Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #5

Tangis di Balik Pintu

Rumah itu paling sunyi saat sore. Tamu sudah pulang. Pendapa kembali lengang. Angin membawa bau tanah yang baru disiram. Burung-burung mulai mencari tempat berteduh. Hanya suara sapu yang masih terdengar dari halaman depan. Selebihnya, rumah itu seperti sedang menahan napas.

Ibu memintaku mengantar teh ke ruang tengah. Cangkir-cangkir porselen bergetar pelan di atas nampan. Aku melangkah hati-hati melewati lorong yang jarang kulewati. Biasanya pembantu tidak boleh masuk terlalu jauh ke dalam rumah. Hari itu hanya karena Simbok Darmi sedang pulang lebih awal. Aku mengangguk saat Ibu menyuruhku menggantikannya.

"Cepat keluar setelah meletakkan teh," pesannya. "Jangan melihat ke mana-mana."

Aku mengiyakan. Namun rasa ingin tahu sering kali lebih cepat daripada langkah kaki. Saat melewati lorong, aku mendengar suara seseorang menangis. Pelan sekali. Hampir tenggelam oleh suara angin. Aku berhenti. Suara itu datang dari balik pintu yang tertutup rapat. Aku menahan napas. Tangis itu terdengar seperti orang yang berusaha agar tidak didengar.

Belum sempat aku mendekat, terdengar suara laki-laki dari dalam ruangan. Suaranya rendah. Dingin. Aku tidak bisa menangkap semua kata-katanya. Hanya beberapa potong kalimat yang sampai ke telingaku.

 "Jangan membantah."

"Ini demi keluarga."

"Kamu perempuan."

Setelah itu, semuanya kembali sunyi. Sunyi yang lebih menakutkan daripada bentakan.

Aku buru-buru berjalan lagi. Jantungku berdetak terlalu keras. Tanganku gemetar saat meletakkan teh di meja ruang tengah. Ndara Kakung sedang membaca koran. Ia tidak menoleh. Hanya mengangguk pelan. Aku langsung membalikkan badan. Semakin cepat keluar dari rumah itu, semakin lega rasanya.

Lihat selengkapnya