Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #10

Menolong yang Menangis

Rumah itu selalu kembali tenang setelah malam turun. Lampu-lampu dimatikan satu demi satu. Pendapa menjadi gelap. Hanya lampu minyak di dapur yang masih menyala sampai Ibu selesai mencuci piring. Dari gandhok, rumah utama tampak seperti gunung besar yang sedang tidur. Diam. Kokoh. Sulit ditebak apa yang sedang disembunyikannya.

Aku belum bisa tidur malam itu. Kata-kata perempuan di pasar masih berputar di kepalaku. Begitu juga surat Ndara Putri yang harus dibakar. Rasanya rumah itu semakin pandai menyimpan rahasia. Dan setiap rahasia selalu dibayar dengan air mata seseorang.

Saat hendak memejamkan mata, aku kembali mendengar suara itu. Tangis. Pelan. Datangnya dari arah rumah utama. Aku duduk. Kupikir hanya perasaanku. Namun beberapa detik kemudian, suara itu terdengar lagi. Pendek. Tertahan. Seperti seseorang yang sedang menangis sambil menggigit bibirnya sendiri agar tidak ketahuan.

Aku teringat pesan Ibu: Kalau mendengar orang menangis, teruslah berjalan. Malam itu aku tidak menurut.

Aku membuka pintu gandhok perlahan. Udara dingin langsung menyentuh wajahku. Halaman gelap. Bulan tertutup awan. Aku berjalan tanpa alas kaki agar langkahku tidak bersuara. Semakin dekat ke rumah utama, tangis itu terdengar semakin jelas. Tangis itu berasal dari gudang kecil di belakang dapur. Pintunya tidak terkunci. Aku mendorongnya pelan.

Di sudut ruangan, seorang perempuan muda duduk memeluk lutut. Bajunya kusut. Rambutnya berantakan. Wajahnya penuh bekas air mata. Ia adalah Sri, pembantu baru yang belum genap sebulan bekerja di rumah itu.

"Sri, kenapa?"

Ia tersentak. Begitu melihatku, ia buru-buru menghapus air matanya.

"Tidak apa-apa."

"Kamu menangis."

Ia menggeleng.

"Aku hanya kangen rumah."

Jawaban itu terdengar seperti jawaban yang dipinjam dari orang lain. Terlalu cepat. Terlalu rapi. Aku duduk di sampingnya.

"Ibu bilang, kalau menangis harus dikeluarkan."

Sri tertawa pelan. Tawa yang lebih mirip isak.

"Kalau semua tangis dikeluarkan, rumah ini kebanjiran."

Lihat selengkapnya