Rumah itu selalu sibuk setiap pagi. Suara sapu beradu dengan halaman. Asap dapur naik pelan dari tungku yang tak pernah benar-benar padam. Burung-burung gereja hinggap di genting sebelum terbang lagi ketika pintu depan dibuka. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Hanya aku yang mulai merasa ada sesuatu yang selalu ganjil.
Pagi itu Ibu menyuruhku membantu menata meja makan. Piring-piring porselen dikeluarkan dari lemari kaca. Motif bunga biru mengelilingi pinggirannya. Gelas kristal disusun sejajar. Sendok dan garpu diletakkan dengan jarak yang sama. Aku memperhatikan semuanya sambil menahan napas. Di rumah ini, piring pun seolah tahu kepada siapa ia harus mengabdi.
Mas Bimo datang paling akhir. Rambutnya masih basah. Bajunya harum. Ia langsung duduk tanpa menyapa siapa pun. Ndara Putri yang sejak tadi membantu menyiapkan makanan justru berdiri di samping meja. Nyai menuangkan sayur ke mangkuk anak lelakinya lebih dulu. Simbah tersenyum melihatnya. Tidak ada yang merasa itu aneh. Mungkin hanya aku yang bertanya-tanya kenapa tangan yang memasak justru menjadi tangan yang paling akhir menyentuh nasi.
"Ayo, Bimo. Makan yang banyak," kata Simbah.
Mas Bimo mengangguk sambil mengambil paha ayam paling besar. Tak seorang pun memprotes. Bahkan Ndara Putri hanya menundukkan kepala ketika bagian ayam yang tersisa tinggal sayap. Ia tetap tersenyum. Senyum yang semakin sering kulihat, tetapi semakin sulit kupahami.
Seusai makan, aku membantu membawa piring kotor ke dapur. Ndara Putri ikut masuk sambil menggulung lengan bajunya. Ia mengambil baskom dan mulai mencuci piring. Tangannya cekatan. Air mengalir pelan dari keran. Aku menatapnya heran. Bukankah ia anak majikan? Kenapa ia ikut mencuci?
"Ndara, biar saya saja," kataku pelan.
Ia tersenyum. "Kalau tidak begini, nanti dibilang perempuan tidak tahu kerja dapur."
"Tapi Mas Bimo tidak pernah membantu."
Ia berhenti menggosok piring. Senyumnya masih ada. Hanya matanya yang berubah redup.
"Mas Bimo laki-laki."