Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #8

Tatapan yang Terlalu Lama

Hujan turun hampir setiap sore. Halaman depan berubah menjadi tanah lembek. Daun-daun sawo kecik menempel di batu jalan. Aku menyapunya berkali-kali, tetapi angin selalu membawa daun baru. Rumah itu seperti tak pernah benar-benar bersih. Selalu ada yang kembali. Selalu ada yang tertinggal. Barangkali begitulah cara sebuah rumah menyimpan masa lalu.

Pagi itu aku diminta membersihkan ruang baca. Ruangan itu jarang dibuka. Rak-raknya tinggi. Buku-buku tua berjejer rapi dengan sampul kulit yang mulai retak. Bau kertas bercampur kayu memenuhi udara. Aku menyukai ruangan itu. Di sana, tak ada orang yang menyuruhku menunduk. Hanya ada buku-buku yang diam, seolah menunggu untuk dibaca.

Aku sedang mengelap meja ketika sebuah foto terjatuh dari sela buku. Bingkainya sudah kusam. Gambarnya hitam putih. Seorang laki-laki muda berdiri mengenakan beskap. Di sampingnya ada perempuan berkebaya dengan senyum yang nyaris tak terlihat. Di belakang mereka berdiri beberapa abdi rumah. Wajah mereka buram dimakan usia.

Aku memungut foto itu perlahan. Entah kenapa, mataku berhenti pada seorang perempuan muda di barisan belakang. Wajahnya tidak begitu jelas. Namun bentuk matanya terasa akrab. Seolah aku pernah melihat mata itu setiap hari. Aku mendekatkan foto ke wajahku. Baru saja hendak mengusap debunya, suara langkah kaki terdengar dari belakang.

"Apa yang kamu pegang?"

Aku terkejut. Ndara Kakung berdiri di ambang pintu. Aku buru-buru menunduk.

"Maaf, Ndara. Bingkainya jatuh."

Beliau berjalan mendekat. Tangannya mengambil foto itu tanpa tergesa. Pandangannya berhenti cukup lama pada gambar yang sama. Lama sekali. Sampai-sampai aku berani mengangkat mata sedikit. Untuk sesaat, wajahnya berubah. Bukan marah. Bukan juga sedih. Lebih mirip seseorang yang baru saja bertemu kenangan yang ingin dilupakannya.

"Simpan lagi," katanya pelan.

"Nggih."

Aku mengembalikan foto itu ke tempat semula. Tanganku sedikit gemetar. Saat hendak keluar, aku merasakan tatapannya kembali jatuh kepadaku. Sama seperti beberapa hari lalu. Sama panjangnya. Sama sulit kupahami.

"Namamu Ratri, kan?"

Aku mengangguk.

"Iya, Ndara."

Beliau membuka mulut seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun tak ada kata yang keluar. Setelah beberapa saat, beliau hanya menghela napas.

Lihat selengkapnya