~Kobe~
Pagi itu, matahari pagi memercikkan warna keemasan ke dalam kamar kami. Tirai biru pastel sedikit tersingkap, membuat sinar lembut masuk dan menyoroti dinding putih yang dipenuhi beberapa foto pernikahan kami. Kamar ini sederhana, dengan ranjang kayu yang mulai berderit ketika Mira bergerak-gerak gelisah. Tubuhnya kerap bergerak, seakan mencoba menghilangkan rasa tak nyaman yang entah berasal dari mana. Wajahnya tegang, matanya sembap seperti habis menangis semalaman. Tidak ada senyuman kecil seperti biasanya ketika dia bangun pagi. Bahkan, ucapan selamat pagi pun tidak keluar dari bibirnya.
Di samping ranjang, meja kecil dipenuhi botol-botol vitamin untuk ibu hamil dan segelas air hangat yang tadi saya siapkan.
Saat sarapan, Mira hanya duduk diam sambil mengaduk-aduk bubur di depannya. Sendoknya bergerak perlahan, namun tidak pernah sampai ke mulut. Tangannya mengetuk meja kecil secara berirama. Gerakan kecil yang biasanya muncul ketika dia sedang menahan diri untuk tidak meledak.
"Mira, kamu nggak sarapan?" tanya saya, mencoba memecah keheningan.
Dia hanya menatap buburnya, lalu bangkit tanpa sepatah kata, meninggalkan saya sendirian di ruang makan.
Ketika saya menjemputnya di sekolah, Mira terlihat cemberut. Dan sekarang, wajahnya masih saja masam. Dia hanya berjalan melewati saya tanpa sepatah kata begitu kami tiba di rumah, menutup pintu kamar dengan keras, meninggalkan saya di ruang tamu yang terasa mendadak sunyi.
Saat makan malam, ruang makan yang biasanya menjadi tempat kami berbincang hangat justru dipenuhi keheningan mencekam. Meja makan kecil kami, dengan taplak motif bunga lusuh yang dipakai bertahun-tahun, tidak mampu menghidupkan suasana. Hanya suara denting sendok beradu dengan piring yang terdengar, seolah menjadi metronom yang menandai jarak di antara kami. Mira terlihat menatap kosong ke arah piringnya, tatapannya seolah-olah menembus makanan yang tidak disentuh itu.
Saya mencoba mencairkan suasana. "Kamu kenapa sebenarnya? Dari tadi mukanya di tekuk begitu. Apa ada masalah di sekolah?"
Mira hanya menggelengkan kepala. "Enggak," jawabnya singkat.
Ada yang berbeda dengannya. Biasanya Mira adalah orang yang cerewet, selalu punya cerita panjang lebar tentang murid-muridnya di sekolah, dari yang lucu sampai yang menyebalkan. Tapi sekarang, dia bahkan tidak mau berbicara. Rasanya seperti ada tembok yang tidak bisa ditembus.
"Kalau enggak, senyum dong. Cantiknya hilang nanti kalau kelamaan manyun begitu." Saya bercanda mencoba mencairkan suasana.
Tapi kali ini candaan saya tidak bekerja. Dia melirik sinis, menepis tangan yang ingin saya gunakan untuk menyentuh dagunya.
Sikapnya membuat saya merasa semakin kecil. Saya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan soal murid-murid di sekolahnya. Ini tentang saya, tentang rahasia yang saya simpan rapat-rapat sejak sebulan lalu. Pemecatan itu.
Saya tidak pernah bermaksud menyembunyikannya. Tapi setiap kali ingin bicara, waktu selalu terasa tidak tepat. Saat Mira sedang bahagia, saya tidak ingin merusaknya. Saat dia lelah, saya tidak ingin membebaninya. Begitu terus, sampai saya sendiri terjebak dalam kebohongan yang saya bangun.
Bohong. Saya tahu ini salah, tapi saya tidak punya pilihan lain. Kebohongan ini awalnya terasa kecil, tapi lama-lama seperti ular yang melilit semakin erat, membuat saya sulit bernapas. Setiap malam, saya terjaga lebih lama dari Mira, memikirkan bagaimana harus menghadapi kenyataan ini.
Awalnya, saya berpikir dengan menyembunyikan ini, saya bisa melindunginya. Mira sedang hamil, penuh semangat menyiapkan kelahiran anak kami. Saya tidak ingin menambah bebannya. Tapi kebohongan ini justru menciptakan jarak di antara kami.
Dia mungkin tidak tahu apa masalah saya, tapi dia pasti merasakan perubahan sikap saya. Saya melamun lebih sering, kehilangan fokus bahkan untuk hal-hal kecil. Uang pesangon sudah hampir habis, tapi saya masih belum menemukan pekerjaan baru. Saya takut. Takut Mira akan kecewa. Takut dia merasa saya tidak cukup sebagai suaminya. Saya melihatnya begitu ceria mempersiapkan kelahiran anak kami. Saya tidak ingin merusak itu. Saya tidak bisa terus berpura-pura seperti ini, tapi saya juga tidak tahu bagaimana cara memulai.
☆☆☆
Setelah makan malam, Mira mengunci diri di kamar. Saya mengetuk pintu. "Mira, buka pintunya. Mas mau masuk."