HARI KEDUA
Kita istirahat sejenak
Hari ini, biarkan
Tenang mengendalikan khawatir
Sudah cukup kemarin saja.
Kini hanya ada tawa
Kedua dari tujuh kesempatan
Bersama dalam ikatan
Kita bersama
Dalam tugas yang menuntut
Pergunakan kesempatan ini
Walau tidak begitu berarti.
...
Ami
Katanya, dihari kedua ini, aku dan Raka akan melanjutkan penelitian sehabis kampus, sedangkan belum kulihat batang hidungnya sedari jam delapan disini. Setauku fakultas psikologi masuk jam delapan pagi. Tak tau akan apa jika sudah bertemu, nalar memang manja jika sudah seperti ini.
"Mi, nih ada titipan"
Lagi-lagi, seseorang menepukku dari belakang, menyodorkan sehelai amplop merah maroon,
Sudah berapa lama
Tak jumpa kata
Ini yang merangkai kalimat
Menyampaikan makna
Makna rasa yang tersirat
Tapi tak pernah jua
Semoga lekas bisa bersama
Walau dalam gati
Sembunyi ini bukan malu
Tapi kita sudah jua
Tak lama aku bersama
Aku ingin kita bersama
Karena takdir
Apa kabar amigea?
_Rahasia_
Hati ini mulai keluarkan rasanya melalui sebal akibat nama akhir yang ia berikan, sang pengagum yang dirahasiakan, mengapa begitu bisa memperlihatkan ketulusan hanya dalam setiap jarak huruf yang mengagumkan kata menghubungkan menjadi kalimat, membuat mataku nyaman memandang untaian kata, hingga bibirku tak kuasa menahan diam untuk membaca surat dari Pengagum rahasia.
Baru saja aku balikan badan, Raka sudah ada di belakangku, dengan tawa yang entah karena apa, apalagi yang dia buat agar aku tertawa. Kejahilan apalagi yang Raka perbuat sekarang. Aku baru sadar, aku masih menggenggam surat di tanganku, tanpa memasukan ke dalam amplop. Aku melihat mata Raka yang juga melihat ke tanganku, tanpa perlu berpikir lagi, aku langsung larikan diri dari Raka, dia belum membalas lariku, tapi saat aku mulai cukup jauh darinya, dia langsung mengejarku dengan kecepatan yang cukup cepat bagiku. Tuhan sedang berpihak kepadaku, aku melihat toilet perempuan yang kosong, aku langsung masukan diri kedalam toilet, tak lama Raka tiba setelah aku telah menutup pintu toilet,
"Yah, kamu curang, aku pencet hidungnya ya, kalau kamu nanti keluar"
Dia tertawa setelah ancaman kejahilannya membuat aku semakin tak inginkan keluar. Tak ada jawaban satu katapun aku berikan padanya, dan akhirnya dia mulai merengek meminta aku untuk keluar
"Ayolah Ami, aku tak suka menunggu, aku jadi rindu sama kamu, aku serius Ami, tak becanda sama sekali lah"
Aku menahan tawa karena permohonannya dengan nada suara Upin Ipin , yasudah akupun membuka pintu tanpa memberitau raka, dan
"BRUK!"
Ternyata sedari awal Raka menyenderkan badannya di pintu toilet, karena aku yang tidak memberitau kalau aku hendak keluar, membuat Raka jatuh dan membuatnya mengeluh kesakitan
"Kamu harus bertanggungjawab atas ini Ami"
Aku tertawa, kali pertama aku melihat bagaimana wajahnya saat kesakitan. Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya bangun,
"Aku tak mau memaafkanmu"
Cetus dia seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu. Aku dengan tenang dan menggoda apa sebenarnya yang dia inginkan
"Ada syaratnya, aku harus menjadi orang yang menjemput dan mengantarmu pulang"