Anak Diujung Pelukan

Temu Sunyi
Chapter #20

Untuk Kalian yang Merasa Paling Suci


Dan malam pun benar-benar menelan kami.

Tak ada lagi rumah, tak ada lagi senyuman palsu yang bisa kutukar dengan harapan.

Ibu duduk memeluk lutut, diam, tak menangis, karena air mata sudah habis dibayar bertahun lalu.

Wajah-wajah yang dulu penuh api, kini hanyalah puing. Mereka bukan lagi perempuan malam—mereka cuma manusia yang kehilangan tempat untuk disebut “ada”.

Aku… masih anak-anak.

Tapi entah kenapa, dunia sudah memberiku luka sebesar orang dewasa.

Sudah memberiku pelajaran yang tak pernah diajarkan di sekolah—bahwa menjadi benar bukan berarti akan dibela, dan menjadi salah kadang hanya soal alamat tempat tinggal.

Namaku Rudi. Tapi dalam banyak cerita, aku mungkin tak akan disebutkan.

Karena aku hidup di tempat yang mereka anggap layak untuk dilupakan.

Aku tumbuh dari rahim seorang perempuan yang mereka hakimi hanya dari pekerjaan.

Aku besar di dunia yang mereka anggap busuk, hanya karena mereka tak pernah benar-benar menyusup ke dalamnya,

Lihat selengkapnya