BUTA INGATAN
Aku kembali
Dengan berjuta kenangan yang ku abadikan
Sampai aku susun daftar permohonan
Dikala sedang berdo’a
Namun sekarang aku sudah memburam
Bahkan kamu mengidap lupa
Bukan aku saja
Tapi, segalaya kamu buta ingatan
Berarti, aku lagi yang harus
Berusaha memulihkan
Ingatanmu tentang aku
Tentang kita yang aku harapkan.
...
raka
Rasanya aku seperti baru hidup, tadi siapa lelaki yang memakai almamater putih? Kenapa menempelkan alat aneh di badanku? lalu yang paling anehnya, dia menusukan benda tajam di tanganku, dasar! Lihat saja jika bertemu lagi denganku, dia yang akan aku tusukan benda tajam itu.
Baru saja aku membuang pikiran tentang orang aneh tadi. Ada satu laki-laki dan dua perempuan yang masuk. Satu perempuan yang sepertinya mulai menua memelukku begitu erat,satu perempuan lagi masih muda lumayan cantik dan satu laki-laki yang sepertinya sudah menua sama halnya perempuan yang memelukku, aku seperti pernah melihat mereka bertiga, tapi dimana? Mereka siapa? Dan kenapa aku tidak ingat sesuatu? Rasanya darahku mengalir sangat deras saat melihat laki-laki dan perempuan yang tua ini
“raka ini ibu”
Perempuan tua yang memelukku mempertemukan matanya dengan mataku, dan dia memanggilku “Raka”.
“iya raka fhaisal, ini ayah, itu ibu, dan ini seina”
Sekarang laki-laki tua yang berbicara kepadaku dan memanggilku bukan raka saja tapi “raka fhaisal”
“aku gak tau siapa kalian, apa itu ibu? Dan apa itu ayah? Satu lagi, siapa seina? aku juga tidak tau raka, raka fhaisal? Aku tidak tau siapa aku?”
Perempuan tua ini memelukku lagi bahkan dia menangis, lelaki tua juga mendekat hanya perempuan yang katanya seina diam tanpa gerak dan suara
“raka fhaisal itu nama kamu nak, ini ibu yang melahirkan kamu ke dunia ini, ayah dan ibu adalah perantara kamu ada di dunia ini”
Aku diam berusaha mencermati apa yang lelaki ini jelaskan barusan
“ayah, ibu?”
Mereka dua mengangguk dengan tetap melihatku dengan rasa sedih.
“maafkan aku, aku tak ingat apa-apa, ayah, ibu”
Ayah dan ibu memelukku bersamaan dan mencium keningku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi mengapa rasanya aku buta ingatan dan kesakitan seperti ini. Ibu melepas pelukan dan melihat kebelakang tepat gadis muda yang katanya namanya seina
“oh iya nak, itu seina, temanmu sedari smp”
Aku menatap matanya, kenapa tidak ada rasa apa-apa ketika melihatnya tidak seperti aku melihat ibu dan ayah. Dia tersenyum
“raka ini aku seina”
Aku hanya tersenyum, dan menganggukkan kepala
“oh iya, seina”
Mengapa rasanya aneh menyebut namanya, rasanya hati seperti bercerita kepada otak yang buta akan ingatan. Dia mendekati aku, ayah, dan ibu, ikut berpeluk, memeluk ibuku.
…