TIBA CERITA
Di lingkupan semesta aku bersama
Dia yang baru aku kenal
Dia tiba cerita
Tentang seseorang yang aku sayang
Dia bercerita
Apa yang dia tau
Sampai tiba aku hampir putus
Kan harapan aku bersama seseorang
Di keramaian manusia
Aku berharap kepada tuhan
Dan memohon dia membantu
Untuk kesembuhan seseorang
Yang aku sayangi.
...
Ami
Cukup indah yang mataku terima, termasuk senyuman fajar yang berbicara ‘tidak apa-apa’. Nalarku sedikit tak yakin untuk memulai ini, aku sudah berjalan dengan seseorang yang baru aku kenal tanpa ada alasan yang mengikat kuat, yang ada, hanya kerana aku terjatuh karena dia tabrak dan dia dokter yang menangani raka.
Sekarang aku di belakangnya, mengikutinya, sesekali dia melihat ke belakang, melihatku dengan kacamata yang memancarkan aura dirinya. Melihat lesung pipit di pipinya, mengingatkanku dengan manusia setengah vampire yang aku sayangi. Aku benar-benar masih merasa aku bersama raka bukan fajar.
“kamu mau makan apa?”
Aku langsung sadar dari bayangan yang aku rindukan. Suara fajar begitu pelan menyentuh pendengaranku. Aku diam sejenak, amygdalaku memutar satu pertemuan pertamaku dengan raka, aku langsung spontan menjawab
“cofee with stoberi cream dan choco waffle stoberi”
Tapi aku diam tidak meneruskan dengan satu katapun, aku terbawa dengan suasana dulu, sampai akhirnya
“tidak ada menu itu ami, lihat menunya!”
“ih raka!”