HARI KETUJUH
Bukan main sakitnya
Kenapa semesta mempertemukan
Aku dengan dia
Apa ada kesalahan?
Ternyata, dia penyebab
Atau dia yang disebab
Akankah kamu tau semua ini?
Semua yang terjadi padaku
Pikiranku tak habis
Mana yang pura-pura
Dan mana yang bersalah
Kenapa jadi seperti ini?
...
Ami
"Raka.."
Tuturku spontan, aku memegang kepala yang sudah dipeluk oleh kasa putih, kepalaku seperti menimpa sesuatu, sakit yang aku rasakan membuat mataku melihat kesekeliling ruangan ini berwarna putih, bergorden hijau, aku melihat ibuku dan merasakan genggaman tangannya
"Ami, anakku"
Aku senyum tipis mendengar lantunan suara ibu, ibu menangis, kejutan apalagi setelah ini, apa ayah dan ibu akan pisah? Apa lagi tuhan?.
Aku mengingat satu kejadian sebelum ini, aku melihat bayangan ingatan Raka yang menyelamatkanku dari mobil besar dan aku yang dia singkirkan
"Raka mana, gimana keadaannya?"
Bagaimanapun Raka yang sudah menyelamatkanku dari mobil besar yang hampir menabrakku, aku tidak boleh pentingkan egoku hanya karena kejadian di rumah Raka, walaupun memang aku sangat menyangka ini terjadi
"Raka di ruang ICU, dia koma?"
Aku dibuat kaget oleh apa kata ibu, mataku tak bisa lagi bohongi, aku mencintainya, aku tak ingin dia kenapa-kenapa.
"Aku ingin kesana ibu, aku ingin melihat Raka ibu"
Pintaku, dengan memegang tangan ibu sangat erat
"Kamu baru sadar dari tadi mi, kamu juga koma dari kejadian kemarin, Raka tak apa-apa, dia hanya sedang mencari pendonor darah O karena dia mengalami pendarahan banyak dari perutnya"
Tangisku sudah menjadi banjir di wajahku. Aku menangis, merasa bersalah, Raka tidak bersalah apa-apa, yang salah hanya ayah.
Ibu memanggil dokter untuk memeriksa keadaanku. Untung saja dokter mengerti, aku dibolehkan berjalan keluar menghirup udara walaupun harus dengan kursi roda. Aku meminta ibu untuk membawaku ke ruang ICU, tepat Raka berbaring dari komanya. Tidak ada ibu Raka dan ayah kemana mereka, tega sekali meninggalkan Raka sendirian di dalam ruangan. Aku melihat Raka dari luar kaca ruangan ICU, wanita memang mudah terbawa perasaan jika ada sesuatu hal yang terjadi pada orang yang dicintainya. Aku menangis, sangat menangis.
Aku melihat ibu Raka yang melangkah ke ruang ICU, saat ini aku tidak ingin bertemu ibu Raka, aku langsung meminta ibu untuk membawaku pergi dari sini.
…
Ami
Siangnya aku langsung diperbolehkan pulang oleh dokter, aku yang tidak nyaman dengan suasana rumah sakit, langsung ingin berkemas untuk pulang, walaupun hatiku masih memikirkan Raka.
Aku bosan di rumah, membuat amygdalaku teringat Raka, dan membuat mataku lagi-lagi meneteskan air mata. Aku beranjak dari tempat tidur, dan keluar dari kamar yang membuat aku ingat Raka.
Jalanku masih sempoyongan, karena daya tahan tubuhku yang masih lemah, menarik perhatian ibu dan bi Ros yang sedang masak di dapur
"Non mau kemana, nih nyonya sedang masakan nasi goreng kesukaan non yang non makan setiap pagi"
Langkahku berhenti setelah mendengar kata terakhir dari BI Ros
"Mau kemana mi?"
Aku masih terdiam, dan melangkahkan diri mendekati ibu