Amika [Aku Mencintaimu Itu Karena Allah]

dari Lalu
Chapter #27

ada yang sakit

ADA YANG SAKIT

Dibalik manusia yang senang memijak tanah

Ada bumi yang kesakitan tak dirasakan

Sakit ini tak terasa oleh manusia

Hakikatnya, manusia pelaku yang tak bersalah.

Selalu ada segi yang tak sengaja

Terbuat dari cinta yang tak terbalaskan

Cinta yang tak terhiraukan

Harus bisa memaklumi takdir yang terjadi.

Ada yang sakit

Dibalik dua cinta yang mulai menyatu kembali

Ada yang sakit

Dibalik cinta yang terlupakan kenangannya,

Ada banyak yang sakit.

...

Aisha

      Sudah hampir setengah jam aku duduk di kursi tunggu depan ruangan raka. sesekali aku tersenyum mendengar tawa yang bahagia dari dalam, semoga lekas selesai. Aku melihat kesekeliling rumah sakit yang tiap sudutnya selalu ada raga yang bermacam-macam sedangnya. Ada satu jalan yang aku lihat itu suster dan dokter. Salah satu dokter ada yang aku kenal dari kejauhan, dia memakai kacamata. Dia semakin dekat, jalan ke ruangan yang depannya aku diami. Aku menyadari dia siapa, saat amygdala memutar kembali aku bertemu dengannya saat aku bersama ibu dan ayah ami.

“dokter fajar?”

Aku memanggilnya yang sedang berbicara kepada suster yang disampingnya. Dia menoleh kepadaku. Senyumnya terukir begitu saja

“aisha ya?”

“iya dok”

Aku menjawab dengan anggukan yang diwarnai senyuman. Dia juga tersenyum.

“kamu sendirian saja?”

“tidak dok, aku bersama ami..”

“amigea?”

Belum selesai aku menyebutkan nama ami, dia sudah menanyakan yang sudah jelas akan aku sebutkan. Aku hanya mengangguk menjawabnya

“lalu, dimana amigeanya?”

Wajahnya menyiratkan rasa yang sulit aku ungkapkan apa itu, tapi aku tahu itu. Aku menarik nafas dalam

“bersama raka didalam”

“hanya berdua saja?”

Tak ada koma yang menjeda akan jawabanku dengan jawaban sekaligus pertanyaannya lagi. Baru saja aku akan menjawab, fajar melangkahkan tujunya ke pembuka pintu ruangan raka. aku berdiri dari dudukku, tanganku langsung menahan tangan raka yang hampir membuka pintu ruangan

“jangan dok! Saya mohon”

Dia melihatku kaget dan aneh. Aku diam, nafasku terengah-engah.

“kenapa? Saya harus memeriksa raka sha”

“saya mohon dok, beri waktu untuk mereka bersama?”

“ya, aku mengerti”

Tangannya yang aku pegang, melemah sendiri.

“biar saya saja sus yang memeriksa fasien ini. kalian langsung pergi ke ruangan lain saja dan periksa fasien”

Dia berbicara dengan kepala yang menunduk kepada dua suster yang sedari tadi menemaninya.

“baik dok” jawab kedua suster (bersamaan)

Kedua suster itu pergi untuk melaksanakan tugas. Disini hanya ada aku dan fajar. Dia masih saja tertunduk, raut wajahnya menyiratkan perasaannya kepada aku yang memerhatikan.

“dok?”

“iya?”

Akhirnya dia mempertemukan mataku dengan matanya. Aku menatapnya khawatir, apa yang dia rasakan? Apa dia menyukai amigea?. Dia pelan-pelan berjalan mendekati kursi, lalu duduk dengan wajah yang tak berubah.

“duduk sha”

Dia mempersilahkan aku duduk dengan menunjukan kursi disebelahnya. Aku mengangguk dan aku iyakan silahannya. Baru saja aku duduk, tasku terjatuh ke lantai. Tanganku turun untuk mengambil, tak sadar langkahnya sama dengan langkahku. Akhirnya tanganku tersentuh oleh tangannya yang kalah telat telah menyentuh tas duluan. Tangannya langsung terangkat lagi

“eh maaf sha, aku tak sengaja”

Dia meminta maaf dengan tangan yang merapihkan rambut sedangkan aku tak melihat satu helai rambut yang terabaikan kemana-kemana. Aku hanya tersenyum dan mengangguk untuk jawabannya. Aku simpan tas yang aku ambil dan di samping aku duduk.

“memang ami dengan raka punya hubungan apa sha?”

Dia bertanya tanpa tatapan mata, matanya melihat kosong ke depan. Ada sedih yang tersirat dari mata yang menatap kosong, ada yang diam-diam tak terima dua orang pelan-pelan bersatu kembali, dan aku? Sama sedih melihatnya sedih dengan perasaannya. Aku berpikir sejenak untuk memberikan jawaban untuknya

“untuk hubungan aku kurang tahu tapi, mereka saling mencintai walaupun raka sekarang lupa ingatan, hati tetap tahu siapa yang dia butuhkan, padahal sebelumnya raka selalu merasa kesakitan saat ami belum memakai cadar”

Lihat selengkapnya