Malam sudah terlalu larut untuk anak seusiaku.
Tapi aku belum bisa pulang, belum bisa berhenti menjadi kuat.
Setelah selesai mengemas buku-buku yang aku dekap seperti pelindung tak kasat mata,
aku melangkah menuju tempat yang kusebut rumah—bukan karena bentuknya, tapi karena di sanalah satu-satunya orang yang mencintaiku tinggal.
Aku melewati jalan yang sudah hafal bau alkohol dan suara tawa palsu.
Perempuan-perempuan malam menyapaku dengan senyum yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang sama-sama pernah dijatuhkan dunia.
Mereka tak punya panggung, tak punya gelar.
Tapi mereka punya sisi manusia, yang hangat, yang tak dimiliki mereka yang duduk di bangku berseragam.
"Hati-hati ya, Rudi!"
seru Kak Ana—dandanannya menor, tapi hatinya tulus.