Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #11

Orang yang Hilang

Rumah itu bangun seperti biasa. Dapur kembali dipenuhi suara ulekan. Air mendidih di atas tungku. Ayam-ayam mencari makan di halaman belakang. Dari pendapa terdengar suara gamelan yang diputar pelan. Semua tampak sama. Terlalu sama. Seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Seolah tidak ada perempuan yang menangis di gudang belakang.

Aku mencari Sri sejak selesai menyapu halaman. Biasanya ia sudah membantu Simbok Darmi membersihkan dapur. Hari itu tempatnya kosong. Ember yang biasa dipakainya masih tergeletak di dekat sumur. Sandalnya masih berada di bawah bangku kayu. Hanya orangnya yang tidak ada. Aku mengira ia sedang sakit. Atau mungkin pulang sebentar ke rumahnya.

"Simbok, Sri mana?"

Simbok Darmi berhenti memotong sayur. Hanya sebentar. Setelah itu tangannya kembali bergerak seperti semula.

"Sudah pulang."

"Pulang ke mana?"

"Rumahnya."

"Kapan?"

"Tadi subuh."

Jawaban itu terlalu pendek. Terlalu cepat. Aku menoleh kepada Ibu. Ia sedang membersihkan ikan di sudut dapur. Kepalanya tetap menunduk. Seolah tidak mendengar pertanyaanku.

"Tapi kemarin malam..."

"Ratri."

Suara Ibu memotong ucapanku.

"Bantu cuci beras."

Aku terdiam. Aku tahu itu bukan perintah. Itu cara Ibu menyuruhku berhenti.

***

Siang harinya, aku melewati gudang tempat Sri menangis semalam. Pintunya terbuka. Ruangan itu sudah kosong. Tikar yang dipakainya menghilang. Selimut lusuhnya juga tidak ada. Bahkan cangkirnya ikut lenyap. Ruangan itu tampak seperti belum pernah dihuni siapa pun.

Aku berdiri cukup lama di ambang pintu. Rumah ini aneh. Ia bukan hanya pandai menyimpan rahasia. Ia juga pandai menghapus jejak.

Lihat selengkapnya