Musim kemarau datang pelan-pelan. Rumput di halaman mulai menguning. Sumur di belakang rumah tidak lagi seperti bulan lalu. Ibu harus menimba lebih dalam agar ember terisi. Tangannya memerah karena tali yang terus bergesekan dengan kulit. Namun, tak sekali pun ia mengeluh. Seolah lelah adalah pakaian yang sudah lama melekat pada tubuhnya.
Pagi itu rumah menjadi lebih ramai dari biasanya. Beberapa perempuan datang membawa kain batik dan kotak-kotak berisi perhiasan. Mereka berkumpul di ruang tengah bersama Simbah dan Nyai. Dari dapur, aku mendengar mereka membicarakan perjodohan Ndara Putri. Nama seorang lelaki terus disebut berulang kali. Katanya ia berasal dari keluarga terpandang. Sawahnya luas. Gelarnya panjang. Tak seorang pun bertanya apakah Ndara Putri menyukainya.
Aku membawa nampan berisi teh ke ruang tengah. Begitu masuk, pembicaraan mendadak berhenti. Semua mata beralih kepadaku. Aku meletakkan cangkir satu per satu tanpa mengangkat kepala. Saat hendak keluar, suara Simbah menahanku.
"Ratri."
Aku berhenti.
"Kamu sudah berapa umur?"
"Sepuluh tahun, Mbah."
"Sebentar lagi besar."
Aku mengangguk pelan.
"Ingat. Perempuan harus tahu tempatnya."
Aku tidak menjawab. Kalimat itu menggantung di udara. Baru setelah Ibu menarik lenganku dari luar ruangan, aku kembali berjalan.
Di dapur, aku masih memikirkan ucapan Simbah. Tempat yang bagaimana? Bukankah setiap orang boleh berdiri di mana saja selama tidak mengganggu orang lain? Aku ingin bertanya kepada Ibu. Namun wajahnya sedang sibuk menumbuk bumbu. Lesung dan alu saling beradu. Suaranya keras. Lebih keras daripada biasanya.
Menjelang sore, Sekar datang membawa buku tulis. Ia mengajakku belajar di bawah pohon sawo kecik. Kami duduk beralaskan tikar. Angin bertiup pelan. Daun-daun kering berjatuhan di sekitar kami. Aku menikmati sore itu. Rasanya seperti memiliki teman yang lupa bahwa kami berasal dari dunia yang berbeda.
"Aku ingin jadi dokter," kata Sekar tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Biar bisa mengobati orang."