KETETAPAN KESEKIAN
Ingatan yang pulang sebentar
Telah datang saat ketetapan kesekian
Bukan aku yang ditetapkan
Tapi orang yang ku cinta, yang telah memperjuangkan.
Mimpi saat kali pertama ingat
Ternyata sebuah kenyataan yang sudah menyapa
Agar aku bisa kuat bertahan
Dan kini giliranku yang berjuang, untuk
Kesembuhanmu.
...
Raka
Aku mengambil handphone yang diam saja di atas meja disampingku. Aku langsung menari-narikan jariku mencari sebuah nama yang sudah tertulis di hatiku, amigea. Tak perlu berpikir lagi, tanganku menekan gambar ponsel berwarna hijau
‘nomor yang ada hubungi
Sudah tidak aktif lagi’
Serasa ada yang memukulku begitu saja. Operator yang menjawabku, mengungkapkan secara lisan akan keadaan ami. Aku masih tidak percaya, kuputuskan untuk menelpon ami sekali lagi
‘nomor yang ada hubungi
Sudah tidak aktif lagi’
Aku menghela nafas berat
“ibu?”
Aku memanggil ibu yang tengah membaca sebuah buku di kursi. Rasanya, baru kali pertama aku melihat ibu membaca buku dalam keadaan seperti ini. ibu memalingkan tatapannya dari buku, dan dialihkan kepadaku. Ibu memberikan isyarat jawaban untuk panggilanku
“ibu sudah bertemu ami hari ini?”
Ibu menatap ke sampingnya sebentar, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“ti.. tidak, ibu tidak bertemu ami”
Ibu menjawab dengan terbata-bata. Aku hanya aneh saja dengan ekspresi yang ditunjukan ibu. Aku tak memperpanjang pertanyaanku
“oh, yasudah”,
“bu, aku ingin jalan-jalan keluar” pintaku langsung setelah memberi respon dari jawaban ibu.
“kamu yakin ka? Kamu baru sembuh loh”
“justru dari itu bu, aku ingin menghirup udara segar, dan melihat pemandangan lain”
“ya sudah”
Akhirnya ibu menuruti permintaanku. Ibu mengambil kursi roda yang berada di sudut kamar. Ibu menurunkanku pelan-pelan ke kursi roda
“tak apa bu, aku sudah sembuh loh”