Amika [Aku Mencintaimu Itu Karena Allah]

dari Lalu
Chapter #32

pengakuan kerelaan

PENGAKUAN KERELAAN

Ada yang berbeda

Jikalau yang terjadi tak di inginkan

Apa yang akan terjadi

Jika yang di inginkan dipaksakan.

Yang bersifat bahagia

Haruslah ada kesedihan menyertai

Karena takut lena melupakan

Hati yang memasrahkan.

Lama tak menjamin abadi

kejap juga tak menjamin kandas

ini bukan perihal waktu

tapi perihal pemberian tuhan.

...

Raka

       Mataku terbuka begitu merasakan seseorang membuka gorden jendela. Ternyata matahari telah terbitkan sinar. Seina merapihkan benda yang terdampar di lantai. Semenjak kemarin, seina tidak banyak bicara kepadaku, dia berbicara seperlunya. Mata seina yang terlihat menghindari pertemuan mataku dengannya, memperlihatkan rasa yang dia pendam sendiri. Biasanya dia selalu ceria saat denganku. Dia mengambil gelas yang ada di meja. Jika aku tak salah melihat, tangannya gemetaran

“prang!”

Gelas yang dia ambil, jatuh begitu saja. Beningan gelas terhampar di lantai. Aku angkat badan dari tempat tidur yang membuatku bosan. aku menghampirinya

“sei..”

Baru saja aku akan membantunya yang sedang memungut kepingan gelas yang pecah, dia menahan dengan tangan yang menahanku mendekat.

“jangan ka, bahaya”

Dia mengancamku tanpa melihatku. aku merasa ada sesuatu yang tak beres dengannya

“ada apa seina? Kamu kenapa?”

Aku langsung bertanya apa yang sudah terangkai sedari tadi untuknya. Seina hanya menggelengkan kepala

“kenapa na?”

Aku membujuk dengan menggenggam lembut tangannya. Seina kembalikan pandangan yang dia palingkan. Ada genangan yang terpantul dari bening matanya

“tidak ada apa-apa ka”

Dia menjawab dengan mata yang melihat ke bawah.

“seina lihat aku! lihat mataku”

Aku semakin membujuknya, meminta dia untuk melihat aku yang khawatir. Akhirnya seina kembali melihatku lagi

“ada apa na? kenapa sejak kemarin sore kamu berbeda?”

Dia masih menggelengkan kepala tapi matanya tetap melihatku. aku dibuatnya kesal karena telah membuatku merasa mempunyai salah kepadanya

“aku mohon na. ada apa? Jangan buat aku khawatir”

Dia meneteskan air mata dari pelupuk matanya. Isakan tangis langsung terdengar di telinga

“sei?”

Aku memanggilnya yang terbawa arus kesedihan yang tak tahu apa penyebabnya

“aku takut kehilanganmu raka”

Begitu saja, seakan ada petir yang menyambar kenyataan dibalik realita kehidupan. Aku berusaha tenang dengan pengakuan seina. Aku memikirkan apa jawaban yang netral untuk membalas sebuah pengakuan

“kamu tak akan kehilangan aku sei”

Seina tersenyum dengan mata yang menahan air maa terjatuh lagi.

“aku takut ka”

“jangan takut mi” kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku. Aku merasa bukan laki-laki yang sejati

“apa?mi?”

“tidak, kamu salah dengar”

Seina tersenyum menertawakan jawaban yang seharusnya diberi kepada anak sd.

“oh, salah dengar ya”

Aku mengangguk meyakinkan dia yang sudah tahu kebenarannya

“aku mencintaimu sedari awal kita bersama raka”

Pengakuannya semakin menjadi-jadi. Aku memalingkan wajah dari pandangannya yang meminta asih untuknya. Aku melihat sudut senyumnya, tangannya memalikan pipiku dan membuat mataku kembali menatap matanya

“aku tak meminta kamu membalas cintaku ka. Aku hanya ingin aku tak kehilanganmu”

“iya sei, aku juga tak ingin kehilangan sahabat sepertimu”

Aku dan seina saling memberikan senyuman. Dia terlihat begitu tanang sekarang.

Lihat selengkapnya