Gagang pintu kuningan itu terasa sedingin es saat jemari Romo Thomas akhirnya menekan pasak kayu hingga terbuka. Udara di dalam kamar Laras langsung menyergap keluar—hawa pengap yang bercampur bau karat besi dan anyir lambung yang memuakkan.
Di atas ranjang jati tanpa kasur, Laras terbaring dengan pergelangan tangan dan kaki yang terikat jalinan kain jarik kokoh pada tiang dipan. Anak perempuan berusia dua belas tahun itu tidak lagi tampak seperti manusia. Kulit wajahnya kelabu pucat dengan urat-urat kebiruan yang menyembul kasar di sekitar pelipis. Sepasang matanya terbuka lebar, namun seluruh bagian pupilnya lenyap, digantikan oleh selaput hitam legam yang memantulkan keremangan lampu minyak.
Saat melihat Thomas melangkah masuk dengan koper kulitnya, tubuh Laras mendadak meliuk kaku ke atas, membentuk lengkungan tidak wajar hingga tulang punggungnya berderak keras.
"Sopo kowe?" Suara yang keluar dari tenggorokan kecil itu pecah, berlapis antara lengkingan anak-anak dan geraman berat seekor binatang. "Mambu minyak wong mati... Lungo!" (Siapa kamu? Bau minyak orang mati... Pergi!)
Thomas mengabaikan erangan itu. Ia berlutut di sisi kanan ranjang, membuka kopernya, dan mengeluarkan sebotol kecil air suci serta sebuah stola ungu—kain liturgi eksorsisme—lalu mengalungkannya di leher.
Namun, sebelum Thomas sempat membuka Kitab Sucinya, Mbah Danu melangkah masuk tanpa alas kaki. Lelaki sepuh itu langsung duduk bersila di lantai tanah tepat di sebelah kiri dipan Laras. Beliau meletakkan mangkuk tanah liat berisi bara kemenyan baru, lalu mulai memejamkan mata.