Amika [Aku Mencintaimu Itu Karena Allah]

dari Lalu
Chapter #19

fajar dewa

FAJAR DEWA

Saat raka sakit

Tuhan memperkenalkanku dengan seorang

Raka yang mempertemukan aku dengannya

Dan aku bertemu kembali diantara ramainya suara semesta

Dia mengingatku

Tapi aku tidak sama sekali mengingatnya

Katanya, dia berprasangka

Ingatan raka denganku yang akan

Raka sembuh

Aku tidak berharap demikian

Karena aku hanya berharap

Kepada tuhan yang mempertemukanku dengan raka

Dengan dewa juga.

Dewa brima

Nama baru untuk waktu yang baru

Jalan baru untuk perjuangan baru,

Akankah dia dewa utusan tuhan

Untuk membantuku?

...

Amigea

      Punggung bu sarah dan pak fhaisal membelakangiku mengejar raka yang keluar dibawa seina, baru saja aku akan melihat keluar kemana mereka pergi, seseorang menabrakku, membuat aku terjatuh dilantai, rasa kecewa untuk diri sendiri semakin menjadi-jadi, seseorang yang menabrakku menjatuhkan badan dengan sengaja menyejajarkan badannya dengan badanku, kelihatannya seorang laki-laki. Dia mengulurkan tangannya, membuka pertolongan untuk aku berdiri. Aku menerima uluran tangannya, badanku tertarik berdiri olehnya, sekarang aku berdiri dihadapannya, aku langsung melihat matanya yang memancarkan cahaya kurang jelas karena dia memakai kacamata.

“maaf nona, aku tidak sengaja, nona tidak apa-apa?”

Dia belum melihat wajahku, dia masih menggenggam tanganku dan melihat kesetiap sudut yang rawan terluka. Aku masih diam, entah apa yang aku pikirkan sekarang, aku masih diam belum menjawab pertanyaan laki-laki ini. Aku seperti pernah mendengar suaranya, tepat saat aku dalam keadaan khawatir, tapi siapa laki-laki ini. Baru saja aku kedipkan mata dan mulai akan menjawab pertanyaannya, dia memasangkan kedua matanya dengan kedua mataku, aku baru ingat dimana dan karena apa aku mengenal suaranya, dia dokter yang menangani raka

“kamu?”

Baru saja aku akan melontarkan pertanyaan, dia sudah merebut pertanyaan yang akan aku tanyakan. Aku tersenyum karena akupun bingung harus apa aku menjawabnya

“kamu keluarga dari fasien saya kan? Raka fhaisal? Dan bukannya kamu yang tadi pidato diatas?”

Yang benar saja, pertanyaannya menambah dari yang sebelumnya, bahkan ini lebih dari sekedar baru pertama bertemu

“eh dokter”

Lihat selengkapnya