SEMUANYA TAK JELAS
Saat bunga mimpi membangunkan
Semuanya tak jelas
Tak ada yang jelas satu garispun
Aku tidak bisa melihat apa-apa.
Disaat kamu sudah sembuh
Kini aku yang sakit
Tapi rasanya aku begitu sakit
Karena aku tak bisa melihatmu.
Harapanku untuk bersama
Sudah tak pantas untuk ada
Kamu lebih baik untuk aku
Yang tak bisa melihat kamu lagi.
...
Ami
“ami!”
“kamu dimana raka?”
“aku di depan kamu”
Tanganku memanjang mencari suara yang terdengar. Tapi tak ku temukan wujudnya
“aku tidak tahu kamu dimana raka! aku tidak bisa melihat apa-apa”
Raka tertawa. Aku jadi kesal dengan balasannya untukku. Bibirku jadi cemberut tanpa aku minta
“jangan cemberut amigeaku”
Aku tak membalasnya dengan apa-apa. Aku masih kesal kepadanya
“aku tuh gak bisa lihat apa-apa raka fhaisal” aku berbicara dengan nada yang kesal
“dengarkan aku amigea. Jika kamu mencintai seseorang, kamu dapat melihatnya dimanapun dia berada walaupun kamu tidak bisa melihat”
“(mendengus kesal) bagaimana caranya?”
“masih ada mata hati yang menuntunmu dan mata cinta orang yang kamu cinta. Aku pulang dulu ya, dah amigeaku”
…
Raka
Aku masih menangisi keadaan amigea yang sulit aku terima, bagaimana amigea yang menjalaninya?. Aku sudah serba salah dengan kesedihan ini. hari yang seharusnya menjadi kejutan untuk ami akan kesembuhanku, mengapa harus dihiasi dengan kesakitan yang bertambah level. Aku memerhatikan fajar yang tengah teleponan dengan seseorang demgan kaki yang bolak balik di depan ruang ICU, aku tahu tak ada yang patut disalahkan. Ini sudah tertulis di takdir ami.