~Mirabelle~
Yang dikatakan dokter pagi itu tidak jauh berbeda dengan hasil testpack kemarin. Katanya, aku sudah tujuh minggu hamil. Hamil. Kata itu terasa asing, bahkan setelah berulang kali aku coba cerna. Aku berdiri di depan cermin besar di kamar kami, mengusap pelan perutku yang masih rata. Di sana, ada kehidupan lain yang tumbuh. Aku mencoba tersenyum, tapi bibirku gemetar. Campuran bahagia, bingung, dan takut menyeruak seperti gelombang yang datang bertubi-tubi. Apakah aku siap? Apa aku akan menjadi ibu yang baik?
Kamar tidur kami tidak besar, tapi nyaman. Dindingnya dicat warna krem, ada rak kecil di sudut tempat buku-buku Kobe tersusun rapi. Di meja riasku, berjejer botol parfum dan beberapa foto kecil kami berdua. Selimut bermotif bunga lembut menutupi ranjang, dengan satu bantal tambahan yang sering kupeluk saat tidur. Semuanya sederhana, tetapi terasa seperti rumah.
Aku memutar tubuh, ingin memastikan semua siap untuk pergi arisan, saat suara Kobe terdengar dari balik pintu.
"Kamu jadi pergi arisan sore ini, Mir?"
Suara itu hangat, tapi ada sesuatu yang aneh belakangan ini. Ia terlalu perhatian, bahkan sedikit lebih cerewet dari biasanya.
"Iya, Mas. Nggak enak kalau dibatalin," jawabku sambil menatap cermin, memastikan dress longgar yang kupakai cukup nyaman.
Kobe masuk ke kamar, bersandar di kusen pintu. Mata cokelatnya sedikit cekung, seperti kurang tidur. Dia menyilangkan tangan di dada, jemarinya mengetuk-ngetuk lengan atas. Kebiasaan kecilnya saat sedang gelisah. Aku ingin bertanya, tapi kutahan. Bukan hal baru bagiku melihat dia seperti itu. Namun, akhir-akhir ini ia lebih sering termenung.
"Jangan lupa pesan dokter ya. Jangan terlalu capek," katanya sambil menatapku penuh perhatian.
Aku tertawa kecil. "Iya, iya. Kalau kamu terus ingetin, nanti aku lupa beneran."
Dia tersenyum samar, mendekat, lalu mengusap kepalaku. "Kamu hati-hati ya, Sayang."
Entah mengapa sentuhannya kali ini terasa aneh. Bukan kelembutan biasa yang menenangkan, melainkan seperti isyarat. Isyarat apa, aku tidak tahu.
Ketika pergi ke tempat arisan, aku berjalan melewati halaman kecil depan rumah kami. Bunga melati di pot besar yang kupelihara sedang mekar, baunya semerbak menyambut pagi yang cerah. Rumah kami ada di gang kecil yang tenang, diapit rumah-rumah tetangga yang sama sederhananya. Suara motor tetangga yang baru pulang kerja bercampur dengan obrolan ibu-ibu di teras rumah seberang.
Perjalanan menuju tempat arisan terasa nyaman, tapi pikiranku terus kembali pada Kobe. Ia terlihat berbeda pagi ini, seperti ada yang disembunyikannya. Namun aku mencoba mengabaikan itu, memilih menikmati suasana sore yang hangat bersama para tetangga.
☆☆☆
Malam itu, aku mendapati Kobe duduk di sisi ranjang, menatap jauh ke arah jendela. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Mas..."
Saat aku menepuk pundaknya pelan, mata brown itu beralih menatapku bingung.
Tuh 'kan, dia melamun lagi.
"Ku perhatikan sejak kemarin mas sering bengong. Ada apa?" tanyaku sambil menerawang ke dalam matanya
"Enggak ada apa-apa," jawabnya singkat.
Walau mulut itu bilang tidak ada apa-apa, tapi matamu itu tidak bisa berbohong.
Dari matanya, aku dapat menebak ada sesuatu yang menganggunya. Lelaki ini terlihat seperti sedang gundah. Entah apa yang tengah di risaukannya kali ini.
"Beneran nggak ada apa-apa? Kalau lagi ada masalah, cerita saja sama Mira."
Ia hanya tersenyum sambil meraih tanganku dan mendekap erat punggung ini. Walau rasanya nyaman sekali berada di pelukannya, tapi pikiranku tidak bisa tenang.
Padahal aku sangat berharap dia mau menceritakan sedikit isi hatinya. Semoga saja kali ini tebakanku salah.