~Kobe~
Lantunan suara Alicia Keys yang menyanyikan If I Ain't Got You mengalun lembut melalui earphone di telinga, menemani sore saya yang penuh kesibukan. Mata ini terpaku pada layar empat belas inci di atas meja kerja, menampilkan grafik laporan penjualan bulanan yang harus saya selesaikan. Deretan grafik di layar ini terlihat seperti gunung-gunung kecil yang naik-turun tanpa kendali, mencerminkan laporan penjualan bulanan saya. Angka-angka yang tadinya terasa sekadar rutinitas, kini mulai terasa menekan. Pekerjaan sebagai seorang sales memang jarang membawa kejutan, tetapi sore ini terasa ada sesuatu yang berbeda, meski saya belum tahu apa.
Ketika masih fokus menatap layar, tiba-tiba bahu saya ditepuk keras. Hampir saja mouse yang saya pegang terlepas dari tangan.
“Hoi, serius banget sampai dipanggil nggak nyaut-nyaut.”
Suara itu milik Juned, rekan kerja sekaligus teman akrab saya. Ia terkekeh sambil membetulkan posisi kacamatanya.
Saya menoleh, melepas earphone dan memandangnya datar.
"Kenapa, Jun? Lagi tanggung ini."
"Itu, bos manggil. Suruh ke ruangan sekarang."
Ada sesuatu dalam nadanya yang membuat tengkuk saya sedikit dingin. Bos saya bukan tipe orang yang sering memanggil bawahannya tanpa alasan. Apakah ada laporan baru yang harus saya kerjakan? Atau, jangan-jangan ini tentang angka penjualan? Pikiran saya berputar cepat.
"Seriusan nih? Sekarang juga?"
"Iya, cepat sana! Jangan sampai dia ngamuk, bisa berabe," balasnya sebelum kembali ke mejanya.
Langkah saya terasa berat menuju ruang bos. Perasaan tidak enak mulai mengendap, tapi saya mencoba menutupi kecemasan itu dengan wajah setenang mungkin. Setibanya di depan pintu, saya menarik napas panjang sebelum memutar kenopnya.
Ruangan Pak Bos terlihat seperti biasanya. Meja kayu besar yang tertutup tumpukan dokumen, sebuah tablet yang tergeletak di atasnya dan seorang pria bertubuh gemuk duduk dengan ekspresi santai, tetapi saya tahu betul bahwa di balik senyum itu, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Duduklah," katanya, menunjuk kursi di depannya dengan ujung pena.
Saya menuruti tanpa banyak bicara. Sesaat kemudian, tangannya meraih sebuah amplop cokelat dari laci meja. Amplop itu agak kusut di sudut-sudutnya, tebal seperti berisi lebih dari sekadar selembar kertas. Ketika ia menyerahkannya, saya merasakan beratnya di tangan. Bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional.
Dengan ragu, saya mengambil amplop itu. Isinya membuat perut saya terasa seperti diremas. Gaji untuk bulan ini, disertai sebuah surat.
“Itu gajimu bulan ini dan, maaf, mulai besok Pak Kobe tidak perlu datang bekerja lagi," ujarnya dengan nada dingin.
Bagai disambar petir di siang bolong, kata-kata itu memaku saya di tempat. Amplop itu tiba-tiba terasa seperti batu yang menghimpit telapak tangan saya.
"Pak, apa saya melakukan kesalahan? Bukannya kinerja saya selama ini baik-baik saja?" tanya saya, mencoba mengerti alasan di balik keputusan mendadak ini.