Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #7

Nama Baik

Pagi itu langit menggantung kelabu. Awan bergerak lambat di atas atap Joglo. Bau tanah basah memenuhi halaman meski hujan belum turun. Aku menyapu daun-daun mangga yang semalam berguguran. Belum selesai satu sudut, angin datang lagi. Daun-daun itu kembali berserakan. Rasanya seperti membersihkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ingin bersih.

Rumah sedang bersiap menerima tamu penting. Ibu dan Simbok Darmi memasak sejak sebelum matahari terbit. Nyai memeriksa ruang makan berkali-kali. Simbah berjalan mondar-mandir sambil membawa tasbih di tangan. Bahkan Mas Bimo diminta mengenakan beskap lengkap. Semua orang tampak sibuk menjaga satu hal yang terus diucapkan sejak pagi.

Nama baik keluarga. Aku baru sadar, di rumah ini nama baik terdengar lebih sering daripada kata bahagia. Seolah kehormatan harus selalu didahulukan, meski ada hati yang terluka. Tak seorang pun mempertanyakannya. Semua menganggapnya biasa. Semua percaya bahwa nama baik adalah sesuatu yang harus diselamatkan, apa pun harganya.

Menjelang siang, rombongan tamu datang. Mereka berbicara tentang sawah, jabatan, dan silsilah keluarga. Tawa mereka memenuhi pendapa. Dari dapur, aku mengantar teh bersama Ibu. Saat kembali, kulihat Ndara Putri berdiri di balik pintu. Wajahnya dirias rapi. Kebayanya indah. Namun matanya tampak seperti langit pagi itu. Kelabu dan menahan hujan.

"Ndara cantik sekali," kataku pelan.

Ia tersenyum tipis.

"Katanya, perempuan harus cantik saat dipilih."

Aku mengernyit.

"Memangnya Ndara mau ke mana?"

"Bukan ke mana."

Ia menatap halaman cukup lama. "Hanya sedang menunggu orang lain menentukan hidupku."

Lihat selengkapnya