Amika [Aku Mencintaimu Itu Karena Allah]

dari Lalu
Chapter #13

hari kelima

HARI KELIMA

Satu ketika

Aku benar-benar terjatuh

Dari masalah yang memuncak

Bantu aku temukan kamu

Aku tertampar begitu merah

Sakit tak kuat aku tahan

Beginikah kalian sebenarnya?

Apa mau kalian?

Serasa aku tak dianggap

Kenapa aku harus terbawa

Suasana ini menyakitkan

Anak kalian yang seharusnya tidak tau

Harus merasakan hidup tanpa kasih dan sayang

...

Raka

    Aku menunggu Ami keluar dari rumahnya, setelah aku memberitaunya, aku sudah sampai di depan rumahnya, sepertinya ami sedang makan karena ketika aku menelponnya ada suara sendok dan garfu. Akhirnya Ami membuka gerbang dan membuka pintu mobil

"Halo Raka Fhaisal"

Aku tersenyum, sekarang diam-diam Ami menggodaku dengan lembutnya sapaannya

"Hai amigea, selamat pagi"

Aku tersenyum melihat dia tersenyum sendiri, untungnya mood dia sedang membaik, aku harus menjaga jangan sampai ada yang mengacaukan.

    Kampus telah aku pijaki dengan Ami, aku dan Ami berjalan berdampingan bersama, tidak sedikit mata yang fokus terhadap aku dan Ami, terlebih Ami termasuk perempuan yang banyak disukai banyak laki-laki di kampus, karena memang ami cantik, sangat cantik.

    Ami meraih tanganku, menuntunku ke belakang kampus, sebelumnya aku tak pernah sekalipun ke belakang kampus selama aku belajar disini. Ternyata di belakang kampus indahnya tak bisa aku ungkapkan

"Bagaimana? Kita membuat cerita disini saja yak"

Aku masih belum bisa berbicara apapun, hanya menganggukan kepala jawabanku. Ami meraih tanganku lagi dan mendudukkanku di bawah pohon.

"Ayolah Raka, sadar, jangan seperti baru lihat tempat indah saja, aku bosan"

Aku tertawa mendengar keluhan Ami, dan mulai menekan hidungnya, Ami malah tertawa memperlihatkan giginya, oh betapa manisnya dia tertawa.

"Yuk, kita mulai membuat cerita"

Ami mengangguk dan mengambil buku dan pulpennya.

Selama membuat cerita, aku tak lepas dari memandang Ami menulis, matanya yang semakin indah saat menulis menyadarkan keindahannya melebihi semesta. Mungkin Ami tau kalau aku sedari awal tak lepas memandangnya, dia mencoretkan pulpen ke mukaku, aku malah diam tertawa melihatnya yang bahagia mengerjai aku

"Amigea"

Godaku tak ingin kalah dengannya, tapi tetap saja perempuanlah jagonya menggoda

"Raka Fhaisal"

Godanya balik, dan melempar bukunya kepadaku, aku membukanya, membaca cerita yang baru saja dia buat. Aku terbawa oleh arus cerita yang dia buat, sampai aku meneteskan air mata.

"Ih lebay ah Raka"

Aku hanya tersenyum mendengar ami berkata itu

"Kamu memang ahlinya membawa perasaan orang ya mi, tidak cukup perasaan aku aja ya"

Aku tertawa mendengar aku sendiri yang berkata seperti itu, apalagi Ami, yang aku goda.

    Sudah Dzuhur, aku mengajak Ami pulang, lebih baik pulang saja, tugaspun sudah beres, tunggu waktu yang tepat saja.

"Nih buat supir kecew aku"

Tanpa aku pedulikan sindiran Ami, aku langsung mengambil botol minum yang Ami tawarkan. Aku bukakan pintu mobil untuk Ami, masuk ke mobil, Ami langsung mencari album favoritku, dan memutar lagu Ed Sheeran perfect. Saat ini aku dan Ami bernyanyi sangat bahagia tanpa aku merasakan sedikitpun kejanggalan dari matanya. Aku hentikan mobil, karena sudah sampai, Ami membuka pintu dan keluar dari mobil. Aku memutar balikan mobil dan melambaikan tangan kepada Ami

"Dah, sampai berjumpa kembali"

Salam perpisahan sementara Ami untuk aku, aku hanya tersenyum dan membalas lambaiannya.

Lihat selengkapnya