AISHA CHIKA
Dia tertutup
Tentang segalanya tertutup
Sampai ternyata dia segalanya
Bagiku yang melupakan.
Setelah dulu pernah selalu bersama
Akhirnya hari ini dipertemukan kembali
Dan dipersatukan kembali
Aku malu kepadanya.
Kenapa aku tidak menyadari
Kehadiran sahabat kecil
Yang sangat setia menemani
Saat kecil dulu.
...
Ami
Raka dan seina sudah menghilang di mataku. Lagi-lagi aku sendiri lagi. Aku mengambil handphone didalam tas. Handphoneku baru membuat nomorku baru, semenjak kecelakaan kemarin, handphoneku tergeleng mobil dan hancur hingga bentuknya bukan handphone lagi. Jadi tadi aku memberi nomor handphone baruku kepada raka dan menghapus nomor handphone lamaku. Saat kecelakaan, raka tidak membawa handphone, jadi handphonenya sama sekali tidak kenapa-kenapa. Aku membuka kontak, mengetik nama Raka Fhaisal di kolom pencarian. Aku memandangi nomor raka tersebut. Aku rindu sekali namanya muncul begitu saja dengan tanda telepon hijau dan merah, aku menginginkan ini terjadi lagi. Melihat pesan yang masih sepi, yang ramai hanyalah whatsapp, itupun diramaikan dengan group yang onar.
“ami”
Aku sedikit kaget. Ternyata dia, aisha chika. Aku memasukan lagi handphone kedalam tasku. Aku tersenyum untuk aisha, aisha membalas dengan senyuman yang sedikit membuatku berpikir tentang sesuatu, tapi apa?
“boleh aku duduk?”
Aisha bertanya dengan suara yang lembut. aku suka kehadirannya, dia lembut
“tentu saja boleh, sha”
Aku menjawabnya dengan senyuman yang menjamu. Aisha duduk di sampingku. Belum ada kutip yang memulai pembicaraan.
“ai..”
“ami, maaf hehe. Aku ingin menunjukan sesuatu”
Baru saja aku akan bertanya, aisha sudah menyeka, dan meminta maaf dengan senyuman bersalahnya telah menyekaku. Dia ingin menunjukan sesuatu, tapi mana sesuatu itu, aku sama sekali tak melihat tanda-tanda sesuatu yang akan dia tunjukan. Dia mesih diam, hanya menatap dengan kosong. Aku bosan dengan yang namanya menunggu, aku beranikan saja untuk bertanya
“apa yang akan kamu tunjukan?”
Aisha menatapku, dia belum memberikan jawaban. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang dia akan lakukan. Aisha mengambil nafas berat. Apa begitu berat apa yang akan dia tunjukan padaku? Aku semakin penasaran dibuatnya. Akhirnya dia mengambil sesuatu di tasnya. Aku mengeryitkan alis. Mataku berlinang oleh air mata yang mulai terbendung. Aku melihat sesuatu yang dia tunjukan. Amygdalaku teringat dengan kejadian sebelas tahun dulu.
…
Sebelas tahun dulu
‘prang!’
Baru saja aku akan membuka pintu. Ada suara yang menahan kakiku sampai berhenti diam. Aku masih mendengar suara ini, sedari malam aku berusaha mentulikan telinga, suara ini masih tak sopan masuk ke dalam telingaku. Aku pundurkan satu langkah kaki kebelakang. Punggungku bersandar di tembok yang mati, tubuhku tak sanggup untuk bertahan lagi dan akhirnya jatuhkan raga ke lantai. Mataku menatap langit rumah, kini langit rumah hanya mendung, langit mataku yang menjatuhkan hujan. Aku menangis tersedu-sedu. Baru saja aku akan mengambil keputusan. Telepon kamarku bordering. Aku langsung meraih dan mengangkat telepon yang memanggil
“assalamualaikum, hallo?”
Aku langsung memberi salam dengan tangis yang menyendak suara
“wa’alaikum salam. Ami? Ini aku Aisha, kamu kenapa? Kok suaramu seperti yang sedang menangis? Kamu dimana? Ayo kita bicara, ada yang harus aku bicarakan padamu”
Aisha menjawab tanpa ada koma yang menjeda, tanpa mempersilahkan aku menjawab satu persatu. Baru saja aku hendak menjawab
“cepat ami! Aku akan segera pergi. Aku tunggu di lapangan sekolah”
Aisha meminta tanpa menjelaskan yang dia pinta
“dut..dut..dut”
Baru saja aku akan mengiyakan. Aisha sudah menutup telepon tanpa salam penutup untukku. Kenyataan apalagi yang akan menghampiriku. Aku tidak boleh diam bingung. Aku harus langsung pergi ke sekolah.