AWAL YANG KEBERAPA KALI
Kita bertemu lagi
Ini seperti pertemuan kali pertama
Aku harap
Ini menjadi awal untuk kesembuhanmu.
Aku bermimpi
Aku dan kamu bertemu
Kamu memanggilku dan
Memperkenalkan dirimu.
Aku bahagia
Aku telah mengungkapkan rasa
Walau bukan atas nama diriku
Tapi setidaknya itu aku yang kamu ingin tahu.
Aku bahagia
Mendengar cerita darimu
Dan akhirnya kamu juga
Mau menemani hariku.
...
Ami
Hari ini, setelah aku kembali bertemu dengan aisha. Aku berjalan bersama aisha di permukaan kampus ini. aku seakan merasa hanya aku yang mempunyai sahabat terbaik. Kurasa semesta iri dengan kebahagiaanku hari ini. dimulai dari raka yang berkenalan denganku, dan sekarang aku kembali bersama dengan sahabat kecilku, aisha.
“sha aku rindu gingsulmu”
Aku memandangnya, dia tersenyum dengan memamerkan gigi yang bergingsulnya, aku tertawa karenanya
“jelek ih”
Celetukku dengan tawa yang bermakna menertawai tingkahnya
“katanya rindu gingsul aku?”
Aisha memanja dengan cubitan hidung yang tidak sakit sama sekali. Aku mengulurkan lidah meledek aisha. Baru saja tangan aisha akan mencubit hidungku, aku sudah beranjak dari posisi menjauh dari aisha. Kakiku melangkah jauh dan cepat dari aisha yang berusaha menyejajarkan posisi denganku.
“Amigea, awas ya!”
Aku membalikan badan, langkahku berhenti, aku membuka tangan menelentangkan tangan tanpa ada belokan yang bersudut. Disana, aisha berlalri cepat,dan akhirnya datang didepanku, menerima rentangan tangan yang menjamu pelukannya.
“awas jangan berlari jauh dariku lagi aisha”
“iya sayangku”
Aku dengan aisha berpelukan seperti pelukan sepasang anak kecil yang baru bertemu lagi. Kedua kaki ikut menari ke kenan ke kiri dan badan sudah terkendali oleh harmoni rasa bahagia yang melantun di denyut nadi.
Handphoneku bersuara, memberitahu ada pesan masuk untukku. Aisha menarik tanganku, menyilahkan aku duduk di kursi taman yang dia tuju. Aku duduk, tapi dia beranjak kembali dan melangkah entah kemana, mungkin dia hanya ingin ke toilet atau mencari air minum lalu kembali lagi. Aku mengambil handphone yang sudah bersuara tiga kali memanggilku. Ternyata ada pesan yang masuk di whatsapp
‘assalamualaikum Amigea’
‘ini Raka Fhaisal, aku sedang di rumah sakit’
‘aku ingin kamu disini, lihat saja alamatku di GPS’
Aku langsung berdiri dari dudukku. Air mataku menggenang di pelupuk mata. Aku menengok ke kanan ke kiri, apa yang harus aku lakukan? Dimana aisha?. Akhirnya aku melihat aisha sedang berjalan. Aku langsung menghampirinya yang sedang bingung menatapku dengan tangan yang menggenggam dua botol air putih. Aku meraih tangannya, aku ajak dia berlari ke tempat yang aku tuju.
…
Raka
“raka!”
Aku melihat perempuan yang sedari tadi memanggilku dari kejauhan. Aku tidak melihat dia siapa, pijakan dia jauh dengan pijakanku.
“raka!”
Dia memanggil lagi, kini diiringi dengan lambaian tangan. Kakiku melangkah begitu saja. Langkahku kosong, tak tahu siapa yang aku tuju, tak tahu untuk apa aku menghampiri. Langkahku berhenti seketika wajahnya mulai nyata aku lihat. Senyumnya mulai terukir di mataku
“raka”
Kini dia memanggil dengan menjamu kedekatan jarak yang aku buat. Dia masih tersenyum, dia membuat aku membalas senyumannya
“raka, ini amigea”
…
“ami!”
Aku melirik ke kanan ke kiri. Ada seina, ayah dan ibu. Mereka terlihat kaget melihatku.
“a..mi”
Aku menutup mulut yang merangkai huruf menjadi sebuah nama yang spontan aku ucapkan tadi. Aku melihat bayangan kejadian mimpi yang membangunkanku dari tidur yang entah kapan lelapnya. Aku melihat, ami yang memanggilku, dia tersenyum kepadaku
“kamu kenapa ka? Tadi kamu manggil siapa? A?”
“ami”
Aku langsung menjawab pertanyaan ibu tanpa koma. Tapi ibu tak langsung merespon jawabanku. Apa ibu mengenal ami? Rasanya akupun baru mengenalnya.
“handphoneku mana bu”
Seina yang mengabulkan permintaanku, dia memberikan handphoneku yang ternyata diam di atas meja sebelah aku berbaring. Jariku menari-nari di atas layar handphone, membuka kontak, mencari sesuatu yang aku tak tahu sebabnya kenapa. Akhirnya aku menemukan sebuah nama yang aku cari di kontak ‘amigea’. Aku menyentuh gambar surat, lalu mengetik huruf merangkai kalimat yang dari tadi menunggu untuk terungkap
‘assalamualaikum Amigea’
‘ini Raka Fhaisal, aku sedang di rumah sakit’
‘aku ingin kamu disini, lihat saja alamatku di GPS’
Aku mengirimnya satu persatu tanpa jeda yang lama, tanpa ada koma yang lama aku tekan tanda panah. Tiga pesan dariku telah terkirim ke ‘amigea’.
“ka?”
Panggilan seina menyadarkanku akan pandangan seina, ibu, dan ayah yang memerhatikan entah dari kapan. Aku mengeryitkan kedua alisku, tak mengerti akan pandangan yang memperlihatkan keheranan mereka.
“kenapa?”
Aku bertanya dengan sangat santai tanpa beban. Seina yang memanggilpun tak membalas
“siapa ami?”
Ibu bertanya dengan sangat datar tanpa memohon. Aku menghembuskan nafas
“aku tidak tahu. Aku baru mengenalnya tadi di kampus. Aku tak tahu, aku ingin bertemu dengannya. Aku bertemunya di mimpi”.
“Alhamdulillah ya Allah”
Ibuku langsung mengucapkan puji kepada tuhan setelah aku menjawab pertanyaannya. Aku sedikit heran
“kok Alhamdulillah bu? Ada apa?”
“tidak nak, ibu hanya merasa lega”
Ibu menjawab dengan senyuman yang begitu lega. Aku tidak tahu harus bertanya apa lagi, lagipula tidak kenapa-kenapa.
“ibu, beli makanan dulu keluar ya nak”
Aku mengangguk memberi jawaban untuk ibu. Ibu tersenyum melihat responku, lalu langsung keluar dengan tujuan yang sudah aku tahu.
Tak jeda lama ibu keluar. Seina keluar dari ruangan, tak ada keingin tahuan yang menahan dia keluar. Aku tenang, asik sendiri meng-scroll layar handphone. Sebenarnya aku sedang menunggu kahadiran seseorang yang aku undang.
…
“assalamu’alaikum”
Salam menyadarkan keasikanku dengan hal yang tak jelas
“wa’alaikumsalam”
Aku beralih melihat ke pintu yang terbuka. Dia yang masuk, Amigea. Pandanganku kosong, melihat dia masuk sendiri. Dia berjalan, menunduk kebawah, tak melihatku. pandanganku kembali terisi dengan jarak ami yang mulai dekat denganku
“ami”
Aku terpeleset melafalkan nama ami. Dia langsung memperlihatkan wajahnya yang dari tadi menunduk tak melihatku, untung saja dia tidak menabrak sesuatu. Dia tersenyum
“raka”
Suara lembutnya menjawab panggilanku. Senyumnya tertutup kain, aku tak tahu itu apa? Ibu dan seina juga tidak memakai. Walaupun demikian, aku seperti sudah melihat senyumnya, senyumnya terukir di bayangan mataku. Sejak tadi di lapangan basket dia duduk, aku seperti ikan yang kena pancingan. Aku tersenyum membalas senyumnya. Seketika matanya mengungkapkan kekhawatiran
“bagaimana keadaanmu?”
Nadanya bertanya sangat cemas. Aku tersenyum membalasnya. Sepertinya dia memerhatikan ragaku dari ujung ke ujung
“duduk dulu di sampingku”
Ami hanya mengangguk membalas jamuanku. Dia melangkahkan tujuan ke kursi yang berdiri di sampingku berbaring
“aku kira kamu tak akan kesini karena kamu tidak membalas pesanku”