Pernahkah kau memperhatikan sebuah rumah? Bukan cat temboknya. Bukan bentuk atapnya. Bukan pula pagar yang mengelilinginya.
Aku sedang berbicara tentang rumah yang menyimpan aturan-aturan yang tak pernah ditulis. Tentang siapa yang boleh duduk di ruang depan. Siapa yang harus makan belakangan. Siapa yang suaranya didengar. Dan siapa yang harus diam.
Aku lahir di tanah Jawa. Di tempat orang diajari menghormati yang lebih tua, menjaga unggah-ungguh, dan menundukkan kepala sebelum meninggikan suara. Banyak yang indah dari warisan itu. Aku tumbuh dengan tembang yang dinyanyikan sebelum tidur, aroma melati di halaman, dan doa-doa yang dipanjatkan dalam bahasa yang lembut.