Anak Gandhok

Erna Surya
Chapter #12

Kotak Kayu

Hujan berhenti menjelang pagi. Udara masih dipenuhi bau tanah basah. Air menetes dari ujung genting ke halaman. Burung-burung mulai kembali bersuara. Rumah besar itu tampak lebih segar setelah semalaman diguyur hujan. Hanya saja, aku tahu tidak semua yang basah akan menjadi bersih. Ada noda yang justru semakin jelas setelah terkena air.

Sejak Sri menghilang, dapur terasa lengang. Simbok Darmi bekerja sendirian. Ibu membantu lebih banyak daripada biasanya. Tidak ada yang menyebut nama Sri lagi. Seolah perempuan itu memang tidak pernah datang. Bahkan cangkir yang biasa dipakainya sudah berganti dengan yang lain. Rumah ini benar-benar pandai menghapus jejak.

Aku sedang menyapu lorong belakang ketika melihat Ibu keluar dari ruang penyimpanan. Di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil. Warnanya cokelat tua. Sudut-sudutnya mulai aus. Kotak itu dipeluk erat ke dada, seolah lebih berharga daripada perhiasan. Begitu melihatku, langkah Ibu mendadak terhenti.

"Sedang apa di sini?" tanyanya.

"Menyapu."

Ia mengangguk singkat.

"Lanjutkan."

Aku memperhatikan kotak itu sampai Ibu menghilang ke arah gandhok. Baru kali itu aku melihatnya membawa benda yang belum pernah kulihat sebelumnya. Entah kenapa, kotak kecil itu terasa lebih berat daripada ukurannya.

Siang harinya, saat Ibu sedang menjemur pakaian, rasa penasaranku mengalahkan rasa takut. Aku masuk ke gandhok pelan-pelan. Kotak itu tidak ada di atas lemari. Tidak juga di bawah dipan. Aku mencarinya ke setiap sudut. Nihil. Seolah benda itu lenyap begitu saja.

"Ratri."

Aku tersentak. Ibu berdiri di depan pintu. Wajahnya tidak marah. Namun matanya membuatku menunduk.

"Kamu mencari apa?"

Aku menggigit bibir.

"Tidak apa-apa."

"Kamu mencari kotak itu?"

Lihat selengkapnya