Lampu teplok di dinding ruang tengah bergetar pelan, memantulkan bayangan gelisah ke permukaan dinding anyaman bambu yang mulai melapuk. Bau minyak mawar dan asap kemenyan yang tadi tercium samar di paroki, kini menjelma menjadi udara yang padat dan pekat, menekan dada siapa saja yang berani melintasi ambang pintu rumah Sari.
Romo Thomas melangkah masuk, namun sepatunya yang basah langsung tertahan di batas tegel terluar. Matanya menyipit, menembus kabut tipis asap arang.
Di sudut ruangan, tepat di atas selembar tikar pandan, Mbah Danu masih bergeming. Lelaki sepuh itu tidak menunjukkan tanda-tanda terusik oleh kedatangan orang asing. Jemarinya yang kurus seolah tahu persis kapan harus menggeser sebutir demi sebutir tasbih kayu di tangannya, selaras dengan helaan napasnya yang lambat.
Thomas menoleh ke arah Pastor Rekso, mencari semacam penjelasan lewat tatapan mata, namun pastor paroki sepuh itu hanya berdiri membisu di dekat pintu sambil melipat payungnya yang basah.
"Mbah," Joko, sang asisten muda, memberanikan diri memecah kesunyian dari sudut teras. Suaranya agak tertahan, ragu di antara rasa hormat dan canggung. "Niki... tamunipun Romo Rekso sampun pinarak." (Mbah, ini... tamunya Romo Rekso sudah datang).
Mbah Danu tidak langsung menjawab. Beliau menyelesaikan satu putaran tasbihnya, mengembuskan napas panjang hingga kepulan asap kemenyan di depannya buyar perlahan, baru kemudian membuka sepasang matanya. Sepasang mata yang tidak menyiratkan kepikunan sama sekali; melainkan sepasang mata yang teduh, namun menyimpan kedalaman yang membuat Thomas mendadak merasa telanjang.