Pagi belum benar-benar hadir, tapi suara gaduh sudah menggema seperti drum perang.
Suara-suara dari luar menembus celah pintu kayu tua yang tak lagi rapat.
"Kamu di dalam saja ya, Rud.
Ibu mau keluar sebentar, lihat ada apa."
Ibuku mengelus rambutku sebelum membuka pintu.
Elusan yang singkat, tapi terasa seperti pelukan di pagi buta.
Aku penasaran. Maka kubuka jendela sedikit, cukup untuk melihat, cukup untuk mendengar.
Puluhan perempuan malam sudah berkumpul di lapangan sempit di tengah pemukiman kami.
Wajah-wajah lelah tapi berani, mata-mata sembab tapi menyala.
Surat Tanpa Belas Kasih
"Ini gimana ini!
Ada surat edaran, katanya tempat ini bakal dibongkar paksa!"
seru Kak Ana, suaranya gemetar tapi tegas.
"Kita jangan mau nyerah gitu aja, Kak.
Kita udah tinggal di sini lama. Masa diusir gitu aja!"
sahut Kak Risma, berdiri di samping Kak Ana dengan tangan mengepal.
Ibuku ikut bicara, suaranya pelan tapi menusuk,