PELAN-PELAN
Di sela bersabar
Pelan-pelan semuanya membaik
Sudah seakan sediakala
Saat bersama dia tidak kenapa dan mengapa.
Tak ada yang dapat mengira
Pelan-pelan dia mulai bersamaku lagi
Walau masih lupa akan ingatan dulu
Tapi, ini pertanda tuhan akan mengabulkan do’aku.
Pelan-pelan, itu pasti
Akan berjalan dengan baik
Dan akan secepatnya membaik
Tentu aku dan dia akan bersama kembali.
...
Ami
Aku mendorong raka kemana saja kaki ini melangkah. Sedari tadi raka diam saja, tak bertanya ataupun berbicara apapun kepadaku. Aku diam memikirkan ada apa dengan raka. didepan ku ada taman rumah sakit yang begitu sejuk, aku melihat kursi yang kosong dan teranungi dengan pohon yang membuat teduh, aku langsung menujukan langkah kesana. Ketika sampai di kursi taman, aku memposisikan duduk raka di sampingku. Aku duduk di kursi taman, sedangkan raka tak ada gerakan ataupun kata yang keluar dari mulutnya. Aku menarik nafas
“kamu kenapa ka? Kok kelihatannya murung?”
“ah apa?”
Raka balik bertanya kepada aku yang bertanya
“kamu kenapa?”
“oh, tidak apa-apa”
Wajah raka saat menjawab tak meyakinkanku sama sekali, aku mengeryitkan alisku
“kamu tak bisa berbohong ka”
Raka menundukan kepala seakan bersalah ketika aku berbicara
“aku merasa tak enak kepada seina saat tadi”
“memangnya?”
“akupun tak tahu kenapa”
Dia menatapku kembali. Sekarang dia tidak berbohong
“kamu menyukai seina?”
“apa? Aku menyukai seina? Tidak! Aku hanya berteman dengannya sedari sd saja, mungkin”
“mungkin?”
“iya, mungkin. Karena aku lupa segalanya”
“oh iya ya”