Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #3

Aturan yang Tidak Pernah Ditulis

Setiap rumah punya aturan. Sebagian ditempel di dinding. Sebagian lagi hanya tinggal di kepala orang-orang yang menghuninya. Rumah ini memilih cara kedua. Tidak ada yang pernah menuliskannya. Namun semua orang tahu kapan harus diam, kapan harus menunduk, dan kepada siapa mereka harus patuh.

Aku mempelajarinya tanpa pernah diajari. Barangkali begitulah cara aturan bekerja. Ia meresap seperti bau kayu tua di pendapa. Mula-mula tidak terasa. Lama-lama menjadi bagian dari napas. Bahkan anak kecil pun tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Siapa yang lupa akan segera diingatkan.

Pagi itu, Simbok Darmi datang membawa bakul berisi sayur. Kerudungnya sudah basah oleh keringat, padahal matahari baru naik setinggi pohon mangga. Ia meletakkan bakul di dapur, lalu mengusap dahinya dengan ujung selendang. Ibu menghampirinya sambil tersenyum tipis. Mereka berbicara pelan. Hampir berbisik.

"Apa Ndara Putri sudah bangun?" tanya Simbok Darmi.

"Sudah. Dari tadi belajar membatik sama Simbah."

"Ndara Kakung?"

"Masih di kamar."

Simbok Darmi mengangguk. Wajahnya tampak lega. Seolah ada orang yang tidak boleh ditemui sebelum benar-benar siap.

Aku sedang mencuci gelas di dekat sumur. Tanganku berhenti saat mendengar langkah kaki dari arah rumah utama. Seorang perempuan keluar sambil membawa nampan kosong. Wajahnya cantik. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya disanggul rapi. Namanya Raden Ayu Pramesti. Semua orang memanggilnya Ndara Putri. Ia adalah anak sulung keluarga itu.

Usianya mungkin tujuh belas tahun. Tidak pernah sekali pun kulihat ia keluar rumah sendirian. Jika ingin pergi ke pasar, selalu ditemani sopir. Jika menghadiri undangan, selalu bersama ibunya. Bahkan ketika berdiri di teras, Simbah sering mengingatkannya agar tidak terlalu lama dilihat orang.

"Kamu perempuan," begitu kata Simbah suatu hari.  "Perempuan itu dijaga, bukan dibiarkan berkeliaran."

Lihat selengkapnya