Amika [Aku Mencintaimu Itu Karena Allah]

dari Lalu
Chapter #24

temu yang baru

TEMU YANG BARU

Di tengah perjalanan

Aku melihat sosok yang aku rindukan

Bersama sosok baru yang menemaninya

Inikah kenyataannya?

Saat aku tak tahu

Berjalan sendiri,

Aku melihat dia sendiri kesakitan

Aku meraih sakitnya

Di bangunnya yang baru saja

Ada temu yang baru

Karena temu yang pertama hilang

Dari dia yang sedang sakit

Di temu yang baru ini

Dia tidak mengenal karena aku baru

Karena aku bukanlah aku

Yang ia kenal dulu

...

Ami

      Sekarang aku sendiri, fajar ada fasien kecelakaan tabrak lari membuatnya harus pergi ke rumah sakit dalam keadaan apapun itu. Aku tengah duduk di kursi lapangan basket yang panjang. Aku rindu suasana kampus ini, apalagi suasana saat-saat aku dan raka bersama disini. di mataku, aku melihat seakan ada bayangan aku dan raka sedang berlari saling kejar di tengah lapangan waktu baru dua hari aku dan raka bersama. Aku melihat ke langit, saling bertatapan dengan langit yang diam-diam mewarnai dirinya dengan warna kelabu. Aku menghembuskan nafas, tingkah nalar begitu tak karuan. Baru saja aku akan mengangkat tubuh dari sini, aku melihat sosok yang baru saja aku bayangkan, kini nyata bukan bayangan lagi, itu raka bersama, seina. Entah apa yang terjadi, serasa tsunami membawa aku hanyut dan melemah. lemah membuat kakiku gemetar tak kuasa berdiri, aku langsung dudukan diri. Seina menemani raka? apa mungkin seina kuliah disini juga? Di fakultas apa? Apa sama dengan raka?. aku bukanlah seorang yang kuat menahan air mata yang sudah membendung, mataku tak sama dengan langit yang bisa memberi menehan sejenak bendungan air hujan dengan warna kelabu ataupun petir. Aku menjatuhkan satu tetes air mata, aku berusaha kuat tidak meneteskan air mata selanjutnya. Aku memperhatikan mereka, dari kejauhan aku melihat raut wajah raka yang tak sepenuhnya tersenyum, ada yang dia pikirkan dan baru aku sadari matanya menatap lekat mataku tanpa kedipan. Dia mengedipkan mata saat aku juga mengedipkan mata. Apa dia mengenalku? Tapi dia tidak merasakan kesakitan seperti biasanya melihatku. Aku tersenyum, melihatnya tidak kesakitan melihatku. Ini senyuman pertama yang aku lihat dari raka dalam keadaan seperti ini.

       Seina meninggalkan raka, dia menempelkan telepon di telinganya. Betapa tenangnya aku melihat raka tanpa seina. Aku semakin nyaman menatapnya, dia juga menatapku, rasanya seakan aku masih dalam saat-saat bersamanya. Ingatanku memanjakanku, sampai aku tak sadar raka mengahampiriku dengan wajah yang penasaran.

“hallo? Kamu mahasiswi di kampus ini?”

Aku sadar dengan rasa kaget melihat raka sudah berdiri tepat dihadapanku. Aku sedikit gugup menjawabnya, aku takut dia kesakitan lagi jika mendengar suaraku. Tapi, bagaimana lagi, mana mungkin aku diam tak menjawabnya

“ada apa?”

Aku gugup karena takut apa yang akan terjadi setelah aku membuka suara untuk menjawab raka.

“eh, maaf aku lancang. Kamu mahasiswi kampus ini?”

Raka tersenyum, hatiku bahagia sangat bersyukur. Raka tidak kesakitan sedikitpun, aku sangat terharu akan yang terjadi. Tuhan memang tak pernah salah.

“iya, aku mahasiswi kampus ini”

Aku tersenyum menjawab raka. Raka juga tersenyum melihatku tersenyum

“oh iya, kenalkan aku Raka Fhaisal, panggil saja Raka, mahasiswa fakultas psikologi”

Raka menjawab dengan senyuman yang belum pudar. Ada haru yang berusaha aku tahan tangisnya, karena saat haru aku selalu saja bisa meneteskan air mataku. Tangan raka mengulur mengajak untuk saling berpelukan dengan tanganku. Aku membalasnya dengan jabat tangan islam tanpa menyentuhnya

“aku amigea, panggil saja ami, mahasiswi fakultas sastra bahasa Indonesia”

Raka memerhatikan tangannya yang masih terulur, kurasa dia tak mengerti

“maafkan aku raka, aku tak bisa bersentuhan denganmu”

Lihat selengkapnya