menghilang. 

saat menoleh ke tempat ia jatuh, orang bertubuh besar tadi juga menghilang.

“Mak derodok.” Ia tersenyum tipis. “Tapi menarik...”

Ia memakai kacamata hitam dan merapikan jaket kulitnya.

“Berarti gue kagak sendiri di sini. Bukan kerjaan orang sembarangan.”

Tanpa tergesa, ia memungut kembali koran yang terjatuh, mengebaskan debunya, lalu berjalan meninggalkan stasiun sambil bersiul pelan. Di wajahnya tak tampak sedikit pun kekecewaan. Justru rasa penasaran.

***


Rumah Tengku Hasyim, Tanjung Pura Langkat

Asrul mendatangi rumah Tengku Hasyim untuk menyampaikan kabar tentang Irwansyah.

“Setiap kapal awak bersandar di Batavia, awak pasti singgah ke rumah Asril. Menurutnya, sejak Irwansyah pamit nak menjumpai Bung Karno, sudah genap setahun die tak pernah muncul lagi,” ujar Asrul.

“Ape Asril yang di Batavie sudah mencarinye?” tanya Sani.

“Asril tak pernah berhenti mencari, San. Die bertanye ke kawan-kawan pejuangnye, tapi tiade yang pernah jumpe. Bahkan beberapa kali awak ikut mencarinye hingge ke pelosok Batavia. Name Irwansyah pun tak dikenali.”

Asrul menoleh kepada Farisya. “Maafkan kami, Dek.”

Farisya menggeleng pelan.

“Bukan salah Bang Asrul atau Bang Asril. Justru awak yang berterime kasih. Malah awak mintak maaf bile sudah banyak merepotkan.”

Asrul tersenyum tipis. “Ah, jangan cakap macam tu. Kite semue ni dah macam bersaudare.”

Tengku Usman mengembuskan napas panjang.

“Kurase die belum berhasil menyelesaikan amanahnya. Sebab itulah die belum berani pulang. Amanah yang dibawenye terlalu bahaye bile sampai diketahui Jepang.”

Asrul mengangguk. “Itu juge yang dikatakan Asril.”

“Kalau begitu,” lanjut Tengku Usman, “kemungkinannye Irwansyah sedang menyamar. Kalau benar begitu, memang tak mudah mencarinye.”

Sani yang sedari tadi terdiam tiba-tiba menegakkan badan.

“Awak sekeluarge akan pindah ke Batavia.”

Semua mata tertuju kepadanya.

Ia menepuk pelan pundak Asrul.

“Tolong sampaikan pade Asril supaye mencarikan awak rumah yang besar. Nanti uangnye kutitipkan melaluimu, Rul.”

“Baik, San.”

“Pikirkan dulu masak-masak,” ujar Tengku Hasyim. “Kau belum tahu bagaimana keadaan di Batavia.”

“Bismillah saje, Wak.” Sani tersenyum tenang. “Insya Allah, sebagai saudagar, awak bise memulai usahe di manapun. Lagi pule, bile ade saudare atau kawan datang ke Batavia, kite sudah punye rumah untuk disinggahi.”

Tengku Hasyim mengangguk pelan.

“Ape awak pun boleh ikut?” tanya Farisya penuh harap.

Sani tersenyum.

“Itulah tujuanku. Bile Wak Hasyim mengizinkan, kau ikutlah bersame kami. Sekaligus menemani Aisyah.”

Ia berhenti sejenak.

“Nanti... kite cari Irwansyah bersame.”

***


Glodok, Jakarta, 1944

Mentari pagi mulai menyusup melalui jendela-jendela kayu yang dibuka satu per satu, seolah membangunkan kawasan pecinan yang sesungguhnya telah lebih dulu berdenyut.

Lorong-lorong sempit dipenuhi orang yang memikul keranjang bambu, mendorong gerobak sayur, atau sibuk menata dagangan di depan ruko masing-masing.

Aroma teh melati yang baru diseduh bercampur dengan wangi masakan, rebusan ramuan dari toko-toko sinseh, serta asap hio yang mengepul tipis dari sebuah kelenteng kecil di ujung jalan.

Dari sebuah kedai mi terdengar bunyi adonan yang dibanting ke meja kayu, lalu ditarik memanjang dengan gerakan tangan yang begitu luwes.

Semakin matahari meninggi, Glodok kian hidup. Teriakan pedagang yang menawarkan kain, rempah, gula batu, hingga ikan asin bersahut-sahutan dengan suara tawar-menawar serta detak sempoa yang berdenting tanpa henti.

Di salah satu ruko, Mamat berdiri di depan toko jahit langganannya.

“Kaga perlu.” Ia mengangkat tangan ketika Koh Ciang hendak melingkarkan meteran ke tubuhnya. “Emang ukuran baju yang kemaren ilang?”

“Oh, masih ada.” Koh Ciang menggulung kembali meterannya sambil terkekeh. “Gua cuma takut badan Bang Mamat berubah.”

Mamat hanya tersenyum tipis.

“Duduk, Bang. Ini ada Tjoretan Pejoeang kalo mau nunggu sambil baca.”

“Ini pernah lu baca?”

“Wah, kalo Tjoretan Pejoeang kaga dateng. Kita-kita orang di Glodok, kaga paham kejadian di Jakarta. Kita udah males baca koran, beritanya cuma bagus-bagusin program Jepang.”

Mamat tersenyum. Jemarinya menggosok batu cincin besar di tangan sebelum pandangannya beralih ke seberang jalan.

Tiga jawara sedang mengutip uang jago dari seorang penjual obat.

“Udah biasa itu,” gumam Koh Ciang sambil meletakkan gulungan kain merah di dekat mesin jahit. “Cuma kalo lagi sepi, dia orang kaga peduli kita untung ape kagak.”

Salah seorang jawara berikat kepala menyeret pemilik toko obat yang sudah tua ke tengah jalan.

Plak!

Jawara bertubuh kekar menampar wajah lelaki tua itu hingga tersungkur.

Keramaian pasar seketika mereda.

Semua mata tertuju ke arah mereka.

“Aiya... kemalen gua uda bayal. Sekalang masih kutip lagi?” keluh si pemilik toko sambil mengusap darah di bibirnya.

“Masih berani jawab?” bentak si kekar. “Lu kan dagang tiap hari, monyong!”

Mamat melangkah pelan. Sekilas ia melirik ember penampung air hujan yang penuh di samping toko.

“Gue injek-injek juga...”

BYUR!

Ember itu melayang dan menghantam kepala si kekar. Air menyiram tubuhnya dari kepala hingga kaki.

Ketiga jawara itu serentak menoleh mencari pelaku.

Mamat melangkah ke tengah jalan sambil menyingsingkan lengan kemeja merahnya.

“Siape lu?” bentak jawara berikat kepala.

Jawara berpipi codet berbisik pelan.

“Sst... pecinye merah. Jangan-jangan...”

Keduanya mundur selangkah.

“Mat Golok?”

Lihat selengkapnya