Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #2

Selalu Menundukkan Kepala

Rumah itu selalu tampak tenang dari jalan raya. Pendapanya berdiri tegak dengan empat tiang jati yang mulai menghitam dimakan usia. Pohon sawo kecik tumbuh di halaman depan. Daunnya tak pernah benar-benar gugur. Orang-orang yang lewat akan memperlambat langkah. Sebagian menunduk. Sebagian lagi mengangkat tangan ke dada. Seolah rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sesuatu yang harus dihormati.

Aku tinggal di belakangnya. Tepatnya di gandhok, bangunan kecil yang menempel di sisi dapur. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk kami. Atapnya bocor di beberapa sudut. Jika hujan turun semalaman, Ibu akan memindahkan ember berkali-kali agar tikar kami tidak basah. Di sanalah kami tidur. Di sanalah kami makan. Di sanalah aku belajar bahwa rumah yang sama bisa memberi arti yang berbeda bagi orang yang berbeda.

"Bangun, Nduk."

Suara Ibu selalu lebih dulu datang daripada matahari. Aku membuka mata. Udara masih dingin. Bau kayu bakar sudah memenuhi ruangan. Ibu sedang melipat selimut tipis kami. Wajahnya terlihat lelah. Entah sejak kapan wajah itu selalu tampak lelah.

"Hari ini tamu banyak," katanya. "Jangan lambat!"

Aku mengangguk. Tak ada yang perlu ditanyakan. Hari dengan tamu berarti halaman harus disapu dua kali. Gelas harus mengilap. Lantai pendapa tidak boleh meninggalkan bekas telapak kaki.

Kami berjalan keluar tanpa banyak bicara. Embun masih menggantung di daun pisang. Ayam berkokok bersahutan dari rumah-rumah tetangga. Dari kejauhan terdengar azan Subuh yang mulai memudar. Rumah besar itu perlahan bangun bersama suara-suara pagi.

Sebelum menaiki tiga anak tangga menuju pendapa, Ibu menghentikan langkahku.

"Ingat!"

Aku menoleh.

"Kalau Ndara Kakung lewat, menunduk!"

"Aku ingat."

"Jangan menatap wajahnya!"

Aku mengangguk lagi. Nasihat itu sudah kudengar sejak bisa berjalan. Begitu sering diulang hingga terdengar seperti doa. Atau mungkin kutukan.

Lihat selengkapnya