Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #9

Suara yang Tidak Didengar

Sejak mendengar tangis dari balik pintu beberapa hari lalu, rumah itu terasa berbeda di mataku. Pendapanya masih berdiri gagah. Halamannya tetap bersih. Burung-burung masih datang setiap pagi. Namun setiap kali angin berembus melewati lorong rumah utama, aku merasa ada suara yang ikut terbawa. Suara itu pelan. Hampir tak terdengar. Meski begitu, ia selalu berhasil membuatku berhenti melangkah.

Pagi itu Ibu mengajakku ke pasar. Kami membawa keranjang anyaman yang sudah mulai usang. Jalanan masih basah oleh hujan semalam. Pedagang mulai membuka lapak. Bau bunga melati bercampur dengan aroma ikan segar dan bumbu dapur. Aku senang ke pasar. Di sana orang-orang berbicara keras. Mereka tertawa tanpa takut dimarahi. Tidak seperti di rumah besar itu, yang bahkan suara sendok jatuh bisa membuat semua orang menoleh.

Saat kami hendak pulang, dua perempuan paruh baya sedang berbincang di dekat penjual sayur. Mereka tidak tahu aku mendengarnya. Salah seorang berbisik pelan, tetapi cukup jelas sampai ke telingaku.

"Kasihan anaknya."

"Yang mana?"

"Anak Mbok Wiryo."

"Oh... yang dipulangkan itu?"

Perempuan satunya mengangguk. "Katanya sering dipanggil majikannya malam-malam."

Aku berhenti melangkah. Ibu langsung menggenggam tanganku lebih erat. Langkahnya dipercepat. Aku harus setengah berlari agar bisa mengimbanginya. Baru setelah kami cukup jauh, aku memberanikan diri bertanya.

"Bu, dipanggil malam itu maksudnya apa?"

Ibu tidak menjawab.

"Bu?"

"Kita pulang."

"Itu kenapa?"

Langkah Ibu semakin cepat. Keranjang belanja di tangannya bergoyang. Beberapa cabai merah jatuh ke jalan. Ia tidak memungutnya. Bahkan tidak menoleh. Aku belum pernah melihat Ibu setakut itu.

Sesampainya di rumah, Ibu langsung masuk ke dapur. Ia mencuci sayuran dengan tangan yang gemetar. Air dari keran mengalir deras. Entah untuk membersihkan lumpur atau menutupi kegelisahannya. Aku berdiri di sampingnya cukup lama. Menunggu. Namun ia tetap memilih diam.

Lihat selengkapnya