Sejak pintu ruang penyimpanan dikunci di depan mataku, rumah itu terasa semakin asing. Lorong-lorongnya masih sama. Pendapanya masih dipel setiap pagi. Aroma melati masih menguar menjelang senja. Namun setiap sudut seolah sedang mengawasiku. Aku mulai merasa rumah itu memiliki mata.
Aku berusaha melupakan map bertuliskan nama Ibu. Namun semakin ingin kulupakan, bayangannya justru semakin jelas. Mengapa nama seorang pembantu disimpan bersama surat tanah dan dokumen keluarga? Pertanyaan itu menempel di kepalaku seperti debu pada kaca. Sulit dibersihkan.
Pagi itu, Ibu memintaku mengupas bawang.
"Jangan ke rumah utama dulu," katanya.
"Kenapa?"
"Banyak tamu."
Aku mengangguk. Meski begitu, mataku tetap sesekali mengarah ke pendapa. Beberapa lelaki tua duduk melingkar bersama Ndara Kakung. Di hadapan mereka terbentang silsilah keluarga yang digambar di atas kertas besar. Nama demi nama ditulis rapi. Garis-garis hitam menghubungkan ayah, ibu, anak, dan cucu.
Aku memperhatikan dari kejauhan. Ada sesuatu yang mengusikku. Semua nama ditulis. Kecuali nama orang-orang yang bekerja menjaga rumah itu. Seolah mereka ikut hidup di sana, tetapi tidak pernah benar-benar dianggap ada.
Siang harinya, aku membantu Nyai menata kamar tamu. Saat sedang mengganti seprai, tanpa sengaja aku mendengar percakapan dari ruang sebelah.
"...anak itu semakin besar."
Suara seorang laki-laki.
"Aku tahu."
Suara Ndara Kakung.
"Kalau nanti ada yang mulai bertanya?"
"Tidak akan."
"Bagaimana kalau Lasmi tidak sanggup lagi diam?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Jantungku berdetak lebih cepat. Mereka sedang membicarakan siapa? Aku melangkah mendekat. Belum sempat kudengar jawaban berikutnya, tangan seseorang menarik lenganku.
Ibu.
Entah sejak kapan ia berdiri di belakangku.
"Ganti seprainya sudah selesai?"