Amika [Aku Mencintaimu Itu Karena Allah]

dari Lalu
Chapter #34

saat aku mengingat lagi

SAAT AKU MENGINGAT LAGI

Akhirnya kunci pintu ingatanku

Ditemukan sahabatku sedari beranjak remaja

Dia menyayangiku,

Tapi dia berbaik hati mengalahkan hati.

Aku mengingat lagi

Aku mengingat siapa yang aku cinta

Ternyata, aku mencintainya tulus

Dia juga mencintaiku tulus.

...

Raka

“jadi..”

Pikiranku kosong saat melihat vidio di cd yang terputar. Ada banyak tawa yang terungkap oleh cd, di penutupnyapun ada ucapan ‘happy birthday amigea, aku mencintaimu’

“happy birthday? Berarti..”

Belum semua kata yang terangkai dimulut terungkapkan, kepalaku sudah sakit yang tiada tandingnya, sakit sekarang begitu berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya aku rasakan. Rasa sakit ini ditemani dengan putaran-putaran kejadian yang aku jalani. Aku menahan dengan memegang bagian kepalaku yang sakit. Aku tak tahan lagi, aku pasrahkan saja kepada yang maha kuasa.

“BRUK!!!”

Raka

“raka tolong aku!”

Ada yang memanggilku dari belakang. Aku langsung refleks membalikan badan. Ternyata amigea. Dia menatapku kosong. Aku masih diam belum menjawab permintaannya. Matanya yang masih menatap kosong meneteskan air mata. tanganku langsung meraih tangan ami, secara langsung pula ami melepaskan genggaman tanganku

“kenapa ami?”

Ami masih menatapku kosong, aku merasa ada yang aneh dari matanya

“ami?”

Dia masih menatapku kosong. Biasanya jika dia tidak membalas dengan lisan, dia selalu membalas dengan tatapan mata.

“ami kenapa kamu menatapku aneh?”

Dia menundukan pandangannya. Tanganku membangkitkan pandangannya yang ke bawah. saat pandangannya telah sejajar dengan pandanganku, dia masih menatapku kosong. Aku penasaran akan apa yang terjadi. Aku melambaikan tangan tepat di matanya, dan dia masih tetap menatapku langsung. Jantungku seperti menghentikan diri untuk berdetak. Air mataku sudah membendung di awan mata

“ami kamu lihat aku?”

Ami tidak menjawab aku sama sekali. Yang ada air matanya menetes terus tanpa henti

“amigea jawab aku!”

Aku sedikit mengeraskan suara. Ami masih tidak menjawab, dia ketakutan mendengar suaraku

“amigea kamu bisa lihat aku? dari tadi pandanganmu kosong”

Tangisan dia tersedu. Aku mengusap tangisannya yang jatuh

“ami jawab aku”

Lihat selengkapnya