Amika [Aku Mencintaimu Itu Karena Allah]

dari Lalu
Chapter #29

aku tak tahu

AKU TAK TAHU

Ada yang baru

Dari pertemuan yang telah terikat

Beberapa hari lalu

Dia menceritakan saat waktu yang tak tepat.

Sudah ada dua pengakuan rasa

Di satu hari ini

Yang pertama, memang aku cinta

Sedang yang kedua, aku tak bisa menolak juga.

Siapa bisa menolak dalam keadaan ini

Saat hati tak kuasa menahan sabar

Dan menolak yang terlihat tulus dan hadir

Aku tak tahu, sungguh.

...

Ami

      Kakiku telah angkat kaki dari rumah sakit. Aku menghirup nafas lega. Hari ini, semua rasa bercampur aduk, aku bingung harus bercerita dari mana kepada aisha. Baru saja aku akan mengambil handphone untuk menelpon aisha, seseorang memanggil namaku, suaranyapun taka sing di telinga

“amigea!”

Aku melihat dia yang memanggil, fajar. Dia sudah datang dari mengantarkan aisha pulang atau baru datang? Aku lihat jas putih masih memeluknya.

“fajar!”

Aku membalas panggilannya. Dia melangkah mendekati tempatku berpijak. Aku rasa ada sesuatu yang tak sesuai keinginan

“jar? Kamu darimana?”

“aku? Aku baru beres meng-oprasi fasien. Maafkan aku mi, aku tidak bisa mengantarkan aisha pulang karena ada fasien tabrak lari”

“lalu aisha tahukan?” aku langsung memotong perkataannya walaupun aku tahu dia pasti akan menjelaskan soal yang aku tanyakan padanya

“iya aisha tahu kok mi, tenang saja”

Wajahnya menunduk seperti bersalah kepadaku, aku jadi tak enak memandangnya seperti ini

“iya tak apa juga kok jar, yang penting aisha tahu. Aku takut jika ia menunggumu”

Wajahnya kembali bagun dan dia juga memberi senyuman kepadaku

“kamu mau pulang? Sudah beres jalan-jalan sama raka?”

“iya nih aku mau pulang. Raka sudah ditemani seina”

“yasudah aku antar kamu pulang mau tidak? Lagipula tugasku sudah selesai”

Dia memberi senyuman yang dihiasi tebaran harapan, aku jadinya refleks memberinya senyuman juga

“bener nih? Aku takut seperti aisha yang tak jadi karena ada operasi dadakan”

Aku meledeknya disertai dengan keraguan untuk menerima ajakannya

“tidak akan mi, piket ku hanya sampai sore. Kalaupun nanti ada fasien yang harus di-oprasi bukan aku dokter yang akan meng-oprasi tapi dokter yang bagian piket sore sampai malam”

Aku tak tahan menahan tawa saat dia menjelaskan apa yang aku sudah tahu tapi aku ragukan. Padahal aku hanya mengetesnya saja, akupun tahu jikalau dokter bedah itu mempunyai jadwal piket kerjanya.

“iya jar, aku juga tahu kok”

Aku menjawab dengan jahil yang selalu terukir di wajahku. Fajar tersenyum malu, tangannya langsung merenggut tanganku dan dia menuntunku ke mobilnya yang tak jauh dari tempat aku dengan fajar berdiri dari tadi. Aku rasa ada yang tidak enak untuk dilanjutkan

Lihat selengkapnya